Remember Rain Bagian 12

“Kingkong…” gumamku pelan. Kurentangkan tangan panjang, lalu menutup mata. Perlahan kutangkap badannya.
“Melisaaa,” mataku langsung terbuka ketika sadar itu Marcel. Kutatap sekeliling, sekarang aku ada di bus lagi. Kali ini semua mata memandangiku. Posisiku saat ini… astaga! Aku sedang memeluk lelaki berjaket di sebelahku. Langsung saja kusentak ia menjauh. Wajah Marcel yang sedang cengengesan terpampang.
“MARCEL MESUM!!!” teriakku histeris. Ia langsung jadi santapan emosiku. Kupukuli badannya bertubi-tubi.
“Ampun, Mel! Ampuuun!” pintanya berulang kali. Aku tidak peduli. Mukaku pasti benar-benar merah sekarang. Bisa-bisanya ia mengerjaiku ketika tidur. Pasti gara-gara ketua kelas sialan ini aku jadi berimpi yang aneh-aneh. Mengingat mimpi tadi, aku berhenti memukulinya. Semua orang dalam bus sudah sibuk sendiri lagi. Sementara aku tersenyum-senyum, Marcel menatapku penasaran.
“Kenapa lo, Mel?” mengerutkan kening, Marcel mendekatkan wajahnya padaku. “Pasti senang ya tadi peluk gue?” ia kembali terkekeh. Menyebalkan.
“Ada juga lo yang meluk gue!” aku kembali mendorong tubuhnya hingga mepet ke jendela.
“Lo nggak sadar sih! Mau gue buktikan kalau tadi yang meluk duluan itu lo?” Marcel menantang. Ia bersiap mengintrogasi penumpang lain di samping kananku. Cepat-cepat aku memukul lengannya kembali.
“Iya iya! Lebay lo, baru juga dipeluk.” Cibirku kesal. Salah banget dalam mimpi aku memeluk si kingkong. Marcel masih sibuk terkekeh. Aku jadi takut kalau anak itu membocorkan insiden pelukan di bus ke kelas atau sekolah. Kutepuk jidat segera lalu menatap Marcel tajam.
“A-apa?” Marcel gugup seperti waktu itu. Aku mendekatkan wajah padanya. Ia makin gugup. Beberapa kali Marcel mengerjap lucu. Harusnya dia tahu sekarang aku menertawakannya dalam hati.
“Lo. Jangan. Pernah. Bilang. Ini. Ke. Siapa pun. Mengerti?!” ujarku dengan penekanan ditiap kata, sukses membuat Marcel mengangguk kuat. Kutepuk pipinya beberapa kali sambil tersenyum puas. Rasanya aku tahu kelemahan Marcel. Ini impas!

Marcel tidak membeberkan kejadian di bus tadi, tapi keisengannya juga tidak hilang. Setelah turun dari bus, Marcel berlari ke kelas mendahuluiku. Aku berdecak dan berjalan malas ke kelas. Mendadak sorotan mata di tiap tikungan memperhatikanku. Ini aneh. Belum lagi habis rasa kesal sekaligus penasaran, Marcel berdiri di pintu kelas sok manis. Ia mempersilahkan aku untuk sampai pada tempat dudukku yang ia sebut ‘singgahsana’. Astaga. Aku tidak heran dengan sikapnya, sampai sesuatu yang lengket menempel di rok. Permen karet! Marcel tertawa ngakak lalu berlari ke belakang kelas bergabung dengan teman-temannya.

“Mel, bekas permen karetnya masih ada yang nempel. Susah banget tau!” Bela dati tadi hanya mengeluh. Aku menatap belakang rok dari cermin dengan frustasi.
“Malu banget ni gue. Marcel kampret!” umpatku kesal.

Sekarang aku dan Bela ada di kamar mandi cewek. Kami bolos jam pertama untuk membersihkan permen lengket ini. Untung Bela mau menemani dan membantuku. Aku jadi menatap Bela lalu senyum selebarnya.

“Kok lo nyeremin sih?!” sial! Bela mundur tanpa berhenti membersihkan rokku. Aku menelan ludah memandangnya sengit.

Tiba-tiba tiga orang masuk ke kamar mandi ini. Bela dan aku berhenti lalu mematung melihat mereka. Semuanya begitu cantik dan bergaya. Cewek-cewek pesolek. Banyak akesesoris serba berwarna cerah yang melekat. Tapi tidak menambah kesan berlebihan. Malah imut. Aku memandang Bela. Tampaknya ia juga terkagum-kagum.

“Mel! Mereka itu kan Most Wanted Girls di sekolah kita. Kelas dua semua, Mel!” bisik Bela padaku. Aku hanya mengangguk-angguk tanpa mengerti.

Ketiga cewek yang tadinya bekaca itu sontak memandang kami. Tampaknya mereka sadar kalau diperhatikan. Buru-buru aku dan Bela sibuk melanjutkan aktivitas membersihkan rok.

Satu cewek di tengah tampak maju ke depan. “Lo?!” pekiknya keras. Aku mengangkat wajah. Kini telunjuknya mengarah pada hidungku. Mengerutkan kening, aku menoleh dan menatap pemuluk telunjuk. Kayaknya kenal deh.

Cewek itu tampak berpikir juga. “Lo itu… ah! Lo yang waktu itu sama Arman cowok gue, kan? Di villa berduaan ingat?” ucapnya mengintimidasi. Aku mundur perlahan. Benar juga, ini cewek yang waktu itu menyindir hidungku. Tanpa sadar tanganku menutup hidung.

“Hah? Demi apa Mel?” Bela menatapku tak percaya. Lalu ia kembali menatap aku lupa namanya siapa cewek itu.