My Stupid Boyfriend Bagian 25

“Tapi… Sebenarnya aku pengen Kita semua pake hipster pants Dan tank top, sih. Biar keliatan lebih ngartis Dan seksi,” celetuk Cindi pede.
“Eh, Kita ini mau ikutan paduan suara, bukan paduan puser Dan ketek!” Selalu ketus.
“Yey!” Cindi mencibir.
“Nah, sekarang Cobain dulu pakaiannya,”ujar Iyan. “Kalau kebesaran atau kekecilan, ntar aku bisa merombaknya, kok. Gini-gini Kan aku pernah belajar desain baju Dan menjahit sama om-ku yang desainer,” kata Iyan.
Wow! Aku semakin terkagum-kagum pada Iyan. Aku teringat pada desainer Gunawan Iyan yang baik nama maupun wajahnya rada-rada mirip Iyan. Diakah om-nya Iyan? Tapi aku malas menanyakannya.
Ilmu rahasia apa lagi ya yang dimiliki Iyan? Kenapa tiba-tiba dia pinter masak, pinter nyanyi, Dan sekarang pinter ngejahit! Jangan-jangan dia juga pinter ilmu pellet, soalnya… Dia Kan suka melet-meletin lidahnya kalau kepedesan.
“Ayo, siapa lagi yang kostumnya pengen aku rombak? Dikumpulin Aja, biar aku ngeberesin,” kata Iyan lagi. Aku sebenarnya pengen nanya, apakah Iyan bisa ngerombak baju bekas jadi baju besides, buat jaga-jaga kalau ketemu maling lagi, tapi urung.
“Aku punya nih, pinggangnya Rada kedodorab, dikecilin Aja ya, Yan!” Cindi menyodorkan rok pilihannya.
“Aku juga, bahunya Rada turun, dinaikin ya. Kalau enggak punya busa, disumpel tahu sumedang juga boleh,” Sisi ikut-ikutan.
Kemudian, teman-teman yang lain juga rame-rame ngasihin kostum nyanyinya ke Iyan buat di rombak. Iyan menerima semua pesanan ngerombak kostum kami dengan senang hati.
“Uf… Udah semua?” Suara Iyan terdengar mengecil. Ya, tentu Saja. Dia udah kelelep di dalem tumpukan baju-baju yang Akan dirombak. Rido buru-buru menarik Iyan keluar dari gunung baju jadul sebelum mati ketelen celana jengki.
“Berhubung kami yang bertanggung jawab atas hilangnya kostum Kita, kamu harus menemani Dan membantu Iyan ngerombak baju-baju Kita, Karin,” kata Cindi lagi.
Hore! Eh, maksudnya aku enggak bisa mengelak. Uhm, sebenarnya aku memang enggak ingin mengelak, sih. Aku malah seneng bisa punya kesempatan dekat-dekat Iyan terus. Aduh… Tanda-tanda apakah ini? Jangan-jangan efek sesajen sampah Kak Arya masih bekerja sampe sekarang.
“Ya udah. Aku oke aja,” sahutku berusaha mengeluarkan suara datar.
“Eh, ngomong-ngomong kostum kamu pas enggak, Yan?” Tiba-tiba Fira bertanya. Soalnya, dari tadi Iyan tenang-tenang Aja. “Masih Ada yang perlu dirombak juga, enggak?”
“Kostumku… Sebenarnya sih agak sempit, ya… Enggak sempit banget sih. Cuma Bagian perutnya Aja nih yang Rada ngejepit. Tapi aku enggak mau ngerombak,” jawab Iyan sambil menunjukkan sepotong celana jengki cutbray Dan kemeja lengan panjang ngepas badan di tangannya.
“Lho, lalu?” Sambut Laura bingung.
“Aku mau diet kekat Aja biar cocok sama pakaiannya. Soalnya, cowok-cowok jadul Kan emang kerempeng-kerempeng. Dan, aku juga Mai pake wig kribo Dan kacamata item, biar lebih keren,” jelas Iyan lagi.
Gubraaak! Enggak salah, tuh?
Kami semua terbelalak mendengar rencana Iyan yang pengen timbangan badannya di Hari H sebanding dengan sekilo ikan Teri.
Teman-teman pamit pulang setelah ngabisin 2 kilo kacang, Satu kardus biskuit keju, Dan 20 liter susu kambing yang disuguhin Tante Cut Misye, Mamahnya Iyan. Sekarang, tinggal aku berdua sama Iyan yang ditugasin buat ngerombak pakaian-pakaian yang belum pas, sekaligus ngerombak kabinet pemerintahan kalau sempat.
Tante Cut Misye ikut ngerecokin, “Dulu Tante, Kan, pernah jadi model sampul majalah, lho. Makanya baju-baju jadul Tante ini keren-keren. Gimana, Tante masih keliatan cantik, Kan?”
“Masih dong, Tante…” Jawabku sambil ngelirik Iyan yang senyam-senyum. Terutama kalau ngadep ke belakang, tambahku dalam hati.
“Iya, Mamah masih cantik, tapi perlu perombakan di beberapa Bagian, mAh. Sini, biar Iyan rombak Mamah sekalian sama baju-baju ini,” sahut Iyan sambil ketawa.
“Husss, kamu ini!” Sembur Tante Cut Misye sambil kabur.
Aku terkikik geli.
“Kamu bisa ngejahit?” Tanya Iyan sambil ngebenerin baju Sisi yang minta disumpel pake tahu sumedang.
“Ya yailah… Jelas enggak bisa dong,” sengutku. “Udah Tau enggak bisa, pake nanya!” Aku memasang wajah tersinggung.
“Pake nanya sih enggak apa-apa, asalkan jangan pake marah,” sambut Iyan sambil tertawa.
“Uh, siapa yang marah? Buat apa marah? Enggak Ada gunanya,” semburku.
“Emang. Yang banyak gunanya Itu Kan tong sampah nyaring bunyinya,” sela Iyan lagi.
Aku pengen menyahut dengan ketus, tapi enggak bisa. Aku malah tertawa mendengar jawaban Iyan.
“Nah, gitu Kan lebih enak ngeliatnya. Kalau enggak sewot, kamu Itu sebenarnya cantik loh, Karin…” Iyan ngomong sambil menatap wajahku lekat-lekat.
Ini rayuan! Rayuan pulau iler! Jangan terpancing! Stay cool! Bisik hatiku mengingatkan. Tapi mulutku berkata lain, “Kamu juga kalau lagi enggak nyebelin, cakep juga kok!”
Huahhh! Kalimat sakti apa tuh, yang meloncat tanpa permisi dari mulutku? Jijay banget deh bilang si kucrut Iyan cakep!
Tapi ya… Memang bener juga sih, kata Laura. Iyan memang lumayan cakep, kok. Kalau mau jujur, sebenarnya Iyan Itu enggak kalah sama David Archuleta kecebur sawah terus kesruduk kebo. Apalagi… Semakin aku mengenalnya Dan semakin tahu kelebihan-kelebihannya, dia jadi tampak semakin ganteng Dan cool. Dan, aku rasanya semakin… Keliyengan… Mencintaimu? Damn! Mamiiihh… Aku butuh seledri!
Aku melihat Mata Iyan berkilat-kilat kege-eran. Kayaknya baru kesamber petir nih, anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *