My Stupid Boyfriend Bagian 7

Hari ini pelajaran bahasa Inggris dari Miss Roro, bukan nama asli. Guru cantik ini bernama asli Sabrina, tapi karena teman-temannya pernah melihat kulit kakinya kasar alias rorombeheun, jadilah ia dipanggil Miss Roro. Kesan namanya, cocok dengan keanggunannya.
Aku setengah hati mengikuti pelajaran karena aku lebih suka bahasa Mandarin atau Korea yang jauh lebih menantang. Hurufnya Aja bisa jadi desain anting Dan pagar Rumah.
Aku lihat sebagian Besar juga begitu. Abisnya, Miss Roro ini kalau ngajar bukannya tentang Tata bahasa, tapi malah ngedongeng masa-masa indahnya dulu kuliah di Amerika. Padahal, apa istimewanya sih kuliah di Amerika? Udah banyak yang kuliah di sana. Kalau kuliah di Zimbabwe, mungkin lebih menarik. Lagian, kuliah jauh-jauh di Amrik kalau ujung-ujungnya jadi guru bahasa Inggris, apa enggak sayang, tuh?
“Karin! What are you doing?”
Oops, Miss Roro memanggil aku.
“Listening your story,” jawabku buru-buru.
“I don’t trust you. I saw you drawing something. Give me your paper.”
Hah! Iya, sih, gue tadi emang sambil ngegambar-gambar gitu di selembar kertas. Tapi, sumpah, Itu juga di Luar kesadaran gue, soalnya gue lagi ngelamun.
“Cepat bawa ke sini!”
Sebelum penyakit kulit telapak kakinya nular ke kakiku, buru-buru aku menyerahkan kertas Itu. Eh, tadi aku tuh gambar apa, ya?
“Siapa yang kamu gambar ini?” Tanya Miss Roro. Dia bingung, lalu memperlihatkan karyaku ke seluruh siswa.
Ya ampun… Itu kan mirip muka…
“Kok, kayak mukanya Iyan anak 11-5?” Celetuk Ali.
Kenapa aku ngegambar-gambar muka Iyan, ya?
Aku melihat ke arah Sisi, Cindi, Cinta Dan Laura. Muka mereka sesadis para peserta audisi acara siapa mau jadi ibu tiring Cinderella?
“Iyan pacat kamu, ya?” Tanya Miss Roro. Kelas jadi heboh gara-gara ucapan Miss Roro.
“Cieeeee!”
“Prikidut!”
“Bukan, kok. Saya malah sebel sama dia. Iyan Itu tetangga nyebelin banget sebelah Rumah saya. Rencananya, abis saya gamnar mukanya, mau saya tusuk-tusuk pake jarum. Tapi keburu diminta,” aku berusaha ngeles kayak pendekar.
“Oke, kalau begitu ambil lagi kertasnya, nih. Lanjutkan keinginanmu setelah pelajaran saya selesai!”
Aku buru-buru mengambil kertas gambar Itu. Miss Roro melanjutkan mengajar. Kelas kembali tenang. Tapi dadaku bergemuruh kayak mesin pabrik rusak. Aku tahu apa yang Ada di pikiran teman-temanku.
Well, seperti yang kuduga… Ketika istirahat tiba, semua anggota kupu-kupu beracun dari bukit utara mendekatiku dengan tatapan menghakimi. Tanpa basa-basi, Sisi Dan Cindi menyeret lenganku, sementara cinta Dan Laura mengiringi kami dengan menyanyikan lagu, “geregetan, jadinya… Geregetan!”
Mereka kemudian membawaku ke kantin. Mereka melepasku tepat di depan Iyan yang lagi menjulur-julurkan cendol pake jari jemarinya.
“Iyan, sekarang katakan kepada kami, kamu pacaran apa enggak sih sama Karin?” Tanya Sisi langsung.
Iyan melongo sebentar. Dia melirik ke arahku. Aku enggak may melihat mukanya yang belepotan cendol.
“Ayo, jawab!” Bentak Cindi.
“Pacaran sama Karin?” Ulang Iyan sambil berdiri. “Enggak mungkin banget. Karin bukan tipe gue! Lihat Aja penampilannya. Rambut enggak beda jauh sama benang kusut, pinggang Rada lebar kebanyakan makan, kalau ngomong Sok seleb…”
“Heh, stop! Siapa yang nyuruh nyela-nyela aku?” Jelas, dong, ini kalimat dari mulutku.
“Aku, kan, ditanya Cindi,” timpal Iyan.
“Kamu cuma diminta menjawab pacaran atau enggak.”
“Ya, kan, mesti Ada pembukaan dulu sebelumnya.”
“Udah, udah! Kok malah berantem?” Pisah Cindi.
“Pacaran atau enggak?” Tanya Sisi.
“Kalau pacaran, Mana mungkin Kita berantem. Bukan begitu, say?” Tanya Iyan.
“Enggak pacaran tapi manggil ‘say’?” Tanya Cindi.
“Maksudku, sayton. Kan, belum beres ngomong,” sambung Iyan.
“Elo, tuh, yang tabloid! Tampang bloon Dan idiot!” Aku jadi sewot, lepas kendali. Padahal aku sudah sering melatih kesabaran Demi nama baikku saat mengikuti pemilihan Miss Universe nanti.
“Sebagai buktinya, Coba lihat Hp Kalian. Apakah Kalian menyimpan SMS messages atau malah tukeran foto untuk wallpaper,” sahut Cinta Dan Laura kompak.
Cinta memeriksa smartphone punyaku. Di wallpaper-nya sudah seminggu ini kupasang Sasuke. Laura memeriksa punya Iyan. Di LCD-nya mejeng gambar Paris Hilton. Huh! Seleranya kampungan! Empat sahabatku mulai percaya Tak Ada hubungan istimewa antara aku Dan Iyan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *