Remember Rain Bagian 1

Matahari sepertinya tidak bosan meyinari kami berdua. Ya, aku dan Bela sedang menyusuri trotoar tanpa paying atau apa pun yang dapat melindungi kami dari sengatan panasnya. Kalau saaja sahabatku ini mau mengerti. Sudah hampir dua jam dia mengajakku berkeliling membeli baju tanpa upah apa pun. Katakana aku pamrih, tapi hey! Berjalan kaki, berdesakan dengan pembeli lain, dan mandi sinar matahari membuat tubuhku meronta.

“Hauuus,” kumonyongkan bibir seksiku oke ini pemaksaan padanya. Kuharap serpihan kulit yang hampir terkelupas di bibirku mampu membuatnya peka.
“Astaga, Mel!” pekik Bela yang membuatku sumringah. Sekarang kuputar pandanganku ke sekitar untuk melihat toko minuman yang segar dan…
“Baju dari butik langganan Mama ketinggalan nih!” lanjutnya sambil kembali merogoh tas-tas belanjaannya yang berjibun. Spontan anganku tentang minuman dengan balok es di dalamnya melayang sejauh-jauhnya. Aku menatap Bela penuh sabar. Kuharap tidak ada tanduk dan asap yang keluar dari kepalaku sekarang.
“Apa?” Bela menatapku horror.
Aku memaksakan senyum timbul, lalu menggeleng keras. “Nggak! Nggak apa-apa, kok,” ucapku menelan ludah yang tak ada.
Bela dengan tega dan tanpa rasa bersalah menyerahkan tas-tasnya itu padaku. “Tunggu
di sini!”

mataku membulat sempurna mendengar keputusannya. Ia segera berlari kecil dengan highheels 10 sentinya ke butik yang kira-kira sekitar dua belokan dari jalan ini. Dan, di sinilah aku. Melisa Pratiwi, siswi kelas 2 SMA Darma Citra, 16 tahun, jomblo baiklah, untuk kata yang terakhir bisa diabaikan berdiri dikelilingi tas anekaa warna. Aku di depan sebuah toko cokelat. Toko dengan desain Eropa semakin terlihat kesannya ketika sebuah bangku panjang terletak di depannya. Bunga-bunga tulip palsu berwarna kuning ada di kanan kiri bangku itu. Tak lupa lampu etnis juga berdiri tegak sekaligus menenteng plang nama toko cokelat. Kalau saja ini malam, pasti terlihat kesannya. Dengan susah payah aku memindahkan belanjaan Bela ke pinggir bangku itu dan mulai duduk. Rasanya engsel di kakiku akan lepas sekarang. Kucoba memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan kunang-kunang di mataku.

Kreesss…sreekk
Eh? Aku memang lapar sekarang. Tetapi sejak kapan bunyi keroncong perutku berubah suaranya. Tunggu… tunggu dulu! Aku membuka mata dan melihat salah satu tas belajaan Bela tak berbentuk sekarang.

“AKHHHHH!!!” aku berteriak histeris melihatnya. Dengan cepat aku melompat ke sisi tas itu dan mengangkatnya pelan. Benar-benar hancur, isisnya yang ternyata sepatu heels merah itu pun lecet sebelah. Jantungku sukses terpompa kencang sekarang. Bela… anak itu akan membuat kupingku panas kalau sampai tahu ini. “INI PERBUATAN SIAPA HAHH?!”

“Egh, dasar lebay!: keluh seorang cowok yang tengah turun dari motor besarnya. Ternyata ia memarkirkan motornya tanpa lihat-lihat lagi. Apa dia mabuk? Salah satu motornya sudah naik ke trotoar. Kalau boleh jujur, lelaki dengan rambut cokelat hazel itu benar-benar tampan. Ia begitu tinggi dan keren memakai jaket versity biru jeans. Matanya juga cokelat, dan bibirnya merah begitu kontras dengan kulit putihnya AAAAAH~

Pletak! Segepok uang mendarat di kepalaku. Aku segera sadar langsung mengambil uang yang ternyata bernilai 2 juta. Cowok tadi tanpa menoleh lagi langsung masuk ke toko cokelat. Sementara orang-orang mulai memandangiku dengan tatapan gadis-ini-pasti-sudah-gila. Rasa panas naik ke dada. Ini tidak bisa dibiarkan! Aku masuk ke toko cokelat itu dan menarik lengannya paksa.

“Lo apaan sih?!” keluhnya sambil melepaskan lengannya. Berhasil! Tenaga cowok itu begitu kuat ternyata. Wajar sih, lengannya berotot seperti itu. Eh.
“Lo harus tanggung jawab!” pekikku yang sukses membuat seisi toko mulai memperhatikan kami. Cowok tadi menoleh sebentar lalu menyeretku keluar. Jahaaat!
“Dua juta nggak cukup?” tanyanya dengan mata merendahkan. Tanpa menunggu jawabanku, ia mengeluarkan dompetnya lagi.
“Eeeeeeh, bukan begitu! Maksud gue… harusnya lo minta maaf. Tau sopan santun, kan?” sindirku tak mau kalah. Dia geleng-geleng kepala lalu menatapku lurus-lurus.
“Lo nggak tau diri ya! Udah dikasih duit buat ganti juga!” kata-katanya membuat kepalaku panas. Dia menatapku dari bawah lalu ke atas seakan menilai. “Atau lo mau nyari perhatian gue? Sorry girl, you’re not my type.” Aku tidak dapat menahan tanganku yang kini melayang ke pipinya.

Plakkk
Seketika aku menutup mulut tidak percaya. Wajah putihnya yang halus itu memerah akibat tanganku. Cowok itu kembali menatapku dengan geram. Disaat yang sama, seorang anak kecil yang tengah berlari tidak sengaja menabrak motor besar cowok itu hingga terjatuh. Dia berteriak kesal. Sementara anak kecil itu ketakutan dan lari sekencang-kencangnya.

“Setelah ini lo gue abisin!” ia menunjuk mukaku dengan telunjuknya. Cowok itu mulai mengangkat badan motornya ke posisi semula.