NEET Receives a Dating Sim System — Chapter 2

Chapter 2: Bekerja

Setelah dia telah menjual semua yang dia bisa ke toko game bekas, Seiji akhirnya menerima sejumlah uang yang cukup untuk membayar biaya sewa.

Namun itu hanya cukup untuk sewa. Setelah dia membayar, dia akan memiliki sisa uang yang sedikit, dan jika dia tidak memikirkan sesuatu segera, dia akan kehabisan uang dalam tiga hari setelah membayar sewa.

Seiji yang asli benar-benar layak mendapatkan apa yang dia dapat. Pada mulanya, keluarganya memberikannya biaya hidup untuk biaya sewa dan makanan selama setengah tahun, namun orang ini menghabiskan semua itu dalam waktu dua setengah bulan; dia bahkan tidak mempertimbangkan implikasi dari kekurangan uang untuk membeli makanan! (TL: Maksudnya adalah kurang uang = no food)

Jika Seiji mau berkomentar akan tindakan konyol orang yang sebelumnya, dia bakalan bisa berteriak-teriak tanpa henti selama tiga hari tiga malam berturut-turut… Ayo kita lupakan saja.

Seiji yang asli juga berhenti pergi ke sekolah dalam waktu yang lama, dan Seiji tidak berniat untuk kembali ke sekolah juga. Saat ini, dia benar-benar kosong setiap harinya, sehingga dia memutuskan untuk mencari pekerjaan dulu, sehingga bisa mendapatkan uang yang cukup untuk memastikan bahwa dia tidak akan kelaparan.

Sejujurnya, meskipun ada sejumlah metode untuk mendapatkan uang melalui saving dan loading, Seiji tidak berniat untuk menggunakan cheat-nya seperti itu; dia tidak mau dengan ceroboh menggunakan kemampuannya.

Jadi, pada akhirnya, dia memutuskan untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, dengan tubuh gemuk seperti itu yang tidak mempunyai keahlian, apa yang mungkin dapat dia lakukan? Jika dia pergi ke tempat-tempat seperti restoran, manajer waras manapun mungkin tidak akan mempekerjakan dia.

Seiji merenung dalam-daman sebelum akhirnya memikirkan sebuah solusi.

Ada sebuah jalan yang dipenuhi dengan usaha bisnis terdekat, dan nampaknya sejumlah toko sedang mencari orang untuk berdiri dengan mengenakan full body costum untuk menarik para pelanggan, jadi Seiji merasa sepertinya pekerjaan ini akan cocok untuknya.

Bagaimanapun juga, mereka tidak akan bisa melihatnya!

Tubuhnya gemuk, daya tariknya rendah serta atmosfir jahat yang ada di sekelilingnya… selama dia bersembunyi di dalam full body costum, semuanya itu tidak akan menjadi masalah!

Kostum ini hanya berisikan mimpi anak-anak, bukannya otaku gemuk!

Namun apa dia bisa benar-benar mendapatkan pekerjaan?

Yah, dalam kehidupan sebelumnya, dia sudah berhasil melewati tes untuk menjadi seorang pegawai pemerintahan, sehingga Seiji merasa bahwa dia harus sedikit berusaha.

Tapi di toko pertama, ia ditolak seketika —dimana lamaran pekerjaannya?

Bahkan pekerjaan seperti ini membutuhkan resume… baiklah, dia akan kembali kerumah dan menyiapkannya.

Kemudian, toko kedua tidak sedang mencari karyawan.

Yang ketiga tidak juga.

Dan untuk toko keempat…

Toko keempat baru saja memasang tanda untuk mempekerjakan karyawan untuk kostum!

Dan manajer toko adalah wanita yang cantik!

“Oh! Baru saja aku memasang tanda, seseorang sudah datang.”

Wanita itu sekitar tiga puluh tahun, tampak sedikit lihai, dengan rambut coklat dikeriting dan dada yang megah. Ia berpakaian seperti seorang wanita kantoran, dengan pakaian formal ketat, rok pendek, stocking hitam, sepatu hak tinggi; seluruh tubuhnya memancarkan daya tarik yang mempesona.

Terutama saat ia menyilangkan tangannya di dadanya — saat dimana dadanya menonjol hampir menyebabkan bagian bawah Seiji bereaksi.

Jika ini adalah Seiji yang asli, dia mungkin sudah mulai melakukan pelecehan seksual padanya.

Sesiji memaksa dirinya untuk mengendalikan ekspresinya, tanpa memunculkan sedikitpun tanda-tanda orang rendahan – bagaimanapun juga, itu akan menyebabkan kebencian yang sangat besar.

Wanita mengambil resume-nya dan memandang itu sebentar.

“Kau masih murid sekolah tinggi, jadi kenapa kau melamar pekerjaan full-time di sini?”

Setelah ia mengatakan itu, pilihan-pilihan muncul —

[A: Itu bukan urusanmu bitch!] [B: Karena beberapa alasan pribadi, aku sementara putus sekolah, dan membutuhkan uang sekarang.] [C: Untuk dirimu yang cantik.]

Sudah jelas, jawaban yang benar adalah B.

“Karena beberapa alasan pribadi, aku sementara putus sekolah… Dan saat ini, aku membutuhkan uang. Tolong pekerjakan aku, gaji awalnya… bisa lebih rendah daripada biasanya.”

Dia memilih pilihan yang paling jujur dan sopan, dan dia berusaha dengan keras untuk memohon pekerjaan dengan sungguh-sungguh.

* Ding! * [Friendship level telah meningkat!]

“Yah… Berdasarkan resume milikmu, kau tidak memiliki pengalaman kerja. Ini memang masalahnya; meskipun pekerjaan ini terlihat mudah, pekerjaan ini masih memerlukan kesabaran dan keterampilan tertentu.” Ia menggosok dagunya ragu-ragu.

“Aku akan memberikan setengah dari gaji normal awalnya; Jika kau tidak melakukan pekerjaan dengan baik, kau akan segera dipecat. Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan memberikan padamu gaji normal setelah satu minggu. Apa kau mau menerima kondisi ini?”

“Saya setuju!” Seiji langsung setuju.

Dan begitulah, dia mendapatkan pekerjaan.

Manajer toko yang cantik itu namanya Rika Amami.

Itu adalah sebuah toko makanan — yang menjual berbagai dessert, kue-kue, serta minuman. Kostum toko mereka adalah maskot keberuntungan dari sebuah anime yang populer, dan mereka sepertinya sudah mendapatkan hak-hak lisensi untuk beriklan dengan menggunakkan itu, sehingga full-body costum ini dibuat dengan sangat hati-hati, yang berarti bahwa itu cukup populer dengan banyak anak-anak, dan bahkan beberapa remaja yang lewat.

Pekerjaan full-time ini dari pukul 9 hingga 12 siang, serta pukul 14 hingga 17 sore.

Setelah satu hari di tempat kerja, Seiji menyadari bahwa pekerjaan ini jauh lebih sulit dari yang dia bayangkan.

Pertama, sangat menguras tenaga yang sebagian besar karena kostumnya panas; bahkan meskipun manajer toko perhatian untuknya dan meletakkan beberapa kantong es di dalam, setelah beberapa saat, dia bakalan tetap bermandikan keringat.

Selain itu, ada banyak anak-anak nakal daripada yang dia harapkan, dan mereka sering menendang atau memukul kostum tersebut; meskipun itu sakit, jika tidak hati-hati dia akan tersandung, dan itu adalah masalah yang besar.

Mendapatkan uang dimanapun tidak mudah…

Meskipun cukup melelahkan, dia harus bertahan, sehingga dia menganggapnya sebagai diet.

Hari berikutnya, sebelum Seiji pergi ke tempat kerjanya, dia mencari Mika untuk membayar biaya sewanya.

Mika Uehara terkejut melihat seberapa cepat orang ini membayar biaya sewanya. Selain itu, indranya yang tajam mengatakan padanya bahwa pria gemuk di depannya ini terlihat sedikit berbeda dari otaku gemuk sebelumnya.

Apa dia benar-benar bercermin terhadap dirinya sendiri dan mengubah tindakannya? Ia sedikit kebingungan seiring ia melihatnya pergi, tetapi ia lupa soal hal itu dengan cepat.

Siapa yang peduli? Bagaimanapun juga, ia menerima uang sewanya!

Seiji datang tepat waktu untuk bekerja setiap hari, dan ia berhenti makan makanan ringan serta makanan cepat saji, malahan membeli sendiri bahan makanannya untuk memasak.

Karena dia adalah single selama 30 tahun dalam kehidupan sebelumnya, meskipun dia bukan seorang juru masak yang terampil, bukan masalah untuknya membuat makanan sendiri, dan ini menghemat uangnya.

Bangun dan tidur lebih awal, bekerja keras, serta makan dengan sehat.

Hanya dengan menghidupi kehidupan normal seperti ini, stats miliknya secara bertahap meningkat!

Satu minggu kemudian.

“Terima kasih untuk kerja kerasmu, Haruta-kun.”

Di sore hari, setelah dia menyelesaikan pekerjaannya dan kembali berganti ke pakaian biasanya, sang manajer Rika Amami memberikannya secangkir kopi dingin.

Ini adalah pertama kalinya!

“Terima kasih juga… Kau juga sudah bekerja keras.” Seiji mengambil kopi tersebut dan mencicipinya — rasanya cukup enak.

“Ini adalah gajimu selama tiga hari terakhir.” Dengan senyuman, manajer toko cantik itu memberikannya sebuah amplop.

Seiji membukanya dan mengeceknya.

“Sepertinya sedikit kebanyakan.”

“Anggap saja uang itu sebagai hadiah; Kau lebih baik daripada yang kubayangkan.”

“Terima kasih…” Seiji dengan rasa syukur mengambil uang tersebut.

“Haruta-kun, aku tidak merasa tepat untuk bertanya soal ini  sebelumnya, tapi sebenarnya aku agak penasaran; kenapa kau putus sekolah?”

“Soal ini…” Seiji tersenyum kecut, “Karena… yah… Aku adalah cukup parah di sekolah sebelumnya.”

“Aku rasa Haruta-kun adalah seorang laki-laki yang baik, seorang pekerja keras, dan sangat sopan.” Rika berkedip kebingungan.

“Itu karena aku sudah bercermin secara mendalam atas tindakanku dan telah memutuskan untuk memulai hidup yang baru. Namun tindakanku di masa lalu tidak dapat dihapus.”

“Haha, kau hanyalah seorang murid sekolah tinggi, namun sepertinya kau punya sejarah yang cukup menarik.”

“Ini bukan entah itu kau adalah seorang murid sekolahan; hidup adalah soal menghidupi kehidupan itu sendiri.” Seiji menjawab dengan ringan.

Ini bukanlah opsi pembicaraan — itu adalah kesadaran pribadi-nya.

“Tidak ada hubungannya dengan laki-laki atau perempuan, tua atau muda, hidup akan memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama; Kau mungkin tidak akan menerima apapun untuk usaha yang telah kau lakukan, namun jika kau tidak melakukan apa-apa dan menyerah atas segalanya, maka hidup itu sendiri juga akan menyerah padamu.”

Komentar ini membuat Rika tergerak, dan kata-kata yang dikatakan begitu gampangnya olehnya tampaknya memiliki filsafat yang mendalam di balik itu, terutama lagi berasal dari seorang pemuda.

* Ding! * [Rating favorability-mu telah meningkat.]

Seiji melirik sistem sembari menyeruput kopinya, namun dia hampir berakhir menyeburkannya!

Hanya dengan satu kalimat dia ternyata berhasil memperoleh 10 poin favorability dengan manajer toko cantik ini!?

Ia bekerja dengan sangat keras selama satu minggu, dan dia hanya mendapatkan 10 poin favorability dari itu!

Ia tercengang — Sungguh benar-benar sulit untuk memahami hal apa yang membuat seorang wanita menjadi tergerak hatinya.

Karena 10 poin yang mendadak dia terima tersebut, manajer toko sekarang memandangnya sebagai seorang “teman” di dalam sistem, berarti bahwa Rika Amami tidak lagi memperlakukannya sebagai seorang karyawan saja.

Meskipun Seiji merasa ini sudah cukup bagus, itu bukanlah hal yang penting — bagaimanapun juga, dia tidak berniat untuk berpacaran dengan manajer toko ini.

Setelah menyelesaikan kopinya, dia pergi.

Seiji kemudian membeli beberapa bahan makanan dari supermarket, sebelum kembali ke rumah.

Langit berubah gelap, dan udara terasa sedikit menyesakkan, menunjukkan bahwa sepertinya akan turun hujan, sehingga dia mempercepat langkah kakinya.

Saat dia hampir sampai di apartemennya, dia dapat mendengar sejumlah suara aneh.

“Kenapa kamu menolak aku!?”

“Lepaskan aku, kau orang mesum!”

Suara kedua terdengar seperti seorang perempuan yang dia kenal, dan sebuah ide melintas melalui pikiran Seiji, jadi dia segera men-save file dalam sistem.

Kemudian, dia mengikuti suara tersebut dan melihat seorang siswa dengan rambut pirang dan seragam sekolah bergaya barat mendorong putri pemilik apartemen itu ke dinding dan menampar wajahnya sembari berteriak-teriak dengan marah.

“Kau membuatku kehilangan wajahku, kau *** bodoh! Adalah suatu kehormatan buatku menginginkanmu! Kau *** di mana-mana dengan senangnya, tapi aku tidak peduli sedikitpun dan ingin kau untuk menjadi pacarku tapi kau ternyata menolakku — kau mempermalukanku di depan semua orang! ”

Di depan si pirang ini, Mika Uehara bergumul dengan keras, pipinya penuh dengan air-mata, dan juga merah akibat dari di tampar.

“Berhenti… Aku tidak…” Dia dengan putus asa mencoba untuk berteriak, namun siswa berambut pirang itu menutup mulutnya.

“Kau masih mengatakan kau tidak, semua orang berkata seperti itu…”

*Smack!*

Clean Hit dengan kakinya.

Seiji diam-diam mendekati si pirang itu dari belakang dan menendangnya tepat di bagian belakang kepalanya, menyebabkan si pirang itu langsung terjatuh.

Mika Uehara terkejut seketika saat si pirang itu terhantam ke tanah, namun kemudian ia melihat sosok besar depannya.

“Apakah kau baik-baik saja, Miss Uehara?” Seiji mengulurkan tangannya padanya.

Mika Uehara hanya menatap dia dengan shock.

“Itu sakit, kau bajingan…” Entah bagaimana, si pirang itu tetap sadar setelah menerima tendangan berat, dan dia berusaha untuk bangun kembali.

*Smack!* Tendangan tanpa ampun lainnya.

Dengan ekspresi dingin, Seiji dengna akurat menendang bagian bawah si pirang.

Sepertinya mata si pirang itu mau keluar dari lobangnya, dan dengan jeritan aneh, dia jatuh dalam posisi janin di tanah, terkejang-kejang dengan amat sangat — Sudah jelas bahwa ia tidak akan mampu untuk berdiri lagi.

“Ayo berdiri, Miss Uehara. Apakah kau ingin menelpon polisi?” Seiji berbicara sekali lagi.

Dia tidak peduli entah dia melukai si pirang itu dengan parah atau tidak; Jika sesuatu memang benar-benar terjadi, apa yang harus lakukan adalah me-load kembali.

Mungkin karena penampilannya yang percaya diri, Mika Uehara merasakan rasa aman, jadi ia menggenggam tangan besarnya dan membiarkan dia menarik dirinya bangun.

“Kau… Kau bajingan, apa kau tahu siapa aku…” Si pirang melotot padanya dengan tajam.

“Seorang preman ** yang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.” Seiji mengerutkan kening dan berpikir untuk menendang si pirang itu lagi di wajah, namun dia menganggap bahwa wajah berdarah akan membuat Mika takut, jadi dia hanya berkata, “Miss Uehara, bagaimanapun juga ayo kita panggil polisi.”

“Tidak…. tidak perlu…” Mika Uehara ragu-ragu sejenak sebelum berkata dengan lemah, “Dia adalah teman sekelasku…”

Memenuhi tuntutan*Smack!*

Membiarkannya bukanlah pilihan yang bijak. Seiji melirik ekspresi denam wajah si pirang itu dan benar-benar yakin bahwa akan ada masalah lagi nanti kedepannya, tetapi karena si korban mengatakan hal ini, ia tentunya khawatir akan sesuatu hal yang lain.

Nah, jika mereka tidak akan menelepon polisi, tidak ada perlu lagi buat mereka tetap di sini seperti orang idiot. Seiji segera menarik Uehara pergi dari lokasi ini.

Apartemennya tidak jauh dari sini, dan Mika tinggal di lantai pertama, karena ia adalah putri pemilik apartemen.

Seiji membawanya ke pintu, menyadari bahwa ia bahkan tidak bisa memasukkan kuncinya ke lobang kunci dengan benar karena tangannya yang gemetar begitu keras.

“Biarkan aku.” Seiji mengambil kunci dari tangannya dan membukakan pintu baginya.

“Dimana ibumu, sang pemilik apartemen?”

“Dia tidak ada di sini hari ini…” Mika berkata dengan lemah.

“Coba panggil beliau, kemudian minum sedikit air hangat. Kau harus mendengarkan sedikit musik; Kau akan merasa lebih baik setelah kau merasa tenang.” Kata Seiji.

Mengingat kesan akan Seiji asli yang sudah berikan padanya, dia memutuskan untuk tidak pergi dengannya, dan dia berbalik untuk pergi.

“Tunggu!”

Tiba-tiba, Mika memanggilnya.

Dia berbalik, melihat ekspresi menyedihkan di wajahnya, dan dia menyadari bahwa ia masih gemetaran.

“Bagaimana jika kau… masuk sebentar?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *