My Stupid Boyfriend Bagian 20

Senin pagi aku bangun agak kesiangan. Badanku pegal-pegal karena kecapean bantuin Mamih masak kemarin. Selama ini aku enggak pernah masak, jadi baru tahu gimana capeknya masak. Bisa juga karena sebelumnya jumpalitan di ruang latihan paduan suara.
Di ruang tengah Mamih kelihatan ceria. Pasti karena bayaran yang diterima dari bosnya Papih.
“Mamih may Tanya nih. Kamu pacaran dengan Iyan enggak sih?” Tanya Mamih saat aku hendak sarapan.
“Hah? Mamih kok nanya begitu?”
“Kalau Iyan pacaran sama kamu, Mamih jadi enak ngajak bisnis buka usaha katering nih.”
“Itu namanya memperalat, Mih.”
“Kalau pacar Kan enggak apa-apa. Memang kenapa sih enggak mau pacaran sama Iyan?”
“Mamih!” Aku mendelik pura-pura marah. Mamih terdiam. Aku buru-buru menghabiskan sarapanku sebelum Mamih tanya-tanya lagi.
Semalam menjelang tidur, aku sempat bertanya-tanya juga dalam hati, perlukah status pacar bohongan ini aku akhiri? Aku jadi enggak adil memperlakukan Iyan. Aku bersedia jadi pacarnya karena iming-iming opanya semata. Bukan dilandasi cinta. Sementara aku tahu, Iyan sungguh-sungguh mencintaiku.
Tidit!
Suara klakson Mobil berbunyi ketika aku melangkah keluar pagar. Iyan melambaikan tangannya, meminta aku ikut dengannya. Aku pun melangkah mendekatinya, lalu naik ke mobil. Kali ini di sampingnya.
“Duh, kok enggak di belakang? Nanti ketahuan teman-teman lho,” Tanya Iyan.
“Enggak apa-apa. Udah tahu semua, kok.”
“Oh ya? Jadi mereka tahu Kita pacaran?”
“Bukan Itu. Teman-teman tahu aku pura-pura pacaran sama kamu Demi iming-iming opamu Itu.”
Iyan tersenyum. Dia menjalankan Mobil.
“Dan ini enggak adil buat kamu,” lanjutku. “Aku ingin menghentikan semua ini. Mulai besok Kita enggak usah pura-pura lagi. Enggak perlu bareng juga.”
“Nanti hadiah keliling Eropa nya batal?” Tanya Iyan.
“Biarin Aja. Opa kami Kan mengharapkan kamu dapat pacar sungguhan. Bukan bohongan kayak aku.”
“Padahal aku enggak masalah kok walaupun kamu cuma pura-pura,” sela Iyan.
“Enggak, Yan. Justru karena kami begitu, aku jadi enggak enak sama kamu. Kamu terlalu baik, Dan aku jahat banget sama kamu. Mendingan kamu Cari cewek lain Aja yang kamu cintai Dan mencintai kamu enggak pake pura-pura. Oh iya, jangan pacarin teman gengku. Aku yakin mereka juga Akan berpura-pura mencintaimu.”
Tidak Ada kalimat lagi dari Iyan. Mungkin dia marah. Mungkin dia tiba-tiba sariawan. Biarlah. Tapi aku udah Lega bisa mengungkapkan ini semua. Rasanya mungkin sama seperti ketika Mamih berhasil melunasi cicilan pancinya.
“Aku juga ingin ketemu Opah kamu. Aku harus ngomong soal ini,” tambahku.
“Opah lagi menengok peternakan lelenya di Afrika.”
“Paling enggak, bicara lewat telepon.”
“Opah enggak pernah bawa BB-nya kalau ke Luar negeri.”
“Pokoknya, kamu usahain gimana kek. Aku enggak mau ngomong sama kamu sebelum ngomong sama Opah!” Kataku berusaha tenang.
Begitu di parkiran sekolah, aku langsung turun tanpa menunggu Iyan. Aku langsung menuju teman-temanku yang sudah datang duluan.
“Aku sudah putus sama Iyan. Putus dari pacaran bohongan. Aku enggak mau nerusin permainan konyol itu,” kabarku. Mereka semua kaget.
“Bagaimana kalau dia marah, terus enggak mau latihan paduan suara lagi?” Tanya Cinta Dan Laura.
“Itu Kan hak dia. Ya, Kalian rayu Saja kalau dia enggak mau latihan,” kataku.
“Kita lihat Saja nanti siang. Kayaknya Iyan bukan tipe orang yang gampang marah begitu,” kata Sisi. Aku mengangguk. Begitulah yang juga kutahu.
begitu pelajaran dimulai, aku berusaha serius. Tapi di pelajaran Bu Roro Itu aku malah ingat Iyan lagi. Iyan yang tiba-tiba aku gambar Itu. Padahal biasanya aku gambar Patrick Dan SpongeBob Dan ikan lele.
Di pelajaran lain, aku juga inget Iyan. Ya ampun! Ada apa denganku?
Pulang sekolah, aku malah yang gemetaran enggak karuan ketika diajak teman-teman geng-ku ke ruang latihan paduan suara.
“Hari ini aku enggak latihan dulu ya,” pintaku memelas saat menghadap Cinta Dan Laura.
“Enggak bisa. Kamu Kan enggak punya kegiatan apa-apa selain sekolah. Enggak kursus apa pun!” Malah Sisi Dan Cindi yang ngotot. Aku enggak bisa berkelit. Mereka yang kursus Dan Les ini Itu Aja semangat latihan paduan suara.
Begitu melihat Iyan yang sedang latihan dengan anggota lainnya di ruang latihan, aku jadi salah tingkah. Terus terang, aku enggak mau lagi dekat-dekat dia. Bukan karena benci. Tapi aku merasa Ada yang enggak beres setiap Kali melihat matanya, bersentuhan dengannya. Oh, apakah ini saatnya aku krembat pake sari buah mengkudu?
Sepertinya Iyan bisa merasakan Hal yang kurasakan. Dia juga tidak berusaha mendekati atau berbicara padaku. Tapi ujung-ujungnya, malah aku yang gerah mendadak setiap Kali dia bicara manis dengan Lia dan Joni. Duh, Ada apa ini? Please, help me!
“Oke, latihan Kali ini cukup Satu jam dulu. Yang penting menjelang lomba minggu ini, Kita terus latihan rutin,” kata Mas Dimas saat menutup latihan.
Aku merasa Lega. Mas Dimas kemudian mendekatiku. “Kayaknya Hari ini konsentrasimu payah banget, Rin. Ada yang mengganggu?”
Aku menggeleng. “Ng… Cuma keingetan tadi waktu istirahat salah bayar. Harusnya tadi bayar tiga gelas cendol, cuma ngakunya Dua gelas. Sekarang jadi kepikiran terus,” aku berbohong.
“Okelah, dibereskan. Besok latihannya harus sudah konsentrasi,” kata Mas Dimas.
Aku mengangguk pasrah. Baru beberapa langkah berjalan, suara Iyan mencegatku di Luar ruang latihan. “Mau pulang bareng?” Tanya Iyan.
“Enggak. Aku may nebeng Sisi,” jawabku buru-buru lalu bergegas meninggalkan Iyan.
Mudah-mudahan aku enggak dianggap cewek jahat. Aku cuma ingin tegas dengan sikapku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *