My Stupid Boyfriend Bagian 22

Malamnya, rumahku jadi kayak posko penampungan sumbangan baju bekas korban banjir Dan bencana apa gitu. Semua membawa Satu kardus baju jadul. Enggak Ada Satu pun yang memilih Satu.
“Bingung milihnya. Pilihin Aja sekalian,” kata Sisi, juga lainnya.
Aku akhirnya mengepak semua kardus Itu di belakang Rumah. Soalnya kalau disimpan di atas genteng nanti kehujanan. Mau disimpan di bank, udah tutup.
Malam Itu, aku tidur nyenyak sekali. Aku sampe curiga jangan-jangan bik Lala sengaja mencampurkan bubuk mesiu ke dalam gelas susuku tadi. Soalnya, belakangan ini, aku tuh sering terbangun tengah malam karena mimpiin Iyan. Mimpinya aneh-aneh. Kadang aku melihat Iyan datang membawa Bunga bangke sambil tersenyum menampakkan giginya yang berbulu. Atau, pernah, juga aku ngelihat Iyan udah jadi pengusaha semur jengkol sukses yang terkenal sampai ke mancanegara sedang Mandi karbol. Bahkan Ada juga mimpi di Mana aku Dan Iyan sedang keliling Eropa Naik kuda berkepala opahnya Iyan.
Saking lelapnya, aku sampai enggak sadar kalau Hari udah subuh. Aku baru terjaga setelah mendengar suara berisik di dapur. Aku pikir bik Lala yang sedang merenovasi dapur.
“Ngapain sih, Bik Lala subuh-subuh begini udah berisik di dapur?” Gumamku heran. Lalu muncul ide isengku untuk menakut-nakuti bik Lala. Dia Kan penakut banget. Ngeliat orang hidup Aja takut, apalagi ngeliat orang mati.
Aku meraih taplak meja putih yang Ada di kamarku, lalu mengendap-endap ke belakang. Nah, sebentar lagi bik Lala pasti Akan kaget Luar biasa, terus refleks njerit-jerit sambil mukul-mukul panci kayak orang Ronda. Bakal terjadi adegan seru, nih!
Sampai di dekat pintu dapur, aku ngelihat bayangan seseorang yang lagi sibuk banget di dapur. Apa bik Lala lagi sahurab Karena mau puasa ganti? Soalnya, puasa bik Lala Kan, banyak bolongnya gara-gara enggak tahan nyium bau masakannya sendiri. Awalnya sih, cuma pengen nyicipin terus diludahin keluar. Tapi pas sadar, ternyata udah abis sebaskom.
Sambil menahan tawa, aku melompat-lompat mendekati bayangan Itu Dan berteriak, “pocongggg!”
Bayangan Itu terlompat karena terkejut Dan ketakutan, kemudian dia langsung lari pontang-panting. Pasti dia Kira aku pocong beneran. Hihihi. Kalau aku jadi pocong betulan, aku enggak mau lompat-lompat ah, capek… Enakan Naik skuter Aja.
Tapi… Kok… Bik Lala aneh, sih? Apa Kepala bik Lala baru keluar dari mesin bubut? Atau, dia baru krembat pake pembersih keramik ekstra kuat sampe kepalanya plontos kayak gitu? Jangan-jangan… Yang kulihat tadi bukan bik Lala? Mana mungkin bik Lala kepalanya gundul Dan kabur sambil membawa kardus berisi kostum nyanyi, panci, penggorengan, sodet…. Hmm kecuali dia mau jadi tuyul yang buka usaha kuliner Gaya retro.
Iiiih… Kok, jadi syuerem, ya? Jangan-jangan… Yang tadi Itu…
“MAAAAAALLLLIIIINGNGNG…!” jeritanku menumbangkan tiang jemuran di halaman belakang.
Seisi Rumah langsung keluar.
“Mana maling? Mana? Mana?” Kak Arya hadir dengan mengacungkan gitarnya, tapi aku enggak yakin dia bakalan rela ngegebukin maling pake gitar kesayangannya Itu.
“Gimana kejadian sebenarnya, Rin? Biar Papih cater, terus Kita lapor polisi!” Papih muncul dengan kertas Dan pulpen, siap mencatat kronologi kejadian, kalau perlu menggambar sketsa wajah malingnya.
Huh… Kirain bawa pistol!
Sementara Itu, Mamih Dan bik Lala sibuk menenangkan aku yang kemudian stress.
“Ambil, ambil air, Bik! Air, air!” Perintah Mamih dengan panik. Dia sibuk mengipas-ngipasi mukaku yang sedang terduduk lemas dengan telapak tangannya, tapi karena jaraknya terlalu dekat, aku jadi tertampar-tampar. Uh, Sadis nih mamih!
Bik Lala menurut Dan kembali dengan tergopoh-gopoh membawa seember air. “Ini, Bu, airnya!”
Mamih kontan mendelik kayak ikan mas koki ketemu ikan mas Koko. “Emangnya mau ngepeeeelll? Air minum, Tau!’ jerit Mamih tambah panik.
Mamih kemudian nyiapin sesajen biar aku enggak kesurupan. Isi sesajennya pun darurat:
1 potong pizza yang toppingnya udah lenyap
Kulit kacang
Air nyam-nyam, Dan
Kembang buruk Rupa (abis, ke Mana mau dicari kembang tujuh Rupa subuh-subuh gini?).
Mulutku yang enggak bisa nutup karena syok, langsung dijejelin macem-macrm sesajen tadi; sampe tumpah ruah, bleeerrrr!
“Puhhh… Puhhh… Puhhh!” Aku menyemburkan isi mulutku. Eh, tapi bener sih, aku langsung sadar. Mulutku bisa nutup lagi. Horeee!
“Karin…! Karin…! Ini Karin apa setan? Kalau setan keluarr!” Mamih mengguncang-guncang tubuhku tanpa perasaan. Aku merasa kayak sedang diobok-obok di dalem mesin cuci.
“Ini Karin, Mihh…” Jawabku Rada mengembik.
“Oh, syukurlah… Sesajennya ampuh juga. Parahal, cuma ngasih pizza Dan kulit kacang punya Arya sisa tadi malem nonton bola lho,” celoteh Mamih yang ngerasa bangga karena udah berjasa.
“Mpppphhh… Huekkkkkssss!” Tanpa permisi, aku spontan muntah-muntah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *