My Stupid Boyfriend Bagian 16

“Hai!” Aku menyapa mereka. Agak kagok. “Mau bareng ke Rumah Cindi?”
Mereka menggeleng. “Enggak mungkin bareng kamu,” jawab Cinta.
“Nah?”
“Kami mau bertransaksi sama kamu,” kata Laura.
“Maksudnya?” Tanyaku.
“Kamu masih mau gabung dengan kupu-kupu beracun dari bukit utara, kan?” Tanya Cinta.
“Ya. Aku, Kan enggak bersalah.”
“Buktinya berkata lain. Kemungkinan Besar kamu Akan dikeluarkan. Kecuali kami berdua tetap berusaha mempertahankanmu,” sahut Laura.
“Jadi?”
“Kami Akan mempertahankanmu, dengan syarat…” Cinta menggantung kalimatnya.
Aku menunggu. Apa ya kira-kira? Enggak pake beha ke sekolah selama seminggu? Hm, gampang, aku bisa pake sweater.
“Mulai besok kami gabung dengan ekskul paduan suara sekolah,” lanjut Laura
Hah? Kenapa enggak disuruh gabung sama ekskul supermodel yang lebih cocok sama aku?
“Kenapa?” Tanyaku.
“Pertama, suara kamu lumayan merdu dibandingkan suara tukang minyak. Kedua, kami sudah berusaha mencari tambahan anggota paduan suara, tapi enggak Ada yang mau. Ketiga, saat ini anggota ekskul paduan suara hanya sebelas orang. Keempat, Kepala sekolah ingin tahun ini ekskul paduan suara menang lomba tahunan, sebab kalau tidak, Akan dihanguskan dengan alasab satu-satunya ekskul yang enggak pernah berprestasi. Kelima, lomba tahunan Paduan suara memberikan syarat minimal Satu Tim harus punya Dua belas anggota,” jelas Cinta Dan Laura bergantian.
Aku masih bingung mau bilang apa.
“Sebentar lagi Kita harus meeting?” Cinta mengingatkanku yang masih bingung kayak Putri cantik jelita yang disuruh milih pangeran.
“Oke, aku mau gabung dengan ekskul.”
“Janji?” Tagih Cinta Dan Laura.
“Iya.”
Sejam kemudian, aku sudah berada di tengah rapat dalam keadaan santai kayak tukang petai.
Sebelum rapat, kami memakai kostum khusus rapat. Baju pendekar silat tiongkok seperti di film-film Mandarin. Dulu, mulanya kuanggap ini konyol. Lama-kelamaan aku terbiasa juga. Dalam rapat, kami enggak boleh pake nama asli, melainkan nama julukan pendekar.
Sisi adalah pendekar sari bengkoang karena hobinya pake masker bengkoang. Cindi adalah pendekar cingcae karena paling geli kalau ngelihat cingcaw. Cinta afalag pendekar merak, tapi bukan karena dianggap secantik burung merak lho (karena neneknya tinggal di daerah pelabuhan merak), sedangkan Laura adalah pendekar murai (alias mudah berurai air matanya kalau lagi sedih). Aku sendiri adalah pendekar brokoli karena kata teman-teman bulu ketekku lebat.
Rapat seperti biasa diawali dengan ngemil bareng kuaci item yang susahnya minta ampun dibukanya. Begitu kuaci abis Dan bibir kami semua dower, barulah rapat dimulai.
“Rapat Kali ini Akan membahas masalah pendekar brokoli yang telah melanggar Tata tertib anggota pasal 12, yakni pacaran tanpa seizin seluruh anggota geng,” buka Sisi.
Aku sebenarnya enggak terima. Aku Kan enggak pacaran sama Iyan. Oke deh, aku memang pacaran sama Iyan Demi janji kakeknya. Tapi bukan karena aku suka sama Iyan.
“Karena pelanggaran ini, Kita Akan voting. Apakah pendekar brokoli harus dikeluarkan atau tidak dari geng ini?” Lanjut Sisi.
“Silahkan dimulai dari pendekar murai.”
“Menurutku, pendekar brokoli harus dipertanggung jadi anggota. Pelanggaran yang dilakukan ya belum terbukti kebenarannya. Cuman sering jalan bareng. Itu wajar karena mereka tetangganya,” kata Laura membuatku Lega.
“Silahkan pendekar Merak.”
“Pendekar brokoli adalah manusia, Dan manusia bisa Saja khilaf. Maka, ampuni Saja dia,” kata Cinta membuatku tambah Lega.
“Silahkan pendekar cingcaw._
“Ng… Aku juga mengharapkan pendekar brokoli dimaafkan,” kata Cindi.
Kami semua terkejut. Apalagi Sisi. “Maksud pendekar cingcae?” Tanya Sisi.
“Sekalian Saja, aku ingin membuat pengakuan. Sebenarnya, tanpa persetujuan Kalian.. aku juga pacaran sama Arga…”
Hah? Ini mengagetkan. Lebih kaget ketimbang mendengar sale 75% di senayan city.
“Kalau pendekar brokoli dikeluarkan, berarti aku juga harus keluar,” sambung Cindi.
Sisi yang sempat berdiri, kaget, langsung duduk lemas. “Sudah tiga suara yang mempertahankanmu. Artinya, suaraku enggak Akan ngaruh sama sekali,” katanya kemudian.
Aku benar-benar Lega. Sambil menggenggam telapak tanganku sendiri, aku berteriak kasih. “Terima kasih…!”
Semua mengangguk, namun dalam hitungan detik semua kemudian menatap ke arah Cindi. Tanpa diminta, Cindi nyeritain tentang pacaran sirinya dengan Arga.
Dimulai ketika hujan sore-sore, kilat sambar sana-sini. Mobil yang dibawa Cindi mogok ditengah jalan.
“Coba Ada yang datang nolong. Kalau cowok cakep Akan kujadikan pacar. Kalau jelek, aku Akan pacarin temennya yang cakep,” ucap Cindi.
Semenit kemudian, seorang cowok yang Naik motor basah-basahan. Berhenti di depan Mobil, lalu mengetuk kaca jendela. Cowok Itu adalah Arga. Dia membantu Cindi. Bukan membantu ngedorong Mobil atau benerin Mobil yang mogok. Dia ngebantu nelepon bengkel panggil darurat yang enggak kepikir sama Cindi. Mobil Itu diderek ke bengkel. Cindi diboncengnya Arga ujan-ujanan ke rumahnya.
Mungkin karena melihat Arga diantara hujan deras Dan sambaran petir, Cindi jadi melihatnya cakep banget. Maka, Cindi pasrah Aja ketika sehari kemudian Arga ngajak pacaran.
“Tapi pacarannya jangan sampai ketahuan teman-temanku ya,” syarat Cindi.
Arga setuju. Mereka pacaran di Luar sekolah. Dunia Kan luas.
Aku takjub mendengar cerita yang mirip film India karena pake ujan-ujanan segala. Sebenarnya aku pengen Tanya, apakah di sana Ada tiang listrik atau tiang jemuran buat puter-puterin atau enggak. Tapi kayaknya enggak penting juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *