My Stupid Boyfriend Bagian 6

“Selamat pagi, Karin!” Seorang wanita setengah baya keluar dari sedan yang masih baru Itu. Aaaah, dia kan mamanya Iyan, alias tante Cut Misye.
“Selamat pagi, Tante,” balasku.
“Ke sekolahnya bareng Iyan Aja, ya…” Kata Tante Cut Misye.
“Iya, Tante,” kataku karena enggak mau dianggap anak enggak sopan menolak ajakan baik sedan.
Tante Cut Misye menyerahkan kunci Mobil ke Iyan Dan berdiri di Luar. Aku duduk di samping Iyan yang mulai menyetir. Beberapa detail kemudian, aku baru sadar. ” Apa kata teman-teman gengku nanti, ya?”
“Yan, nanti aku turun di apotek sebelum sekolah, ya.”
“Emangnya udah buka pagi-pagi gini?”
“Kayaknya udah, deh. Itu, kan apotek 24 jam.”
“Emang mau beli obat apa, sih?”
“Obat biar kalau pagi-pagi enggak pusing denger cowok di sebelahnya nanya melulu.”
Iyan ketawa.
Jarak dari Rumah ke sekolah dibilang jauh, enggak, dibilang deket, juga enggak. Cuma kalau pagi bisa lama nyampenya karena melewati area pasar yang tumpah sampai ke jalan.
“Kita Cari jalan alternatif Aja, ya,” gumam Iyan ketika melihat kemacetan menjelang pasar yang mulai parah.
“Iya. Jangan sampai telat ngikutin upacara. Aku udah kangen nih, dengerin pembacaan pembukaan UUD 45.”
Iyan kemudian membelok ke Kiri, masuk ke jalan yang lumayan sempit.
“Yan, ini bukannya lewat kuburan umum?”
“Iya. Tapi tenang Aja. Pocongnya udah para jinak, kok.”
“Emangnya gimana sih, Cara jinakin pocong?” Aku mendelik sambil ngebayangin Iyan bawa pecut Dan kursi kecil kayak pawang singa sirkus, tapi yang dihadapinya pocong.
“Diputar, dijilat, dicelupin.”
“Jayus!”
Mobil Makin melewati jalan sempit. Pohon-pohon kamboja semakin banyak di sisi jalan. Dan, tiba-tiba Aja mesin mobil mati. Horror banget suasananya.
“Yan, Ada kekuatan gain yang bikin mati Mobil, ya?” Tanyaku.
“Bukan. Ini bensinnya ternyata belum diisi sama nyokap. Kayaknya terpaksa dorong Mobil, deh…”
Apa? Masa cewek berbetis terindah Abad ini kayak aku mesti dorong Mobil? Gila Aja! Ini namanya pelecehan betis. Aaargh!
“Enggak. Aku enggak mau. Aku mau nyari ojek aja,” kataku menghindari olahraga terhina di pagi Hari.
“Ya, mendingan gitu Aja. Tapi, nanti tolong bilangin sama guru piket, ya, kalau aku terlambat,” kata Iyan.
“Enggak janji, ya!” Aku menarik tasku lalu berjalan menuju jalan belokan tadi.
“Ojek, Non. Mumpung enggak ujyan Dan enggak becyek,” tawar Satu tukang ojek.
Ih, males banget deh, tukang ojek ngefans sama cinta Laura. Jadul, jadul! Aku nyari tukang ojek yang Rada tuaan dikit Aja deh. Biar enggak kecentilan.
“Pak, ke SMA Romantic School, ya. Enggak pake lama, tapi enggak pake kecelakaan,” kataku langsung begitu melihat tukang ojek yang berwibawa Dan pake baju Koko.
“Siap, Non,” katanya.
Aku duduk di belakang si tukang ojek. Sengaja kusimpan tasku di antara kami. Motor pun dijalankan dengan kecepatan sedang.
Sebenarnya kalau sampai teman-teman gengku tahu, aku bisa dihukum enggak boleh pake maskara selama sebulan kalau Naik ojek. Tapi aku lagi kepepet macet. Cuma ojek yang bisa menerobos kemacetan selain ambulans. Itu pun aku harus merem melek saking banyaknya motor yang juga mepet di sisi jalan.
“Ati-ati, Pak!”. Jeritku ketika nyaris menyenggol gerobak ketoprak.
“Tenang Aja, Non. Tukang ketoprak enggak apa-apa, kok,” timpal si tukang ojek.
Bukan soal tulang ketopraknya! Kalau sampai betis aku lecet, kan berabe. Aku enggak mau ke sekolah pake stoking, karena di rumah cuma punya yang warna hijau tentara. Aku kan, bukan pasukan GI Joe.
Tapi, rupanya Pak ojek yang kupilih bukanlah pengendara ojek yang mahir. Apa karena faktor umum juga Kali, ya. Abis, sebentar-sebentar nginjek rem. Beberapa Kali mau nyerempet, bahkan aku tuh sampe teriak-teriak saking kagetnya.
“Auw, marimar!” Teriakku.
“Upin Dan Ipin makan pepaya. Maafin says, ya,” kata si tukang ojek malah berpantun.
“Paris Hilton makan jengkol. Dasar Kang ojek dodoooool,” aku histeris karena lagi-lagi pengen nabrak Mobil tinja.
Setelah berjibaku lumayan lama, akhirnya si tukang ojek berhasil Lolos dari kemacetan. Tapi karena faktor usia motornya, enggak bisa ngebut. Wuah, padahal aku udah geregetan pengen mecutin pake tas.
Hufh… Akhirnya sampai juga di depan gerbang. Aku buru-buru membayar ongkos, lalu bergegas melewati pintu gerbang yang nyaris ditutup.
“KARIN!”
Suara Itu?
“Kok, baru nyampe?”
“Lho, kamu, kok udah sampe sini?” Aku kaget melihat Iyan. Kuperhatikan telapak kakinya. Jangan-jangan ini arwah gentayangan setelah dicekek kuntilanak kesiangan di kuburan.
“Iya. Tadi rupanya nyokap nyusul pake motor sambil bawa jerigen isi bensin. Nah, mobilnya kemudian jalan. Tapi kamu udah enggak Ada, sih. Jadi aku ke sekolah sendiri lewat jalan pintas tadi,” jelas Iyan santai.
Aaarrghhh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *