My Stupid Boyfriend Bagian 2

Ya, aku harus mutusin Iyan. Yang penting, aku kan udah nepatin janjiku di Facebook.
“Karin…!”
Aku menoleh. Iyan mendekatiku dengan senyumnya yang khas. Sebenarnya dia enggak jelek, sih. Buktinya, dia diterima jadi warga kompleks Rumah aku. Bu RT, kan, bakal ngusir warganya yang mukanya jelek.
“Pulang bareng, yuk!” Ajaknya.
Aku melihat di kejauhan. Cindi ngasih kepalan tangan. Maksudnya, aku harus segera ngobrol sama Iyan Dan mutusin dia. Titik. Enggak pake bumbu apa-apa lagi.
“Boleh,” aku mengiyakan. Aku berharap, tidak sampai sepuluh menit lagi aku bisa memutuskan hubungan dengan Iyan.
Kami berjalan ke Luar pagar. Lalu, Iyan Menunjuk sebuah Mobil jaguar yang terparkir di depan halaman. “Tuh, Opah aku ngejemput. Aku udah bilang sama Opah, kalau aku udah punya cewek sekarang. Opah enggak percaya, makanya sekarang ngejemput,” kata Iyan.
Hah? Kok aku enggak pernah tahu, sih, kalau opahnya Iyan punya jaguar. Bahkan aku enggak tahu kalau Iyan punya Opah. Ah, dasar aku Aja yang enggak pernah merhatiin tetangga sebelah Rumah.
Seorang lelaki yang sudah memutih rambutnya keluar dari jaguar Itu. Sangat perlente.
“Opah, kenalkan, ini Karin yang Iyan ceritain.”
Aku menyalami Opah. Tangannya hangat.
“Masuklah,” pinta Opah sambil membukakan pintu untukku.
Aku masuk. Menyusul Opah. Yang aku kaget, Iyan ditinggal begitu saja dipinggir jalan. Bahkan, aku mengira bakal diculik saat si supir menjalankan jaguar dengan kecepatan penuh. Ya ampun, kalau aku diculik, mudah-mudahan disekapnya jangan di gudang atau kamar mayat. Kalau boleh milih, di kamarnya Robert Pattinson Aja.
“Karin, Opah ini punya penyakit jantung. Saat ini Opah merasa sehat benar, soalnya cucu Opah akhirnya punya pacar. Akhirnya, Ada juga keturunan kami yang lepas dari kutukan Menjadi jomblo sampai umur 30 tahun. Karena Opah merasa senang, Opah janji… Kalau kamu mau bertahan sama Iyan sampai sebulan Saja… Opah janji Akan ngajak kami Dan Iyan keliling Eropa…”
Hah, keliling Eropa? Aku mesti ngejawab apa, ya?
a. Mengangguk sambil ngebersihin jidat Opah.
b. Geleng-geleng Kepala sambil berharap dipaksa sama Opah.
c. Angkat bahu lalu dilempar di jalan tol.
d. Bangun dari tidur.
“Gimana, Karin? Sanggup?”
“Sanggup.”
Hah! Nekat banget, ya, aku langsung ngejawab tanpa konsultasi dulu sama teman geng, Mama, juga ke Ki Joko Ogleg.
“Bagus kalau sanggup.” Opah terkekeh kayak bocah tua nakal di cerita silat Sin Tiaw Hiap Lu.
Duhai, teman-teman kupu-kupu beracun dari bukit utara, maafkan aku yang lebih mentingin keliling Eropa ketimbang Kalian. Hari gini susah banget nyari gratisan keliling Eropa. Semoga Kalian memaafkan aku…

Aku enggak nyangka Ada yang lebih heboh ketimbang tsunami. Ya, namanya nge-date. Sebagai cewek baik-baik, berhati mulia, tidak parkir sembarangan… Dan hanya mau pakai sepatu seharga di atas Satu juta perak, aku ternyata panik menghadapi kencan Pertama dengan Iyan.
“Kamu mau ke Mana, sih?’ Tanya Mamih yanh lagi asyik pake masker bengkoang Bangkok. Konon, masker Itu bisa bikin kulit kinclong kayak marmer. Aku sih, ragu bakal berkhasiat sama Mamih. Abis, makenya enggak kira-kira, kayak orang ngedempul Candi. Kalau muka Mamih nanti enggak retak-retak, aku mesti bersyukur.
“Makan. Diajak Iyan,” jawabku tanpa menjelaskan dengan detail kalau aku diajak kencan malam mingguan.
“Jangan lupa berdoa sebelum berangkat.”
“Udah, Mih.”
“Berdoanya diulang sepuluh Kali. Soalnya, perginya sama Iyan.”
Ting ting!
Aku membuka pintu.
Kupikir Iyan, enggak taunya Bu RT.
“Eh, Bu RT… Mari masuk. Mau nagih iuran warga, ya?” Tanyaku curiga karena Bu RT bawa-bawa map.
“Enggak. Ibu mau ngasih formulir buat semua warga. Tolong ditandatangani langsung sama seisi Rumah yang Ada.”
“Formulir apaan, Bu? Bu RT bukannya udah kadaluwarsa ikutan Putri Indonesia? Nanti Aja kalau Ada Putri Menopause Indonesia, Bu.”
“Ibu enggak suka kontes-kontesan. Ini formulir tanda tangan untuk menghimpun 1.000 perempuan mendukung Bu RT jadi Bu RW tahun depan.”
“Ah, enggak usah deh, Bu RT. Nanti ribet lagi, manggilnya.udah sepuluh tahun kebiasaan manggil Bu RT. Belum lagi nanti Bu RT mesti nyiapin Dana kampanye, terus biaya ganti nama, juga tumpengan.”
Bu RT garuk-garuk bulu ketek, pertanda bingung. Najol, deh, nih pejabat. Kalau bingung, kan harusnya garuk Kepala atau bulu kuduk.
“Kalau begitu, Ibu pikir-pikir dulu, deh.” Bu RT langsung balik kagak jelas.
Aku kembali mematut diri di cermin. Rasanya Ada yang enggak beres dengan dandananku. Masa untuk kencan dengan Iyan aku harus pakai kostum Putri Salju. Nanti kalau di tengah jalan ketemu orang cebol, aku mesti ngajak mereka kencan juga, dong. TIDAK! Dengan ekspress, aku segera mengganti pakaianku dengan yang lebih santai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *