My Stupid Boyfriend Bagian 28

“Ayolah, Karin… Ntar aku traktir burjo deh,” rayu Iyan.
Yaelah… Cuma bubur kacang ijo! Tapi enggak apa-apa deh. Enggak Ada jaguar, burjo pun jadi, asal bisa bersama-sama Iyan terus.
Pura-puranya, karena mupeng sama iming-iming bubur kacang ijo, aku bersedia ikutan jogging. “Oke, deh. Aku pamit sama Mamih dulu, ya!” Aku langsung masuk ke dalam untuk berpamitan pada Mamih Dan ganti pakaian, lalu keluar menemui Iyan.
“Udah? Apa kata Mamih?” Tanya Iyan sambil mulai berlari-lari kecil.
“Kata Mamih, ‘hati-hati, banyak anjing’,” jawabku pendek sambil ikut berlari-lari di samping Iyan.
Ah…. Segarnya pagi ini. Enggak tahu juga ya, apakah udara kompleks memang tiba-tiba udah bebas polusi atau pengaruh Iyan yang lari pagi sambil nyedot debu. Pokoknya, surgery!
Efek jogging sekali seumur hidup keliling kompleks mulai muncul. Aku mulai berhalusinasi macam-macam. Rasanya seolah-olah Iyan tiba-tiba berhenti berlari, menatapku dengan senyum manisnya, lalu dia menggamit tanganku Dan menuntunku ke pinggir jalan.
“Sudah sampai di seberang, Nek. Lain Kali kalau mau nyebrang, jangan nekat sendirian, ya. Minta tolong aja sama siapa yang Ada di sekitar Nenek,” kata Iyan padaku.
Jiahhhh! Bukan Itu khayalan yang pengen aku bayangin! Pengennya, setelah berada di pinggir jalan, Iyan ngucapin kata-kata pembukaan semacam, “kaulah bintang, kaulah datang bulan.” Lalu, Iyan nembak aku untuk Menjadi pacarnya lagi. Dan, aku mengangguk, menerimanya dengan hati berbunga-bunga. Maka, jadilah kami sepasang kekasih yang sedang dimabuk jogging. Oh, indahnya…
“GUK GUK GUK! ARRRRGGGHHH!”
Aku terlonjak kaget, begitu pula Iyan. Suara gonggongan anjing yang tiba-tiba muncul di depan kami membuat khayalanku bubar jalan. Aku kontan gemetar Dan berkeringat dingin.
“ANJING, YAN! Ayo, lari!” Seruku panik sambil mencengkram lenganku Iyan erat-erat.
“Eh, jangan lari! Nanti dia malah ngejar Kita. Sini,” Iyan menarik tanganku, “jongkok Dan diem Aja di sini. Anjingnya pasti ikutan diem. Tenang… Tarik napas… Embuskaaaan…”
“Beneran, tuh? Kok, aku enggak pernah dengar teori macem Itu?” Tanyku memastikan.
“Bener. Udah, diem Aja. Kalau kebanyakan gerak nanti anjingnya pikir Kita ayam, ntar Kita bisa digigit,”sahut Iyan.
“Hiii… Takuuuut!”
Mau Tak mau aku menuruti kata-kata Iyan. Aku berjongkok di samping Iyan dengan dada berdegup kencang. Aku paling takut sama anjing. Soalnya dulu aku pernah digigit, sampe dicurigai kena rabies. Mamih sampe ngadain selametan 7 Hari 7 malam potong ayam Kate Dan kebo bule ketika dokter menyatakan aku bebas rabies.
“GUK GUK GUK! ARRRRR ARRRRR!” Anjing Itu menggonggong lagi, malah dia mulai mendekati kami. Lidahnya yang berleleran iker menjulur keluar Dan bergoyang-goyang ke kanan Dan ke Kiri, kayak wiper Mobil.
“Dia mendekat, Yan! Huaaaa… Lari, yuk!” Jeritku tertahan. Kayaknya bukan ide bagus cuma jongkok diem sambil merhatiin Gigi geligi anjing sarap kayak gini.
“Tenang Aja, Karin… Ambil Batu,” ujar Iyan, “Biar dia takut, dia pikir Kita mau ngelempar dia dengan Batu. Kita bohongin.”
“Emangnya anjing ngerti kalau sedang dibohongin? Huh, teori enggak jelas!” Omelku.
Lagi-lagi aku terpaksa menuruti kata-kata Iyan. Sebuah Batu seukuran kepalan tangan kini berpindah dari badan jalan ke tanganku.
“GUK GUK GUK GUK GUK!” Anjing Itu kini berlari-lari mendekati kami sambil terus menggonggong… Ya ampun… Dia mengejar kami!
“WHOAAAA….!” Teriak Iyan spontan. Dia langsung bangkit Dan berlari sekencang-kencangnya, Dan… Meninggalkan aku!
“IIYAAAAAAANNNN…. TTUNGGUUUUUU!” Aku menjerit-jerit sambil lari pontang panting menyusul Iyan. Sementara, anjing Tak bertuan Itu mengejarku dengan beringas dari belakang.
Dan tanpa sepengetahuan kami, di suatu tempat, Sisi sedang kebingungan mencari anjingnya.
“Snowy… Snowy…. Aduuuh, kamu ke mana, sih?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *