My Stupid Boyfriend Bagian 29

Aku trauma berat. Pagi-pagi udah kenalan sama anjing sarap. Aku pulang dengan tubuh gemetaran, napas ngos-ngosan, basah kuyup keringetan, Dan langsung menyerbu kulkas. Dengan kalap, aku menenggak sebotol Besar air taking dingin tanpa jeda hingga tetes terakhir, menyantap sekotak Besar es krim cokelat, Dan menghabiskan Satu loyang puding kesemek bikinan Mamih. Mamih yang menyaksikan aksi hororku sampai syok, dia Kira aku kesurupan sampe mau makan puding kesemek begitu.
“Kariiiin! Kamu kenapa? Kesurupan lagi, ya? Aduuuuh… Gimana nih?” Mamih panik. “Aryaaaa….! Tadi malemu kamu nonton bola Ada nyisain pizza Dan kulit kacang, enggaaaak?!” Seru Mamih pada Kak Arya yang sedang memainkan lagu Kau yang Bertingkah dengan gitar keramatnya.
“Kalau sisa pizza Dan kulit kacang sih, Ada Mih… Tapi bukan bekas nonton bola tadi malem. Tadi malem Kan enggak Ada pertandingan bola,” sahut Kak Arya cuek.
“Yah… Kalau bukan belasan nonton bola, sesajennya enggak ampuh,” keluh Mamih kecewa berat.
Aku langsung menjelaskan supaya Mamih enggak bikin heboh Satu rumah. “Karin Dan Iyan tadi dikejar anjing, Mihhh…”
Mata Mamih terbelalak. “Tuh, Kan? Mamih bilang juga apa. Kalau jogging sama Iyan Itu bahaya. Dangerous… Ah, ah, ah, dangerous! Anjing memang paling suka sama orang kayak Iyan Itu, keringetnya baunya kecium sampe ke mana-mana!”
Aku tersenyum kecut. “Karin mau semedi dulu untuk menenangkan diri, ya, Mih. Karin enggak mau diganggu, oleh siapapun Dan oleh apa pun, kecuali darurat militer!”
“Iya, iya. Jangan lupa baca doa tolak Bala 10 kali… Eh, tolak pilkada juga, ya. Biar Bu RT enggak ke sini lagi Cari dukungan suara, bosen!” Pesan Mamih yang Hari ini udah 10 kali didatengin Bu RT. Abis, saking semangatnya nyari dukungan buat kampanye jadi Bu RW, Bu RT sampe lupa, Rumah Mana Aja yang udah dikunjungin. Jadinya kedobel-dobel, deh.
Aku mengangguk sambil ngeloyor masuk ke kamarku. Di kamar, aku merebahkan diri sambil memejamkan Mata, melepas penat. Aduh, capek banget. Betis indahku sampe kejang karena kebanyakan lari.
Sial betul aku Hari ini, Dan ini semua gara-gara Iyan. Udah Tau anjing bukannya lari, malah berhenti. Udah gitu, ninggalin aku pula. Huh, dasar kucrut!
Setelah Iyan kabur sendiri karena dikejar anjing tadi, aku belum bertemu Iyan lagi. Kami tadi lari berpencar menyelamatkan diri masing-masing. Aku lari ke rumahku, sedangkan Iyan… Aku enggak tahu dia lari ke Mana. Kali Aja ke WC umum. Ngompol.
Lama-kelamaan aku tertidur. Aku bermimpi dikejar-kejar anjing berkepala manusia. Dan, manusia Itu adalah Iyan. Aku melempari anjing berkepala Iyan Itu dengan Batu, tapi anjing Itu masih terus mengejarku sambil tertawa. Huahahahahaha! Kemudian aku tiba di sebuah jalan buntu, di belakangku kini berdiri sebuah tembok yang tinggi. Aku terdesak Dan enggak bisa lari lagi, memanjat tembok pun enggak mungkin. Aku Kan bukan Spiderman. Sementara anjing Itu semakin dekat, semakin merapat, Dan akhirnya tiba di depanku. Kyaaa! Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyeraaaah. Dengan sekuat tenaga aku menjitaki Kepala anjing Itu. Tuk tuk tuk! Tuk tuk tuk!
“Kariiiin! Kariiiin! Ada yang nyariin, nih!” Terdengar suara Mamih memanggil-manggil disertai ketukan pintu kamarku. Tuk tuk tuk!
Aku yang masih berada di Alam mimpi bersama seekor anjing berkepala Iyan, langsung terjaga. Dadaku masih berdebar-debar. ” Iiiih… Siapa, sih? Ganggu Aja. Padahal anjingnya udah hampir mati aku jitakin,” gerutuku kesal. “Kan, Karin udah pesen enggak mau diganggu kecuali darurat, Mih!” Seruku.
“Iyaaa, ini darurat, darurat milimeter. Nyawa taruhannya! Kariiiin! Cepetan keluar, Mamih takut night!” Teriak Mamih lagi, Kali ini sambil menggedor-gedor pintu dengan Tak sabar.
“Siapa sih, Mih? Iyan, ya? Kalau Iyan, bilang aku sedang holiday di Zimbabwe!”
“Bukan Iyan… Mamih juga enggak kenal, kayak… Uhm… Tengkorak hidup, gitu!’ sahut Mamih lagi. “Cepetan dong, sayang… Mamih ngeri night, ngeliatnya!”
Dahiku mengernyit. Emangnya Ada tengkorak yang masih hidup? Arrrgghhh!
Dengan malas, aku menyeret kakiku ke Luar kamar menuji ruang tamu. Di Sana sesosok tulang-belulanh sudag menunggu-nunggu dengan cengiran jeleknya.
“Hai, Karin!” Sapanya, aku diam Saja. “Sorry, tadi aku langsung lari ninggalin kamu. It reaksi spontan, uhuyyy! Enggak sengaja. Suwerrrr!”
“Spontan, spontan dengkulmu!” Sahutku marah. Biar kata aku sekarang sudah jatuh cinta pada Iyan, tapi kalau diumpanin anjing sarap, ya jelas marah dong!
“Jangan marah, ya. Pliiiis! Aku sebenarnya enggak niat begitu, kok. Pengennya aku lari sambil ngegendong kamu, tapi ya… Enggak mungkin…” Ujar Iyan sambil melirik ukuran lengannya yang semakin mengecil.
Aku melengos. “Alesan! Kamu Itu memang benar-benar enggak bertanggung jawab, enggak bisa diandalkan, tega, jahat, sotoy, kucrut, dodol! Pokoknya, aku enggak bakal maafin kamu!” Semburku, kemudian aku bergegas meninggalkan Iyan yang bengong menatapku.
Duh, aku kok jadi ngebentak-bentak Iyan, sih? Kan, kasihan… Tapi ah, biarin Aja! Emang guess pikirin.
Sementara Itu, Mamih menghampiri Iyan yang masih mematung di tempatnya dengan takut-takut.
“Eh, ini beneran Iyan? Anaknya tetangga sebelah?” Tanya Mamih menyelidik. Dia merhatiin Iyan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Iya, Tante, ini Iyan. Masa Tante enggak kenal lagi, sih? Memang Iyan rada kurusan, Tante. Lagi diet ketat,” jelas Iyan.
“Uhm… Ngaku Aja kalau kamu jadi korban KDRT nya papah atau mamah kamu. Jangan takut. Biar Tante yang laporin kalau kamu takut. Yang penting, kamu jujur. Jadi kalau diperiksa polisi, prosesnya cepat, enggak mempersulit pemeriksaan,” ujar Mamih sok baik.
“Iyan bukan korban KDRT, kok, Tante. Cuma korban kostum retro usulan Karin,” sahut Iyan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *