Remember Rain Bagian 14

“Parah lo, Mel! Nggak asyik!” cibirnya sambil melipat tangan. Ia masih berdiri di depan mejaku dan Bela.
“Ngapain sih lo di sini?” dalam hati aku memuji pertanyaan Bela. Bagus Bel! Bagus!
“Mau ngajak kalian main Truth or Dare!” jawab Marcel sambil melirikku, ia menaik-naikkan alis tebalnya. Spontak aku menyembur lagi. Marcel buru-buru menjauh.”Beneran lo? Mau dong! Ikutan! Ikutan! Ikutan!” Bela menggila. Siapa pun tahu sahabatku ini paling suka diajak permainan itu. Bahkan sampai ada yang trauma kalau mengajaknya main. Sebab sekalinya main. Bela tidak mudah untuk berhenti.

Kupelototi Marcel yang sekarang terkekeh penuh kemenangan. Sementara Bela entah sejak kapan kotak bekalnya tersimpan rapi di kolong. Ia sibuk menariknarik baju Marcel untuk segera mulai.

“Gue sih nggak mau mulai kalau Melisa nggak ikutan,” jawab Marcel sambil sok memperhatikan kuku-kukunya. Bela menatapku penuh harap.
“Nggak!” jawabku cepat. Aku tahu Marcel pasti memasang jebakan lagi. Dia akan mengerjaiku lagi. Tapi Bela dikuasai oleh game konyol favoritnya. Ia mulai menarik-narik bajuku. “Nggak Bel, gua ogah! Lo aja sono!”
“Melisa lo jahat! Ayo ikutan atau gie rontokin rambut lo!” Bela mulai bereaksi dengan mengarahkan tangannya ke rambutku. Dia serius akan menjambak rambut. Astaga!
“I-iya iya!” aku mendesis kesal sementara Marcel tampak ber-yes ria. Bela mulai brutal dengan bergendang meja.
“Bu-ru-an! Bu-ru-an!” ujarnya dengan nada yang ia pukul dari meja.

Marcel menyeret sebuah kursi di sampingku, lalu duduk di depan kami. Botolku disambarnya. Aku meringis tidak rela, tapi sebenarnya Marcel dan Bela kegirangan.

“Gue puter ya!” ucap Marcel kesenangan. Bela mengangguk-angguk kepala lalu mendekat.

Semoga keberuntungan mengarah kepadaku. Aku menatap botol itu lekat-lekat seolah berbicara padanya agar tidak berhentii pada-
“Melisa kena! HUAHAHAHA!” Marcel memukul-mukul meja. Tawanya menggelegar di ruang kelas ini. Aku ingin menangis. Kenapa sial mulu?
“Horeee! Truth or Dare!” todong Bela begitu semangat. Marcel menahan tawanya lalu ikut menatapku.

Kalau pilih Dare nanti Marcel dan Bela akan mempermalukanku, pasti! Mereka kan ganas. Tapi kalau Truth, justru aku yang mempermalukan diri sendiri. Kenapa hidup di antara mereka membuatku tersiksa sih?

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Dare!” ucapku penuh penyesalan. Waah Bela dan Marcel berbunga-bunga, mereka lalu berdiskusi untuk menentukan eksekusiku. Ini konspirasi! Halah!

Mereka lalu menatapku tajam. “Kita mau lo keliling sekolah sambil bilang Marcel ganteng! Marcel ganteng! Awww!” Bela langsung menoyor Marcel keras.
“Itu kan nggak jadi! Semaunya aja lo,” hardik Bela tak terima. “Kita mau lo bilang cinta ke Kak Arman!” ucap Bela mematikan. Sepertinya ia tak terima saat tau aku tidak menceritakan insiden lain bersama Arman di villa.
Aku langsung berdiri dari tempat duduk. “Arman? Ketua MPK yang kingkong itu? Anak kelas tiga?” pertanyaanku membabi buta. Mereka selalu mengangguk-angguk. “NGGAK!”

Aku kembali duduk sambil membuang muka. Mereka keterlaluan. Marcel menggaruk kepalanya, sementara Bela mendekatiku.

“Ayo dong, Mel! Lo bukan pengecut, kan?” kata-kata Bela menaikkan amarahku. “Masa lo takut sama boneka-boneka kemarin sih?” pancing Bela lagi.
Aku tidak terima. Bela ada benarnya juga nih, komplotan trio macan mekarin sudah mengancamku seenaknya.
“Kalau bisa sampai Kak Arman menerima lo, Mel!” tantang Bela lagi. Aku menatapnya tidak percaya.
“Eh apa-apaan? Itu nggak masuk kesepakatan kita tadi, Bel! Gue nggak mau, pokoknya nggak mau!” rengek Marcel bak anak kecil. Spontan aku dan Bela menatapnya setengah jijik.
“Lo yang apa-apaan, dasar bocah!” damprat Bela kesal. Ia lalu menatapku untuk segera beraksi. “Sekarang, Mel!” desak Bela tak sabaran. Sekarang aku sudah sangat mengerti kenapa banyak anak yang kabur kalau diajak Bela main. Mungkin lain waktu akan kutanyakan bagaimana mereka menghindar dari desakan Bela.
“Iya iya! Bawel lo kunti!” aku segera berlari ketika Bela ingin menjambak rambutku.

Aku berjalan diikuti Marcel dan Bela di belakang gedung kelas tiga. Ini kali pertamanya aku bertandang ke gedung lain selain kelas satu. Kutatap para senior yang berseliweran. Sebagian tidak peduli, ada yang melihat kami dengan bisi-bisik, ada juga yang terang-terangan memelototi seperti tidak terima kandangnya dimasuki.

“Mel! Tuh Kak Arman!” Bela menunjuk-nunjuk Arman yang tidak jauh dihadapan kami. “Yaelah, nggak usah ditunjuk juga gue lihat kali. Udah ah, malu nih!” aku berusaha menurunkan tangan Bela.

Sementara Marcel dari tadi tampak diam. Aku menoleh sebentar memastikan ia masih hidup atau tidak. Marcel balas menatapku. Tapi, aneh, tatapannya begitu sayu dengan dagu mengerut. Pasti dia masih tidak terima dengan kesepakatan Dare ini. Aku mengendikkan bahu lalu menatap Arman lagi. Dia berdiri di kelilingi kawan-kawannya. Tidak begitu jelas karena ramai di sana.