My Stupid Boyfriend Bagian 27

Pagi-pagi banget, aku udah nyiram kembang di halaman depan rumahku. Tumben-tumbenan aku rela nyiramin kembangnya Mamih. Biasanya nyiram kembang plastik Aja mesti dipaksa, diancem enggak boleh sikat Gigi selama sebulan.
Tapi, sekarang lain. Aku melakukan pekerjaan nista ini dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan dari siapapun, Dan tanpa risiko ancaman keselamatan. Iya, sih. Belakangan ini, perasaanku emang rada-rada sensi Dan mellow wow wow wow. Pengennya liat yang romantis-romantis Aja. Film romantis, lagu romantis,warna romantis, cowok romantis, satpam romantis, ya gitu-gitu deh. Bahkan, sekarang kalau ngeliat supir Bajaj, otakku langsung menganalisa, kira-kira dia termasuk supir Bajaj paling romantis sedunia atau enggak.
Ini pasti gara-gara bayangan Iyan yang terus menghantuiku setiap detik. Memang betul, muka Iyan seperti hantu, tapi hantu ganteng. Pokoknya sekarang aku jadi parah banget, deh. Suka terbayang-bayang wajah Iyan. Pas aku ngelihat foto presiden Zimbabwe yang terhormat, rasanya seperti ngelihat Iyan yang mau pergi kondangan.
Kacaunya lagi, aku sampai sempat khilaf meluk-meluk Bu RT yang sedang dateng ke Rumah ngutip uang sumbangan kematian.
“Sudahlah, yang sabar ya, Karin. Mang Kasimin Itu memang tukang Tempe teladan. Tempenya terbuat dari bahan-bahan bermutu, enggak pake pengawet Dan pewarna, nganternya enggak pernah telat, boleh ngutang berbulan-bulan, kalau beli banyak dapet bonus kacang kedele… Wajar kalau kamu ngerasa kehilangan. Semua warga kompleks juga sedih, enggak Akan Ada lagi yang teriak ‘Tempe, Tempe, meneketehe!’ tiap pagi. Tapi mau gimana lagi? Ajalnya memang udah sampe di situ. Kita cuma bisa berdoa, semoga arwahnya enggak penasaran karena banyak warga kompleks yang belum bayar utang,” bujuk Bu RT sambil membalas pelukanku.
Yiayyyy! Jijayyy! Aku langsung tersadar Dan buru-buru ngelepasin pelukanku dari Bu RT. Bisa-bisanya ya, aku enggak bisa ngebedain antara Iyan dengan Bu RT. Padahal helaan napasnya Aja udah beda banget.
“Eh, iya, Bu. Turut berduka cita atas meninggalnya Mang Kasimin, tukang Tempe kompleks Kita. Udah ya, Bu. Kalau lama-lama ngebahasnya, takut kesamber,” ucapku sambil tersenyum kecut.
Bu RT pun pergi dengan berurai air Mata. Rupanya, pelukanku tadi sudah mengunggah perasaannya, hingga dia ikut meratapi kepergian Mang Kasimin, si tukang Tempe teladan.
Sedang asyik-asyiknya bergelut dengan kembang setaman, tiba-tiba aku merasa sedang melihat sosok Iyan. Jantungku sempat berderak sangat kuat kayak sedang nyimpen pukulan beduk di dalamnya. Tapi aku buru-buru menepisnya. Ah, bukan Iyan Kali tuh. Jangan sampe deh, aku khilaf meluk tukang bubur.
“Pagi, Karin cantik! Tumben, rajin amat? Salah pake odol, ya?” Sapa seseorang yang muncul di balik pagar. Gayanya kayak orang yang mau jogging, pake ikat Kepala dari dasi pramuka. Keliatan banget enggak ounya head band!
Mataku mengerjap-ngerjap. Sosok Itu begitu familia, mirip David Archuleta terkutuk mantra. Enggak salah lagi, dia pasti…
“Iyan?” Sebutku hampir Tak percaya. Saking syoknya ngeliat anak pramuka sakit Kepala nyasar itu, tanpa sadar aku ngarahin selang air ke mukanya. Croooot…. Serrrrr!
“Aduh! Woiiii…. Woiiii… Basah, niiiihh…!” Iyan teriak-teriak kayak kebakaran buntut sambil berusaha menahan air yang menerpa mukanya.
“Ups! Maaf!” Aku cepat-cepat mematikan kerab. Rambut Iyan udah klimis karena basah. Wooow… Iyan tampak begitu… Menakjubkan… Sexy abis! Aku langsung teringat Cindi yang bertekuk lutut pada Arga gara-gara ngelihat Arga di antara hujan Dan sambaran petir. Sepertinya air memang cocok jadi obat ganteng yang murah meriah.
“May ke Mana Yan pagi-pagi gini? Mau saingan sama tukang bubur ayam, ya?” Selidikku. Tumben juga night cowok bangun pagi. Biasanya bangun tidur kuterus Mandi.
“Jogging, dong!” Jawab Iyan bangga, “Untuk mendukung program diet ketat aku, biar cepat kurus!”
Alisku bertaut. “Eh, kamu serius soal diet ketat Itu? Emangnya bisa kurus cuma dalam beberapa Hari?” Tanyaku Tak percaya.
“Serius! Liat Aja, aku udah rada kurusan, Kan?” Pamer Iyan sambil muter-muter nunjukin pusernya yang mulai menciut.
Aku merhatiin dari atas sampe bawah, lalu mengangkat bahu pertanda entahlah. Memang sih, dia tampak Makin kurus, tapi aku enggak yakin Iyan bertambah keren. Aku rasa dia malah jadi mirip tusuk Gigi.
“Yuk, ikutan jogging!” Ajak Iyan semangat sambil lompat-lompat di tempat.
Aku berlagak mikir-mikir, biar enggak keliatan banget bahwa aku memang menunggu-nunggu datangnya kesempatan berduaan dengan Iyan. Tapi… Ah, enggak boleh terlalu mudah, tunggul didesak pake jaguar aja?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *