My Stupid Boyfriend Bagian 4

Minggu pagi, aku bangun kesubuhan. Pengen tidur lagi, tapi ngeri mimpi yang tadi bersambung. Masa di mimpi tadi aku dipaksa menikah dengan Rob Pattinson. Enggak mau, ah. Aku, kan maunya menikah langsung dengan tiga cowok, yakni Rob Pattinson, Rain, Dan Sasuke.
Aku langsung nelpon Sisi, nanyain agenda acara Hari minggu ini.
“Aku mau ke salon agak siangan dikit nanti,” jawab Sisi.
“Aku ikuuutttt!”
“Iya. Nanti aku jemput.”
“Bayarin aku krembat, ya.”
“Beres. Tapi aku ke salon anjing, lho. Aku mau ngurus si Snowy, nih. Kalau kami mau krembat di sana sih, boleh, kok.”
Klik. Aku langsung matiin HP. Dia pikir aku udah berubah jadi pudel, kaleee.
Akhirnya, aku memilih jogging. Setelah kucek-kucek mata seadanya dengan air keran, aku ganti kostum sport. Ya iyalah, Masa mau jogging aku pakai kostum ondel-ondel. Selain enggak punya, juga enggak sopan.
Saat pamitan ke Mamih, aku lihat Mamih lagi sibuk dandan. Kali ini nyobain bulu idung palsu yang dibeli kemaren. Katanya, bulu idung Itu bisa membuat ingus Dan kotoran yang masuk idung jadi upil berwarna pink. Ya… Biarpun pink warnanya, upil mah sama ajah jijay.
“Mih, jogging dulu, ya,” aku pamitan.
“Pulangnya Mamih bawain makanan, ya.”
“Bubur ayam?”
“Iya. Masa, sih, bubur gajah.”
“Kali Aja, Mih, pengen bubur kereta api.”
Aku langsung keluar Dan enggak sengaja melihat Rumah Iyan di sebelah. Saat itulah aku baru nyadar kalau statusku sebenarnya udah bukan jomblowati lagi. Tapi, Masa sih, cuma pengen jogging Aja mesti laporan ke Iyan. Sabodo amat, ah!
Aku ke Luar pagar, langsung ngibrit dengan Gaya lariku yang kata Cindi mirip kodok panik. Yah, biarin, deh. Toh, yang ngomong juga kayak kodok kebakaran jenggot.
Huft! Huft! Ya elah, baru keluar kompleks sampai jalan Raya, napas udah sekarat. Payah
Gimana mau menang lomba nasi tumpeng tahun depan, nih? Padahal, dulu akubtuh memborong semua lomba tujuh belasan di kompleks. Satu-satunya yang Lolo’s adalah kontes kumis lebat. Aku, kan, enggak punya kumis. Pernah, sih, ngasih usul agar diganti kontes bulu ketek lebat, eh, ditolak sama panitia.
Swing…
Tiba-tiba Indra pemciumanku yang terlatih dengan aroma cowok cakep, menangkap sinyal penting. Aku merasakannya ketika seorang cowok melewatiku dari belakang. Kini… Bagian belakang cowok Itu tampak di mataku. Kepala Bagian belakangnya menandakan dia berambut Spike ala gara di serial Naruto. Bahunya tampak bidang, bokongnya jangan ditanya. Betisnya juga bagus, tanpa varises.
Ciaaaaat! Aku enggak boleh menyia-nyiakan kesempatan kenalan dengan dia. Aku harus nyusul diam dengan kekuatan menyerap energi matahari, aku mempercepat akselerasi lariku.
Bruk!
“Oh, maaf!” Aku pura-pura menyenggolnya.
“Ah…. Enggak apa-apa.”
Tiba-tiba aku merasa bersayap, terbang ke pelangi tujuh belas warna. Tuhan Maha baik. Pagi-pagi aku udah sarapan wajah cowok ganteng dengan suara bariton yang sempurna.
“Kok, muka kami pucet gitu?”
Ih, aku bener-bener enggak bisa kontrol beungeut (wajah). “Tadi lupa sarapan,” jawabku.
“Kalau gitu, larinua jangan cepat-cepat. Santai Aja.”
“Kalau pelan-pelan, nantinya aku malah keburu pingsan di jalan. Aku pengen buru-buru nyampe ke tukang bubur di sekitar jogging park.”
“Aku temenin, deh.”
Aku ingin loncat ala Dora tanda keberhasilanku. Tapi aku khawatir cowok ini malah mengira aku si swiper pencuri. Maka dengan jurus nomor Dua, aku berubah cepat Menjadi perempuan lembut berdarah dingin.
“Terima kasih. Kamu baik sekali,” ucapku sambil menunduk agar Tak pingsan melihat matanya. Lagian menunduk Itu Ada untungnya juga di jalanan. Kali-kali Aja nemu uang.
“Aku yang nalah senang bisa nemenin cewek secantik kamu,” katanya.
Ingat primbon halaman 27. Kalau cowok udah merayu di perkenalan Pertama, maka dia udah jatuh cinta. Jadi, aku enggak perlu repot-repot lagi mengencangkan susuk Nyi pellet (untungnya aku enggak masang).
“Namaku Dion. Kamu?”
“Karina Ayu. Kami boleh panggil aku Karin.”
Hehehehe. Aku sebenarnya enggak suka cowok bernama Dion. Soalnya, aku udah meriset nama Dion di Facebook. Mereka Itu kebanyakan emang cakep, tapi Playboy.
“Nama yang sesuai aslinya. Ng, kok joggingnya sendiri?”
“Mamih lagi sibuk. Mau ngajak Bu RT, pasti belum bangun karena abis ngeronda semalem.”
“Cowok kami?”
“Aku masih single.” Tentu Saja Dua jariku sambil disilangkan.
“Wah, sama dong.”
“Kamu jomblo juga?”
“Maksudku, sama dengan kucing angoraku. Dia juga lagi single.”
Apa, sih, maksudnya? Aku enggak menderita kelainan pecinta kucing angora, kok. “Jadi, kamu tuh udah punya pacar?”
“Ng, sebenarnya masih enggak jelas. Masih ngegantung. Dibilang punya pacar, dianya belum ngasih jawaban. Dibilang enggak punya pacar, akunya seneng sama dia.”
“Kenapa dia enggak ngasih-ngasih jawaban?”
“Dia lagi sibuk syuting. Mungkin juga dia enggak ngerti apa yang aku katakan.”
“Emang cewek yang kamu senengin siapa?”
“Isabella Swan.”
Ih, jayus! Aku, tuh, tadi udah hopeless, pengen manggil ambulans nganterin ke rumah. Enggak taunya dia bercanda doang udah punya gebetan.
Tanpa terasa, kami nyampe juga di area jogging park. Aku langsung menggeret perutku ke tukang bubur. Kupesan Dua mangkok sekaligus. Tapi enggak gampang ngedapetin tuh bubur, soalnya ngantri.
“Aku lari Satu putaran dulu, ya!” Kata Dion.
Aku mengangguk. Biarlah dia lari Satu putaran dulu, enggak bakal lama kok. Tadinya sih, aku pengen ikutan, tapi kayaknya aku udah enggak sanggup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *