My Stupid Boyfriend Bagian 9

Ting.
Pintu lift terbuka. Kami bertiga masuk ke lift yang kosong. Aku langsung diam Dan berdoa. Ssst, jangan bilang siapa-siapa, ya. Sebenarnya aku punya penyakit claustrophobia alias takut di ruang sempit kayak lift ini. Tapi masih mending aku punya penyakit yang namanya keren. Cindi malah punya penyakit takut sama combro yang sampe sekarang enggak Ada istilahnya.
“Kalau tiba-tiba liftnya mati di lantai 13 gimana, ya?” Tanya Iyan.
“Jangan sampai,” kata Mamih.
Aku enggak mau ngebayangin.
“Tapi mungkin aja. Di negara maju kayak Jepang atau Amerika Aja masih sering kejadian lift mati.”
Aduh, Iyan bisa diam enggak, sih? Coba sepatu Mamih dicekokin ke mulut Iyan Aja.
Jglek. Tiba-tiba lift terayun seperti mau berhenti di lantai 13 karena Ada yang mau Naik. Aku menunggu pintu lift terbuka. Hm, siapa tahu yang masuk Kim Bum. Aku akan pura-pura pingsan Dan jatuh di pangkuannya.
Eh, tapi kok pintunya lama banget enggak terbuka, ya?
Mamih menekan tombol membuka pintu. Tapi Tak Ada reaksi. Iyan ikut menekan karena kurang yakin, sama Cara Mamih menekan tombol. Tapi enggak Ada hasil juga.
“Aduh, kok, enggak kebuka?” Tanyaku panik.
“Tenang dulu. Mungkin memang Ada masalah sama listriknya,” kata Mamih.
“Waduh, Mana pas lantai 13 lagi,” sahut Iyan.
Aku mendelik sengit ke arah Iyan, biar rahangnya ditutup rapat.
“Dia punya claustrophobia,” Mamih membocorkan penyakit.
“Oh, jadi kamu phobia sama santa Claus?” Tanya Iyan.
Enggak lucu! Garing! Jayus! Aku sumpahin besok-besok dia dikutuk jadi kijangnya sinterklas.
“Ya Tuhan! Mamih!” Aku menjerit tanpa sadar karena tiba-tiba lampu lift berkedip-kedip.
“Tenang dulu. Masih Ada aku di sini,” ucap Iyan.
“Nggak ngaruh kalau cuma diam doang,” bentakku. “Mamih telepon Tante Cintia Aja. Tante Cintia ngasih tahu sekuriti.”
“Oh, iya. Benar juga.” Mamih membuka BB-nya Dan menelpon Tante Cintia. “Yaaah, enggak Ada sinyal. Mungkin katena di dalam lift.”
Aku Makin panik. Soalnya, smartphone punyaku juga enggak Ada sinyal ya seupil pun. Payah benar operatornya. Katanya sinyalnya kuat? Baru di lift apartemen Aja udah ngilang. Gimana mau sampai kutub utara?
“Test… Maaf. Test…!”
Tiba-tiba terdengar suara dari speaker kecil di dinding lift. “Kami dari pihak pengelola apartemen, mohon maaf bagi siapa Saja yang Ada di dalam lift ini. Saat ini listrik sedang padam, Dan kami Akan berusaha menggantinya dengan generator sementara,” kata suara di speaker. “Harap tenang Dan bersabar.”
Huh-uh, gimana bisa tenang terkurung di lift macet beginning? Gimana kalau operator yang mau nyalain generator tiba-tiba sakit perut? Pasti lama lagi. Apalagi kalau sakit perutnya abis makan rujak yang cabenya sebelas. Pasti lebih lama lagi. Belum kalau tisunya abis, juga airnya mampet. Wuah… Gimana kalau abis dari toilet terus dia lupa, malah main layangan?
Wussss! Ada sedikit hentakan. Lift kembali berjalan seperti semula.
“Besok-besok kalau pindah apartemen, Tante Cintia jangan Cari lantai yang tinggi-tinggi, dong,” gumamku.
“Ya, Mana bisa. Tante Cintia kan selalu nyari lantai sesuai tanggal lahirnya,” timpal Mamih.
Begitu di lantai 23, pintu lift terbuka. Aku keluar paling dulu sebelum datang bulanku meleset dari jadwal. Masih beberapa langkah menuju pintu masuk. Aku teringat sesuatu.
“Yan, ngasih tahu Aja, karena kami enggak kenal tanteku. Sebisa mungkin jangan berdiri dekat diam. Kalau di dekat dia, mendingan duduk. Kalau mau berdiri, tunggul tanteku rada jauhan atau kamunya yang menjauh,” pesanku.
“Memangnya kenapa?”
“Ikuti aja saranku.” Pengen Tau Aja, Iyan penasaran enggak, ya?
Mamih menekan bel berbentuk bibir. Pintu kemudian dibuka oleh Tante Cintia. Setelah cipika-cipiki, aku langsung menyeret Iyan agar duduk di sofa. Baru kemudian kukenalkan.
“Tante, ini Iyan. Anak tetangga,” tunjukku.
Tante Cintia mengulurkan tangannya. Iyan menyambutnya sambil berdiri. Aku berusaha menarik Iyan, tapi terlambat.
PLOK!
Iyan kaget karena tiba-tiba Tante Cintia menepuk keras booking Iyan. Ya, begitulah Tante Cintia. Enggak bisa melihat brondong. Bawaannya senang nepuk booking mereka. Mendingan kalau pelan, sih.
Iyan buru-buru duduk sebelum Ada lagi yang mendarat keras di bokongnya. Mukanya pucat. Masih untung dia enggak langsung ambeien.
“Aku, kan, udah bilangin kami tadi,” bisikku.
Iyan benar-benar syok. Dia memilih terus duduk sementara aku Dan Mamih sibuk memilih oleh-oleh dari Korea. Hampir sejam kemudian, Mamih mengajakku pulang. Itu pun karena beberapa teman dekat Tante Cintia mulai berdatangan.
Tante Cintia mengantar kami sampai pintu. Aku Dan Mamih cipika-cipiki.
PLOK!
Aku kaget mendengar suara Itu. Iyan jadi korban lagi?
Oh, ternyata bukan. Tante Cintia yang jadi korban. Pelakunya? Iyan! Ya, ampuuun. Seumur hidup belum pernah Ada yang berani menepuk bokong Tante Cintia. Apalagi sekeras Itu.
Aku panik. Apalagi kulihat Tante Cintia seperti menahan marah.
“Maaf, Tante. Biar kedudukannya imbang Satu saka kata Iyan.
Tante Cintia mengangkat tangannya. Pengen mukul telapak tangan Iyan. Aku Dan Mamih buru-buru menghalanginya.
“Tante, maafin Iyan. Dia memang suka bercanda,” jelasku.
“Iya. Maafin dia Aja.”
Tante Cintia menarik tangannya. “Baik, sekarang dimaafin. Tapi Tante enggak may lihat dia lagi. Karena kekalahannya, maaf Aja kalau oleh-olehnya Tante tarik dulu lagi. Nanti ambil kalau ke sini tanpa dia.”
Breeet! Secepat kilat Tante menarik tas plastik di tanganku Dan Mamih. Tanpa menunggu jawaban kami, Tante Cintia langsung menutup pintu. Aku Dan Mamih memandang kompak ke arah Iyan.
“Maaf…” Iyan berbisik.
Ggggrrrhhhh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *