My Stupid Boyfriend Bagian 32

Malam Itu, aku bertopang dagu, termenung sendiri di tempat tidur. Ya iyalah termenung sendiri, kalau rame-rame namanya sakit Gigi masal.
Apa-apa aja ya ,yang sudah terjadi dalam hidupku belakangan ini? Mang Kasimin meninggal, rumahku kemalingan, Bu RT sibuk kampanye jadi Bu RW, ah… Enggak penting.
Aku baru nyadar, nih. Ternyata hari-hariku belakangan ini sangat dinamis, bergairah, dan penuh vitalitas. Entah karena tiba-tiba Iyan hadir sebagai pacar bohonganku, atau karena aku rajin minum supplement penambah gairah. Sebodo amat. Yang jelas, waktu terasa berlalu begitu cepat Dan penuh kejadian Tak terduga. Kebanyakan sih, kejadian mengesalkan yang disebabkan oleh Iyan. Tapi, setelah aku ingat-ingat lagi, ragam peristiwa konyol itu sekarang kok malah jadi kenangan lucu, ya? Aku jadi tersenyum-senyum sendiri.
Yah, mungkin memang hal-hal buruk yang terjadi baru bisa dipetik hikmahnya ketika sudah Rada lama terlewati. Karena Kita perlu waktu untuk berpikir.
Ah, Iyan… Kehadirannya telah memberikan warna Dan semangat tersendiri dalam hidupku. Penuh kejutan, kelucuan, sekaligus hentakan emosi. Dan, Itu.. menyenangkan. Mungkin itulah hidup yang sebenarnya, ya. Enggak pernah datar. Di dalamnya selalu Ada suka-duka, nikmat, Dan rasa sakit. Hidup tanpa Itu semua, pasti sangat ngebosenin. Seperti menghitung detak jarum jam yang Tak pernah berakhir sampe batere jamnya habis. Kecuali kalau jamnya punya lampu merah.
Kini, aku kehilangan Iyan. Meskipun sebenarnya dia selalu berada di sekitarku, tapi aku merasa dia begitu jauh, enggak tergapai. Mungkin lebih tepat kalau aku bilang, aku kehilangan status sebagai pacarnya. Dan Itu… Nyakitin Dan ngebosenin banget.
Sekarang, aku enggak mau membohongi diriku sendiri lagi. Aku capek. Lebih baik aku jualan burjo keliling kompleks ketimbang memendam perasaan ini sendiri. Perasaan ini telah cukup menyiksaku!
Tapi aku bingung. Kepada siapa aku mengadu? Serious. Aku butuh seseorang sebagai tempat curhat. Enggak mesti konsultasi ke psikolog atau Ustadz sih, ke tukang bakso juga boleh. Yang penting dia mau ngedengerin curhatku, lebih bagus lagi Kalau kemudian dikasih bakso gratis.
“KARIIIIN!”
Aku terlompat dari tempat tidur begitu melihat gengku tiba-tiba menyerbu masuk ke kamarku. Aku merasa kayak sedang disergap FBI aja. Ah, ya, tadi aku lupa mengunci pintu kamar. Pantas Saja mereka bisa merajalela seperti ini.
“”HAPPY BIRTHDAY TO YOU… HAPPY BIRTHDAY TO YOU!” Nyanyi mereka kompak. Tampak Sisi membawa kue tart choco cheese cuihhh kesukaanku dengan lilin yang menuala di atasnya.
Happy birthday? Aki terbengong-bengong sesaat. Ya ampuuun! Gimana aku bisa lupa? Ini kan, memang Hari ulang tahunku! Wah gawat, kayaknya pikiranku belakangan ini memang sedang error deh, sehingga enggak inget Hari lahir sendiri.
“Met Ultah, ya, dear!” Teman-teman geng-ku bergantian menyalamiku Dan cipika-cipiki. Aku sungguh terharu. Di saat hatiku sedang enggak menentu seperti belakangan ini, teman-teman setiaku hadir membawa keceriaan. Ah, aku jadi merasa bersalah sudah sedikit “melupakan” mereka karena Iyan. Dan, tentu Aja lebih baik curhat kepada mereka ketimbang curhat sambil nongkrongin gerobak bakso.
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang jugaaaa…!” Gengku nyanyi lagi. Dan, karena kami udah sering latihan vokal untuk paduan suara, nyanyian mereka Kali ini benar-benar merdu, enggak kayak bangunan ambruk lagi.
“Tenkyu, ya. Kalian ini… Bisa-bisanya bikin surprise party!” Seruku senang. Kemudian aku bersiap untuk meniup lilin ulang tahunku.
“Jangan lupa make a wish!” Seru Cindi.
“Iya, iya! Minta jaguar!” Timpal Laura.
“Keliling Eropa!” Tambah Cinta.
“Dapet jodoh tajir, baik, alim, enggak berkumis, Dan enggak usah diporotin!” Sisi ikut-ikutan.
Aku memejamkan Mata, memusatkan konsentrasimu, Dan mulai make a wish.
Tuhan, aku ingin. iyan jadi milikku…
Pfuuuuuhhh… Lilin pun padam.
“Horeee!” Teman-temanku bertepuk tangan.
“Kok pada enggak bawa kado? Enggak asyik, dong!” Candaku sambil tersenyum. Biar bercanda, tapi sebenarnya aku serious loh. Masa orang orang Ultah enggak dikasih kado? Apalagi yang Ultah cewek manis, berbetis indah, Dan berbakat jadi model majalah otomotof gini.
“Tenang, walaupun Kita banyak utang, tapi Kita enggak pelit, Rin. Kita sengaja enggak beli kado dulu. Kita pengennya, kamu yang milih kadonya, gitu,” jelas Sisi.
“Betul,” Cinta Dan Laura serempak mengitlyakan, “Kamu pengen dikadoin apa?”
“Asal harganya enggak terlalu Mahal,” sambung Cindi cepat, takut aku minta dibeliin strappy shoes ala Artis Hollywood. Biarpun temen, tapi kalau ngerugiin, sorry-sorry Aja, dweeh.
“Asal nyarinya enggak susah,” timpal Sisi. Dia memang paling males keliling mall buat nyari-nyari barang. Mendingan pesen online Aja.
“Asal enggak menyinggung SARA,” sahut Cinta yang sudah sering mendapatkan diskriminasi pas dulu tinggal di Kota kecil. Gara-gara bulu idungnya rada pirang, Cinta sering disangka bule.
“Dan asal enggak mengandung pornografi,” tambah Laura. Dia pernah hampir jadi korban pelecehan sensual di Facebook, jadi mendukung penuh UU antipornografi.
“Huuuu…. Kebanyakan syarat!” Selaku. “Uhm… Gini Aja. Aku enggak minta kado mahal-mahal, deh, aku cuman pengen… Kalian mendengarkan curhatku, Dan bantuin aku nyari solusinya…” Kataku.
Teman-teman geng-ku saling berpandangan heran. “Kamu serious enggak mau kado?” Tanya mereka kompak.
“Kalau Karin enggak may, kadonya buat aku Aja,” celetuk Cindi.
“Ya Itu tadi kadonya… Dengarkan curhatku… Tentang dirinyaaa,” jawabku saling tersenyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *