My Stupid Boyfriend Bagian 31

“Karin!” Tegur Mas Dimas tiba-tiba. “Kamu lemes banget? Berapa gelas cendol yang kamu bayar Hari ini?” Sindirnya, “Yang serius, dong! Lombanya tinggal 1 Hari lagi, nih.”
Aku tergagap. “I… Iya, Mas. Maaf,” sahutku, lalu buru-buru konsentrasi nyanyi. Sejak latihan paduan suara rutin, suaraku udah lumayan. Kalau dulu nyanyinya kayak mengembik, sekarang kayak mencicit. Rada haluslah.
Selesai latihan, aku cepat-cepat keluar dari ruangan, tapi Iyan buru-buru menghampiriku.
“Karin, pulang bareng yuk, aku bawa Mobil,” ajaknya.
“Enggak, ah. Pulang Aja sendiri. Aku masih mau ke mall dulu,” tolakku.
“Ngapain ke mall? Aku antar, ya?”
“Enggak usah, aku Naik angkot Aja. Lagian, ngapain nanya-nanya? Mau Tau urusan orang Aja.”
“Daripada Naik angkot, Kan mendingan Naik Mobil.”
“Mending pergi sendiri daripada dikejar anjing!” Tukasku sambil berlalu.
“Karin! Yuhuuuu!”
Aku Tak memedulikan panggilan Iyan. Tapi, meskipun puas sudah berhasil Lolos dari Iyan, aku tetap menyimpan kegelisahan. Gimana kalau Iyan enggak Akan berani lagi mendekatiku gara-gara sikapku yang sok jual Mahal begini? Aaaah… Jadi nyesel lagi.
Sebenarnya aku ini kenapa sih? Aku sendiri heran. Aku mencintai Iyan setengah mati, tetapi aku enggak pernah bisa ramah padanya. Kalau ngomong sama dia, bawaanku jutek terus, bahkan selalu Saja menyakiti perasaannya. Apakah Itu ungkapan rasa Cinta Gaya baru? Atau, aku memang punya kelainan, pengen nyiksa pasangan supaya puas? Yiayy…!
Tapi, ah, sudahlah… Nasi sudah Menjadi lontong, Ubi udah Menjadi tape. Tinggal gelar tikar di bawah pohon together, langsung bisa piknik, deh.
Mungkin aku Dan Iyan memang enggak pantas Menjadi sepasang kekasih, ya? Gimana mungkin pacaran tapi berantem melulu? Masa kalau orang malem mingguan mesra-mesraan, aku Dan Iyan jontok-jontokan? Euh, enggak elit banget. Emangnya Kita pasangan boxer?
Aku menghabiskan waktu dengan bersenang-senang di Mall. Makan, keluar masuk Dept. Store, dengan ngecengin cowok-cowok dewasa berdasi rapi. Dibandingkan mereka, Iyan sih enggak Ada apa-apanya. Iyan cuma cowok tengil yang kebetulan punya kemampuan nyanyi, masak, Dan menjahit. Enggak istimewa juga, sih. Bik Lala juga pinter nyanyi ala Bollywood (bahkan plus tari perut), masak, Dan menjahit. Toh, mentok jadi pembokat juga.
“Eh, Karin, bukan?” Sapa salah seorang cowok ganteng berdasi.
Aku menyipitkan Mata. Siapa, ya?
“Ini pasti Karin, Kan? Inget enggak, Kita pernah ketemu pas jogging pagi-pagi,” kata cowok Itu lagi.
Yeee, jogging emang pagi-pagi dong. Kalau jogging malam-malam namanua maling. Telmi juga night cowok. Belum pernah jadi maling Kali.
Aku kemudian berusaha mengingat-ingat… Ini kan… Dion? Iya, betul, Dion si berengsek pecandu istri orang itu! Iiihhh… Enggak banget, deh.
“Maaf ya, Mas salah orang Kali. Nama saya bukan Karin tapi Juleha. Anaknya tunggal Pak Sape’i yang rumahnya di daerah rel kereta api belok Kiri mentok gang buntu,” kataku akhirnya.
Dion ragu-ragu sejenak, lalu ngomong, “Oh, sorry kalau gitu. Permisi.”
Hihihi. Asin deh, tuh cowok gatel!
Setelah puas menghibur diri di mall, plus ngebohongin Dion, aku pulang. Begitu sampai di rumah, Mamih langsung menyongsongku dengan semangkuk bubur kacang ijo.
“Eeeeh… Karin, kenapa telat sih? Ke mall dulu, ya? Iyan udah pulang latihan dari tadi. Malah urag bikin burjo segala. Nih, cobain. Burjonya enak lho. Kata Iyan, kalau kamu mau ngejualinnya keliling kompleks, dia mau masakin burjonya tiap Hari… Bisnis kecil-kecilan,” celoteh Mamih riang.
Aku tercengang. “Ini… Iyan yang bikin, Mih?” Tanyaku kaget sambil merhatiin semangkuk bubur kacang ijo yang masih mengepul di tangan Mamih. Hm… Kayaknya sedaaap.
“Iya, beneran. Tuh, Iyannya masih di dapur, lagi nyuci panci,” jawab Mamih sambil menengok ke Sarah dapur.
“Hali hallo Karin, Itu burjonya ya. Ditanggung uenak Dan gratis. Utangku lunas, oke!” Seru Iyan sambil melongokkan mukanya yang belepotan busa sabun dari dapur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *