My Stupid Boyfriend Bagian 21

Pintu Rumah diketuk. Aku sudah hafal, Itu ketukan khas Bu RT. Iramanya mirip ketukan dalang parto di operan van Java.
“Sore, Bu RT. May nagih iuran sampah?” Tanyaku sambil mempersilahkan Bu RT duduk di bangku teras.
“Enggak, Kan udah. Ini ibu mau bantuin nyebarin poster dukungan warga Kita yang ikut talent show di tv,” kabar Bu RT.
“Acara apaan tuh Bu RT? Kok baru denger kabarnya,” tanyaku penasaran.
Bu RT memberikan Satu poster. “Ini, Indonesia mencari dukun. Kebetulan warga Kita Ada yang masuk final,” lapor Bu RT.
Aku melihat posternya. Lumayan seren juga. Kalau enggak salah Itu Kan istrinya Pak Hansip. “Dukun-dukunan bukannya musrik ya, Bu RT?” Tanyaku.
“Lah, orang dia sih dukun beranak,” kata Bu RT.
Ooooh. “Ya, udah, diterima posternya. Nanti deh saya kirim SMS,” kataku buru-buru sebelum Bu RT ngasih poster warga lain yang ikut acara talent show juga.
Bu RT meninggalkan teras Rumah. Aku kembali gelisah. Sore ini aku Akan bertemu opah. Iyan yang mengabari lewat SMS Dua jam lalu. Aku memang enggak mau menerima telepon darinya. Kecuali telepon Itu mengabarkan aku diundang makan malam sama semua anggota Super junior.
Sebuah Mobil jaguar berhenti di depan Rumah tiga menit kemudian. Dadaku gemetar. Opah sudah tiba. Sebelum aku berhasil menghampiri jaguar Itu, Opah sudah keluar lebih dulu.
“Selamat sore, Karin. Kamu Makin cantik Aja,” puji Opah memberi Salam.
“Selamat sore juga, Opah yang Makin keren,” aku balas memuji. Ya siapa tahu setelah aku mengungkap semuanya, Opah langsung memusuhin aku.
“Kata Iyan, kami mau ngomong sesuatu yang penting ya?” Tanya Opah sambil jalan di sampingku menuju teras Rumah.
“Iya. Di dalam Saja ngomongnya, opah.”
“Di Teras Aja. Opah bisa lihat taman yang kamu rawat ini,” kata Opah menolak.
Ng… Aku harus mulai dari Mana ya? Apa mulai dari Titanic tenggelam Dan aku menyelamatkan Leonardo? Enggak mungkin.
“Opah, saya enggak pintar basa-basi. Jadi… Saya may langsung bilang Aja. Saya Dan Iyan… Sudah putus…” Aku diam menunggu reaksi Opah. Di kolong meja aku audag menyiapkan kotak P3K kalau-kalau terjadi Hal yang enggak kuinginkan. Paling enggak, kalau Opah mabok, aku udah nyiapin minyak angin cap kapak merah.
Opah tercenung beberapa detik, mirip sama Bapak gepeto yang bingung kehilangan pinokio. Tapi kemudian tertawa. “Kalian berantem, ya? Ayolah, paling sebentar lagi juga baikan lagi,” kata Opah.
“Bukan, Opah.” Aku akhirnya menjelaskan semuanya. Pelan-pelan kulihat wajah Opah berubah kecewa setelah mendengar pengakuanku. Terutama, karena aku hanya pacaran bohongan sama Iyan Demi keliling Eropa
“Hmm… Ya sudahlah kalau memang Iyan harus balik jomblo. Dia memang harus menanggung kutukan turunan,” kata Opah sambil geleng-geleng Kepala kayak Tuan Thakur.
“Maafin aku ya, Opah,” kataku pelan agar enggak dosa-dosa amat.
Jauh di lubuk hati yang terdalam, aku tuh berharap banget Opah tiba-tiba terharu dengan kejujuranku Dan tanpa mikir lagi, langsung memberikan jaguar-nya. Tapi aku mengkhayal terlalu sinetron banget!
“Iya, saya ngerti kok.” Opah kemudian berjalan lunglai ke jaguar-nya. Tak lama kemudian jaguar Itu hilang. Aku sedih karena enggak Akan jadi pewaris jaguar Itu lagi. Hiks.
Tapi aku harus semangat! Sebagai anggota geng yang kuat, aku juga harus kuat. Kalau perlu aku minum jamu kuat cap Nyonya nyengir.
Hari ini aku kembali latihan nyanyi. Tak cuman nyanyi, Kali ini kami sibuk ngomongin kostum yang bakal kami pakai di lomba nanti.
Sisi mengusulkan, “gimana kalau kostum Kita pakai rancangan mirip penari Las Vegas dengan selendang bulu? Biar keren Kita pakai bulu landak.”
Enggak Ada yang setuju.
Cindi mengusulkan, “gimana kalau Kita pakai rancangan mirip Flinstone?”
Kebanyakan anggota menolak bahan karung goni untuk baju karena gatal-gatal.
Cinta Dan Laura lebih parah lagi. “Kami ngusulin agar Kita mengangkat budaya lokal. Bagaimana kalau Kita nyanyi menggunakan kostum wayang orang?”
Tentu Saja enggak nyambung sama lagunya. Jadi enggak Ada yang mau. Lagian, aku tahu sebagian anggota punya bulu ketek panjang. Sangat tidak baik bagi kesehatan pernapasan nantinya.
Untungnya, rencana kostumku diterima dengan suara bulat tanpa voting. Aku membuat rancangan dengan tema retro tahun 70’an. Kupikir ini enggak Akan terlalu sulit. “Kalian tinggal membongkar lemari pakain orangtua Kalian. Kalaupun enggak Ada, bisa nyari di saudara atau beli di outlet bergaya retro,” kataku.
Wow, semua menyetujui saranku. Saran yang paling irit karena enggak perlu pake modal.
“Kalau begitu, nanti malam semua kumpulin bajunya ke Rumah aku ya,” pintaku.
“Iya, Bu guru!” Jawab mereka kompak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *