My Stupid Boyfriend Bagian 23

Aku bingung ketika harus menjelaskannya ke teman-teman siang ini. Rasanya lebih gampang mencukur bulu ketek Dan berganti julukan dari pendekar brokoli Menjadi pendekar hantu kojek daripada harus berhadapan dengan makhluk-makhluk penjarah baju jadul Itu.
“Houston, we’ve had a problem…” Ungkapku dengan Gaya niruin film Apollo 13.
Teman-teman paduan suara langsung penasaran Dan mengerubung kayak laler.
“Rumahku kemalingan… Baju Kita, maaf, ludes digondol maling!” Sambungku. “Dengerin, ya, kronologi kejadiannya begini…”
Aku membacakan catatan kronologi kejadiannya yang ditulis papih tadi malam seperti membaca teks UUD ’45. Ternyata, catatan Papih berguna juga. Apalagi sketsa wajah malingnya juga Ada, bikin teman-teman percaya.
“Ya, ampun… Untung kamu enggak kenapa-napa,” kata Laura sambil bergidik. “Kamu masih virgin Kan, Karin?” Selidik Laura kejam, “well, you know lah, kadang-kadang making, Kan suka nyari kesempatan di dalam kemalingan.”
Aku langsung memelototinya. “Enak aja! Mau bukti?”
“Malingnya enggak kreatif amat, sih. Kenapa enggak nyolong yanh lebih ringan, kayak laptop, hape, krupuk…” Timpal Cindi. Dia memang penggemar kerupuk. Kalau makan selalu harus Ada krupuka-krupuki (krupuk kanan krupuk Kiri).
“Lain Kali kalau kemalingan lagi, langsung telpon aku Aja,” Sisi ikut menawarkan budi baiknya.
“Buat apa nelpon kamu?” Tanyaku. Yang Ada sih orang kalau kemalingan juga nelpon polisi, Pak RT, atau pos yandu terdekat. Siapa tahu Ada imunisasi penangkal maling.
“Buat up date status, dong. Temenku rumahnya kemalingan, kostum nyanyi Kita rain digondol maling…” Jawab Sisi sambil mencet-mencet HP nya nulis status di Facebook. Dasar miss status!
“Yah… Namanya musibah. Mau diapain lagi?” Cinta ikutan nimbrung.
“Iya. Ya sudahlah, dibawa ke medan pertempuran juga tuh kostum enggak Akan balik lagi,” tambah Lia.
“Udah, lupain Aja. Bagusan Kita enggak usah lagi menengok lagi ke belakang, tataplah ke depan… Ada tembok…” Kata Rido.
Aku Lega mendengar teman-temanku yang bersimpati Dan enggak marah Akan hilangnya kostum nyanyi kami. Ini lumayan, mengurangi tingkat stress ku beberapa level.
Tapi, tiba-tiba Iyan ngomong, “Lagian, nyimpen kostum kok di dapur. Itu namanya teledor.”
Hosh! Hosh! Ada yang beruap di kepalaku. Kok, jadi nyalahin aku sih? Apa maksud kalimatnya yang bernada tendensius Itu?!
“Heh, selama ini dapurku Itu aman-aman aja, kok. Namanya juga kemalingan!” Seruku sengit. Aku merasa disudutkan, sakitnya kayak kejepit pintu. “Harta Karun bik Lala bertahun-tahun disimpen di situ aman-aman aja, tuh!”
“Emangnya harta Karun apaan?” Tanya Cinta Dan Laura berbarengan.
“Ulekan!” Jawabku, “Ulekan peninggalan zaman Belanda, barang antik, kalau dijual harganya 1 Miliar!”
“Huuuu!” Koor teman-temanku.
“Bukannya bisa disimpen di tempat yang lebih Aman?” Sahut Iyan lagi.
“Aman kepalamu!” Jawabku cepat. “May disimpen di Mana lagi, Coba? Kan enggak mungkin disimpen di bawah tanah, siapa yang mau ngegali, penggali kubur?”
“Kok, kami jadi nyolot gitu?” Tanya Iyan dengan dahi berkerut.
Meski dongkol, tapi entah kenapa aku melihat kerutan Itu seperti kerutan dahinya si tua Pierce Brosnan. Wush! Aku mulai ngaco. Aku buru-buru berkonsentrasi pada amarahku yang berkobar-kobar kayak panggangan tukang sate.
“Siapa yang nyolot?” Sergahku sewot.
“Tuh, Kan?” Iyan membuktikan ucapannya.
Ih, kok, Iyan jadi nyebelin banget, sih!
Aku memandang sekeliling. Teman-teman kayak seperti baru Aja melihat planet Mars. Ya. Mukaku tentu merah padam. Pasti sudah ngebedain antara mukaku dengan keripik pedes Mak Idih.
“Tenang… Tenang… Belanda masih jauh,” kata Fira menengahi.
Daripada ketularab kebun jerawat Fira, aku memilih nurutin kata-katanya Aja. Yang lain menarik Iyan agar menjauhiku. Baguslah. Mereka cepat bertindak proaktif sebelum aku mengeluarkan jurus pendekar brokoli direbonding.
“Ya sudah. Gini Aja. Enggak perlu nyalahin siapa-siapa. Enggak Karin, enggak maling, apalagi pocong di kuburan. Tapi, Karin harus tanggung jawab buat nyiapin kostum pengganti,” ujar Sisi sok bijak sambil melirik HP nya, “begitu komentar yang masuk dari salah seorang teman facebook-ku.”
Aku lemas, seperti habis donor darah sambil dibekap kaus kaki. Semua pakaian jadul Itu Kan sudah lenyap Tak berbekas digondol maling. Mau beli di outlet retro? Ih, Rugi aja. Bagusan beli ketoprak Satu gerobak, deh.
“Tapi… Di Mana aku harus nyari pengganti ya? Waktunya udah mepet ini,” keluhku dengan wajah minta dikasihani. Kalaupun mereka enggak kasihan, minimal ngasih voucher masuk spa juga boleh.
Aku bener-bener bingung. Pengen minta bantuan Tante Cintia, jelas enggak mungkin. Baju-baju sekali pake Aja udah dibuang-buangin sama dia, apalagi baju jadul wasaidul? Minta bantuan But RT atau Pak Hansip kompleks? Lebih enggak mungkin lagi. Soalnya baju-baju jadul mereka masih dipake sampai sekarang. Enggak sadar mode, sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *