My Stupid Boyfriend Bagian 26

“Eh, jadi enggak ngerombaknya?” Kataku buru-buru, takut mulutku ngomong yang enggak-enggak lagi. Kadang-kadang memang mulutku harus disumpel biji kedondong biar enggak suka bersilat lidah.
“Jadi, dong! Kami perhatiin juga, ya… Kan bisa sekalian belajar,” kata Iyan. Kemudian, dengan cekatan dia mulai mengerjakan rombak-merombak baju Itu. Sementara aku terperanjat dalam rasa kagum. Rasanya enggak mungkin deh nemuin cowok seperti Iyan lagi… Minimal di sekitar kompleksku.
O ow… Aku Tak kuasa menyetel mataku yang terpana ngelihat aura yang terpancing dari diri Iyan. Dia… Dia… Begitu berkilau bagai atap seng Rumah Bu RT. Aduh, kenapa bisa beginning? Bukannya dia si kucrut menyebalkan yang selalu bikin orang lain tertimpa musibah? Kenapa sekarang dia menjelma Menjadi sosok yang berbeda? Seperti… Seorang koki yang sedang menyanyi sambil menjahit.
Ah… Aku baru sadar ternyata Iyan sangat layak dihargai, Dan dicintai. Aku sangat beruntung bisa tetangganya dengannya. Selain bisa diajak madak semur jengkol, dia juga suka bantu-bantu aku Dan Mamih kalau lagi Ada masalah di rumah. Bener-bener seorang tetangga serbaguna.
Kini, rasanya… Aku… Aku ingin memegang tangan Itu, yang sedang dengan lincahnya merapikan kostum nyanyi kami. Tapi, aku cepat-cepat sadar diri. Jangan mengganggunya, Karin. Nanti jarinya bisa tertusuk jarum, terus dia tertidur selama 100 tahun!
Well, sekarang aku enggak berani berharap Iyan masih mencintaiku. Aku pernah menolaknya, bahkan dengan Cara yang kasar banget. Juga pernah dengan sengaja mencuranginya. Padahal, kalaupun aku enggak mau menerimanya Dan enggak mau ketiban sial, toh aku bisa melakukannya dengan Cara yang lebih sopan Dan elegan. Kenapa aku harus menyakitinya? Aku nyeseeel banget, enggak memperlakukannya dengan baik dari awal. Kalau sudah begini, aku Kan jadi benar-benar enggak bisa ngarepin jadi pewaris jaguar nya Opah.
Ya Tuhan… Beri aku kesempatan sekali lagi untuk mendapatkan Cinta Iyan. Bisikkanlah ke telinga Iyan agar dia may menyatakan cintanya sekali lagi padaku. Jika Itu terjadi, aku pasti Akan menerima Cinta Iyan, enggak pake lama, enggak pake gengsi, sekaligus menerima tiket jalan-jalan keliling Eropa dari Opah.
Aku gemas, bener-bener ingin memiliki Iyan. Aku enggak ingin kehilangan dia. Awalnya aku pikir, ngelupain Iyan Itu gampang banget. Tinggal remove dia dari kontakku, selesai. Tapi ternyata sulit banget, lebih sulit daripada nyabutin bulu ketek Mamih pake Gigi. Sementara, aku sendiri enggak punya nyali untuk mencintai Iyan. Aku merasa… Licik, jahat, Dan… Cebol!
“Enggak Akan selesai kayaknya!” Seru Iyan tiba-tiba. Aku tersentak sampai hampir jatuh dari kursi.
“Udah selesai, ya?” Tanyaku takjub.
“Naaah… Enggak nyambung. Kamu ngelamun, ya? Ngelamunin aku, Kan?” Goda Iyan.
“Huu… Geer, kamu! Aku cuma berpikir tentang Masa depan bangsa Dan negara, kok,” kilahku.
“Kayak mau jadi presiden Aja kamu,” sahut Iyan terkekeh. “Ini, kayaknya aku enggak bakalan bisa nyelesain ini semua dalam waktu singkat. Terlalu banyak yang harus dirombak, nih,” keluh Iyan.
“Lha, jadi gimana?” Tanyaku bingung. Aku sama sekali enggak bisa ngejahit. Jadi gimana mau ngebantuin Iyan?
Iyan mengangkat bahunya yang… Ooooh… Bidang, men!
Tiba-tiba….
“SPADAAA!”
Aku Dan Iyan kaget mendengar suara seseorang. Iyan Bergegas membuka pintu Dan keluar ke teras. Seorang perempuan tua buta sedang duduk di lantai teras Rumah Iyan. Dia mulai memainkan kecapi yang dibawanya.
Mendengar alunan suara kecapi itu, aku ikut menyusul Iyan ke Luar. “Iyan, bukannya ini pengemis buta yang dulu pernah ketemu Kita di depan resyorab steak?” Bisikku. “Yang kamu kasih uang Lima ratus ribu Itu, lho.”
“Oh, iya, ya, betul juga kamu,” sahut Iyan sambil merhatiin perempuan buta Itu dengan seksama Dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
“Mas ini yang dulu pernah ngasih saya uang banyak, ya? Saya kenal suaranya Dan bau mulutnya,” kata perempuan Itu setelah menghentikan permainan kecapinya.
Aku Dan Iyan saling berpandangan.
“Iya, Bu. Apa kabar?” Jawab Iyan ramah.
“Sedekahnya Mas, sangat membantu kami, para anggota partai pengemis mencari nafkah yang kelaperan. Saya merasa berutang budi kepada mas. Gimana, ya, Cara ngebalasnya? Atau, mungkin Ada yang bisa saya Bantu Mas, sebagai tanda balas budi saya?” Perempuan buta Itu nawarin.
Iyan langsung menjawab, “Wah, enggak usah repot-repot, Bu. Saya ikhlas kok nolonginnya. Lagian, saat ini enggak Ada yang perlu dibantuin, kok. Kami sedang enggak ngapa-ngapain, cuma sedang ngerombak kostum buat paduan suara Aja.”
“Kalau boleh, biar saya bantuin ngejahitin, Mas. Anggota partai pengemis mencari nafkah banyak yang pinter ngejahit, kok. Ada juga 3 meain jahit, barang inventaria partai, nanti bisa dipake,” kata perempuan buta Itu lagi.
Aku Dan Iyan saling berpandangan sesaat, lalu serempak menyahut, “Wah, kebetulan banget, Bu!”
“Ayo, Bu, Kita antar pakaian yang mau dirombak ke teman-teman ibu. Supaya cepat selesainya,” sambung Iyan sambil bergegas memasukkan kembali kostum nyanyi kami ke dalam kardus.
Sebelum berangkat, Tante Cut Misye sempat membekali kami dengan ketoprak bikinannya. “Titip buat anggota partai ya, Karin. Ini ketoprak kreasi baru Tante, lho,” ucap Tante Cut Misye bangga.
Sampe di Sana, para anggota partai pengemis menyantap ketoprak Itu dengan semangat. Kayaknya mereka kelaperan. Aku Dan Iyan juga ikut mencicipinya sedikit.
“Yiaks! Ketoprak apa ini kok rasanya aneh?” Protesku pada Iyan dengan wajah kecut.
“Tau, deh. Ketoprak humor, kaleee!” Sahut Iyan sambil tertawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *