My Stupid Boyfriend Bagian 30

Hari ini kami latihan lagi. Baik lagu, teknik menyanyi, maupun koreo kami udah lumayan manteplah. Minimal enggak rebutan balsem Dan plester lagi abis latihan. Singkat kata, kami udah siap berlomba, menghadapi rival-rival yang paling berat sekali pun. Caiyoooo!
“Halo, semua!” Iyan masuk ke ruang latihan sambil menenteng kantong plastik super Besar. Enggak jelas isinya kostum nyanyi atau korban mutilasi. Memang sih, Hari ini Iyan janji mau ngebawain kostum nyanyi kami yang sudah selesai dirombak. Untung Ada pengemis buta bersama antek-anteknya, partai pengemis mencari nafkah.
Aku diam Saja, enggal membalas sapaan Iyan. Aku masih gondok padanya karena kejadian kemarin. Cakep-cakep di kejar anjing, iih… Enggak banget, deh! Kalau di kejar cowok ganteng aih, mupeeeng.
“Gimana Yan, kostum Kita udah selesai dirombak?” Tanya Sisi menyambut Iyan.
“Beresss! Ini aku bawain,” jawab Iyan sambil membongkar kantong plastik Dan mengeluarkan kostum Sisi. “Tapi, aku enggak berhasil ngedapetin tahu sumedang, jadi aku ganti Aja dengan tahu isi.” Iyan merogoh kantong plastik lagi Dan ngeluarin sekatong tahu isi. Hm, lumayan buat camilan setelah latihan.
Tak lama kemudian, semua teman-teman udah sibuk mantes-mantes kostum nyanyi mereka masing-masing. Sementara, aku pura-pura cuek, duduk di pojokan. Kebetulan, kostumku udah duluan aku ambil sepulang dari markas partai pengemis mencari nafkah. Jadi, aku enggak perlu repot-repot lagi.
“Gimana, gimana? Keren, enggak?” Cindi berputar-putar nunjukin roknya yang udah selesai dirombak Iyan. Rok Itu jadi kayak layar terkembang.
Lalu tiba-tiba … GEDUBRAKKKK!
“Whoaaa!” Cindi jatuh terjajar karena pusing. Lagian, kecentilan amat sih, muter-muter kayak kipas angin ? Mending kalau anginnya rasa stroberi.
Terang Aja teman-teman pada ngakak ngeliat Cindi yang semaput, tapi aku enggak. Sebenarnya aku geli juga ngeliat Cindi gedubrakan puyeng Dan keseribet rok lebarnya Itu, tapi berhubung aku lagi marah Besar pada Iyan, aku berusaha menahan tawa.
“Kereeen… Jatuhnya…. Hahahaha!” Laura Dan Cinta ngetawain Cindi dengan kejamnya.
“Hahaha hahaha hahahaha!” Sambut teman-teman yang lain.
“Eh, Karin, kok diem Aja sih?” Cinta tiba-tiba sadar bahwa aku seperti sedang terasing dengan duniaku sendiri. “Hati-hati lho, ntar dipatuk Iyan!” Canda Cinta.
Mulutku tambah manyun. Mendengar nama Iyan disebut, membuat aku disusupi perasaan aneh, benci tapi rindu… Kayal lagu aja!
“Idiiih…. Manyuuuun!” Laura nimbrung. “Itu tandanya minta ciuuuum, xixixi!”
Aku tambah sebal mendengar Laura cekikikan kayak kuntilanak kejepit pintu. “Udah, aaaah… Lagi males bercanda nih, capek!” Celetukku Tak bersemangat.
“Capek?” Latihan juga belum, kok udah capek?” Tanya Cindi heran.
“Emangnya latihan Aja yang bisa bikin capek?” Sahutku balik bertanya.
“Capek lari-lari, Kan? Gara-gara kemarin Kita dikejar anjing…” Ungkap Iyan Sok jujur.
“APAAAA?! Dikejar anjiiiing?” Cindi terpekik. Teman-teman yang lain juga. “Kok bisa, sih? Jangan-jangan, anjingnya mengira kamu tulang-belulang yang kabur dari warung tegal!”
“Ya, bisa Aja. Anjing, Kan, Ada di mana-mana. Bukan hewan langka Dan belum punah. Kita lagi jogging, terus Ada anjing, dikejar gitu Aja,” sahut Iyan sambil nyengir.
“Iya, gara-gara kamu, tengkorak idup pengecut!” Serangku sambil menuding Iyan, terpancing emosi lagi. “Dan jangan lupa, kamu masih utang burjo sama aku!”
“Oh iya!” Iyan menepuk jidatnya yang kayak bumper truk. “Gara-gara dikejar anjing, aku enggak jadi traktir kamu burjo deh. Tapi jangan khawatir, aku Akan bayar utangku, Karin,” ujar Iyan tenang.
“Huh!” Aku melengos.
Tiba-tiba Mas Dimas masuk Dan menyapa kami semua, “Hai, semua! Gimana? Udah siap untuk latihan? Hari ini Kita tinggal mantepin pembagian suara sama koreonya Aja. Yuk, yuk, masing-masing ambil tempat!” Mas Dimas bertepuk tangan agar kami cepat bergerak.
Kami pun mulai latihan. Hatiku yang masih gondok langsung lumer begitu mendengar suara bariton suara Iyan yang merdu banget. Ya ampuuun…. Kenapa sekarang susah sekali untuk membencinya? Tapi, apa sih salah Iyan hingga aku harus membencinya? Kejadian kemarin Kan, bisa dialami oleh siapa Saja. Emangnya siapa yang pengen dikejar anjing sarap berlidah wiper? Dan siapa yang sempet mikirin orang lain kalau lagi tunggang-langgang dikejar anjing? Ah, aku jadi serba salah. Jangan-jangan aku ngambek begini hanya karena kepengen diperhatiin sama Iyan Aja. Duh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *