My Stupid Boyfriend Bagian 8

Pulang sekolah, aku menghindar mati-matian dari Iyan. Tapi di rumah, aku Tak bisa berkutik. Aku kepergok lagi duduk santai di teras Rumah.
“Karin, sorry yang di sekolah tadi, ya,” katanya dengan tampang memelas.
“Kenapa mesti sorry?”
“Emang begitu, kan, aku ini di matamu?”
“Enggak. Sumpah banget! Tadi Itu aku akting. Biar sobat-sobat kamu percaya. Kamu, kan, pengen hubungan Kita enggak ketahuan mereka pasti. Makanya aku akting kayak tadi. Gimana aktingku? Bagus enggak?”
“Akting sampah gitu dibilang bagus!” Semprotku kesal.
“Buktinya mereka percaya.”
“Udah, pulang Sana! Aku ini, kan, bukan tipe kamu. Cari Aja Sana yang kayak Paris Hilton!”
“Lho, katanya enggak marah?”
Aku berdiri Dan masuk ke dalam Rumah. Meninggalkan Iyan di teras Rumah.
“Di Luar masih Ada Iyan?” Tanya Mamih yang mencemaskan di ruang tengah.
“Kayaknya masih. Kenapa, Mih?”
“Mamih mau minta tolong, dong. Pinjamin Mobil Iyan. Mamih harus buru-buru ke Rumah Tante Cintia.”
“Kenapa enggak pake Mobil Kita Aja?”
“Mogok. Akinya ngadat. Mamih enggak bisa beresin.”
“Ya udah, nanti Aja ke Rumah Tante Cintia-nya.”
“Ya, Mana bisa. Tante Cintia baru datang dari Korea. Kalau enggak buru-buru ke rumahnya, semua oleh-olehnua bakal habis sama yang lain. Padahal Mamih udah pesan tas. Nah, kamu juga, kan, pengen sepatu Korea.”
Oh iya. Rugi banget kalau sampai kehabisan. “Ya, okelah. Demi sepatu Dan tas,” kataku sambil berjalan kembali ke depan, menemui Iyan yang masih bengong.
“Karin… Kamu mau minta maaf, ya?” Tanya Iyan.
“Enggak.”
“Pasti kamu nyesel tadi udah marahin aku.”
“Enggak juga.”
“Tenang Aja. Aku udah maafin, kok. Masa pacar sendiri enggak dimaafin.”
Darahku langsung Naik ke ubun-ubun. Aku langsung balik menemui Mamih. “Mamih… Ngomong sendiri Aja sana. Karin enggak mau ngomong sama dakocan jadi-jadian!”
Aaarrghhh!
Mamih berhasil menjinakkan Iyan. Tapi Iyan mengajukan syarat, aku harus ikut.
“Ayolah, Karin. Ikut sebentar Aja. Memangnya enggak kepengen sepatu Korea kayak yang dipake Song Hye Kyo?” Tanya Mamih membujukku di kamar. Terbayang langsung sepatu kereb yang dipake Artis favorite Itu. Lucu Dan kyut. Yang jelas, bukan produk Mangga Dua.
Karena terus dirayu Mamih, akhirnya aku merelakan diri mengantar Mamih. Lagian, aku enggak tega kalau membiarkan Mamih pergi berdua sama Iyan. Nanti dikirain orang Mamih baru Aja menang arisan brondong.
Iyan langsung menampakkan semangatnya ketika melihat aku keluar dari pintu Rumah. Tapi, aku masih malas meresponnya. Jadi, kubiarkan Aja Mamih duduk di depan bersama Iyan. Aku duduk di belakang.
Tante Cintia tinggal di apartemen mewah di tengah Kota Jakarta. Adik Mamih yang Satu ini memang punya Gaya hidup sosialita banget. Hobinya jalan-jalan ke Luar negeri sampai paspornya sering gonta-ganti karena kebanyakan dicap imigrasi. Tentu Saha Hal Itu memungkinkan, lantarab Tante Cintia punya suami seorang pengusaha tajir. Ya, walaupun Tante Cintia jadi istri ketiga, tapi dia menikmati hidupnya.
Cuma, yang namanya jalan menuju pusat Kita Jakarta buat aku, suatu siksaan banget. Macet terutama. Apalagi kalau menjelang perempatan lalu lintas.
“Emangnya enggak bisa ya, kalau enggak lewat perempatan?” Tanyaku protes karena bete.
“Bisa Kalau terbang,” kata Mamih garing.
Ya, mendingan kalau pas macet gini, sebelah Mobil aralag sekelompok cowok cakep. Tapi kalau….
Hah! Bukannya Itu Mobil Cindi?
Spontan akun menunduk. Gawat kalau aku sampai ketahuan berada di Mobil bareng Iyan.
“Kamu ngapain ke bawah-bawah? Nyari jatohan keripik Mamih, ya?” Tanya Mamih.
“Bukan, Mih. Barusan permen karet Karin jatoh. Sayang, baru dimakan, belum Lima menit,” jawabku sambil berdoa semoga kemacetan ini segera berlalu.
Smartphone punyaku berbunyi. Tanda SMS masuk. Ternyata yang mengirim Iyan. Ngapain juga ngirim SMS segala. Tapi, penasaran juga pengen membacanya.
“Ngapain ngumpet. Mobil ini pake kaca film. Gelap. Cindi enggak bakal Tau kok Ada kamu di sini.”
Hah! Iya juga, ya. Aku kembali duduk. Tapi tetap tidak tenang. Siapa tahu Cindi punya kesaktian melihat orang dengan jelas walaupun di balik kaca film.
Begitu Mobil jalan kembali, aku bernapas Lega. Dan sampai mendekati apartemen yang kami tuju, aku Tak melihat mobil Cindi lagi.
Setelah parkir di tempat terdekat sama lobi, aku Dan Mamih terburu-buru turun, menuju sekuriti untuk mengisi buku tamu. Iyan mengekor kayak barongsai. Kami kemudian menuju lift. Letak tempat tinggal Tante Cintia Ada di lantai 23.
“Aku sih enggak mau tinggal di apartemen setinggi ini,” gumam Iyan sambil menunggu pintu lift terbuka.
“Ya, kamu emang cocoknya di kolong jembatan. Terutama jembatan sirotol mustakin,” timpalku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *