My Stupid Boyfriend Bagian 5

“HAI! Kamu ternyata jogging juga!?”
WHAT?!!
Iyan! Dia seperti Siluman, tahu-tahu sudah duduk di sampingku dengan pakaian olahraganya.
Aaaaarghhhhhh….. Ke Mana tongkat sihirku? Aku ingin menyihirnya jadi pohon anthurium.
“Iya. Sebenarnya sih, cuma pengen makan bubur,” timpalku sambil mikir Cara ngusir Iyan secara halus. Masa aku nyuruh dia beli pembalut wanita ke Thailand? Ini, kan, bukan Masa datang bulanku.
“Padahal tinggal SMS aku Aja. Pasti nanti aku beliin,” ucap Iyan.
Tiba-tiba Mata elangku melihat seorang ibu yang panik karena anaknya ngamuk sambil nangis Dan guling-gulingan di rumput.
“Enggak mau! Enggak mau! Pokoknya minta dibeliin maenan!” Jerit si anak.
Aku memberikan kode agar Iyan melihat kelakuan anak itu. “Yan, bantuin ibunya tuh, biar anaknya tenang,” kataku. Maksudnya, kalau Iyan meleng nanti, aku pengen langsung kabur nyari Dion.
Iyan langsung mendekati anak itu. Dengan Gaya satpam sekolah yang belum sarapan tujuh Hari, Iyan membentak anak Itu. ” Heh, jadi anak tuh jangan nyusahin ibu gitu, dong. Kalau jerit-jeritan terus, nanti dikasih kecoak, lho!”
“Kecoaak! Aaaaargh!” Anak itu langsung pingsan.
Aku kaget. Apakah anak itu penderita phobia kecoak? Kok bisa sampe pingsan, gitu?
“Heh, situ siapa? Kok, nakut-nakutin anak saya! Anak saya trauma sama kecoak, Tau!” Si ibu langsung ngamuk. Dia merampas centong tukang cendol Dan mengarahkan ke Kepala Iyan.
Iyan langsung ngibrit sekuat tenaga.
Karena aku takut ketempuhan, aku diam-diam membayar bubur yang belum habis, terus kabur dari lokasi Itu. Mendingan Cari Dion Aja. Di Mana ya, dia? Kok, enggak nongol-nongol.
Mataku bererar kayak satellite mata-mata Amerika.
Jantungku berderak keras ketika melihat Dion tengah jongkok di depan Mbok Ayu penjual jamu gendong. Dia minum jamu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meremas tangan Mbok Ayu.
“Ayuk, rumahnya di Mana? Boleh enggak sekali-kali mampir? Kalau suaminya biasanya enggak di rumah jam berapa?”
Iiiih! Enggak sopan banget, sih? Udah ninggalin aku di tukang bubur, malah ngelabain tukang jamu. Dasar pecandu istri orang! Mulai detik ini juga, aku enggak mau kenalan lagi sama cowok yang namanya Dion.
Aku pun memutuskan untuk pulang. Di tengah jalan, Iyan mengejar sambil ngos-ngosan. Di jidatnya nangkring benjolan lumayan gede. Ternyata dahsyat juga centong tukang cendol buat ngegeplak. Kapan-kapan aku harus pelajari jurusnya.
“Yan, kamu enggak apa-apa, kan?’ tanyaku.
“Oke-oke aja, kok,” jawabnya sambil ngos-ngosan. “Cuman….”
Brukkk. Yaa… Dia pingsan, deh, tuh. Centil amat sih, pingsan di jalan. Enggak nunggu di rumah Aja.
Aaarrghhh! Hari yang menyebalkan!
Hari ketiga jadi pacar nyasar Iyan. Aku berharap enggak Akan Ada lagi kejadian lebih sial dari kemarin. Makanya, aku berusaha menghindari pertemuan dengan Iyan.
Lagi pula, aku masih backstreet dari teman-teman Satu geng soal hubunganku dengan Iyan. Bahaya. Jangan sampai mereka tahu. Kalau pun tahu, nanti-nanti Aja kalau aku udah dapat Visa ke Prancis.
“Karin, mau ke Mana sih, buru-buru amat jalannua? Emang Ada pembagian ikan asin di Mana?”
Aaargh!
Aku tuh, udah mengendap-endap keluar dari Rumah kayak making duren perempuan Pertama di dunia. Terus masuk secepat kilat melewati pintu gerbang Rumah biar enggak ketahuan berangkat sekolah sama Iyan. Eh, enggak taunya Iyan udah nunggu di depan gerbang nemenin tiang listrik.
“Ngapain kamu di depan gerbang?” Tanyaku.
“Emang kenapa?”
“Ngalangin tukang Koran.”
“Oh, bukannya udah tadi, pagi-pagi banget? Lagian, aku tuh sengaja nunggu kamu. Biar bisa berangkat bareng, nih,” jelas Iyan sambil garuk-garuk Stang motor di sebelahnya. Mungkin grogi. Mestinya sih, orang kucrut kayak dia enggak kenal kata grogi.
“Kan, aku, tuh, udah bilang, enggak mau bareng kalau berangkat sekolah. Kecuali kamu bawa mobil. Masa sih, kamu tega biarin aku panas-panas Dan berdebu bonceng motor?”
“Jadi kalau aku bawa mobil boleh, ya?”
“Iya. Sedan, Dan kursinya enggak bau.”
“Tunggul sebentar kalau gitu.” Iyan kemudian membuka HP nya, bicara sebentar, kemudian…
Hah! Sebuah sedan hitam berhenti di depan. Ya, ampun! Sedan siapa, nih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *