Remember Rain Bagian 15

“Sepertinya ada masalah, Bel. Kita balik aja yuk!” ucapku berniat kabur saja. Tapi Bela mencengkram lenganku kuat. Ia menatapku lalu mengangguk seakan berkata “Lo bisa, Mel!” aku hanya pasrah lalu kembali menyeret kaki.

Kami menyusup di keramaian. Ini tidak mudah karena kakak-kakak kelas yang songong ini begitu egois. Kalau pun ingin menyingkir, kami dihadiahi tatapan membunuh dulu. Aku bergidik ngeri. Sekarang sudah tampak jelas. Kingkong tengah menunduk menatap lantai dengan lekat. Semenarik itukah lantai? Aku jadi bertanya-tanya.

Bela mulai fanatic dengan mendorong-dorongku. “Sabar, Bel! Lo nggak lihat keadaannya?” ucapku sedikit panic. Bela tidak menjawab, ia menunjuk-nunjuk ke arah lain. Aku mengikuti arah tunjukannya hingga… aaahh! Cewek porselen itu lagi ternyata. Dia sedang menatap Arman dengan tatapan menuntut. Barulah aku tahu alasan Arman menundukkan wajahnya. Laura di sampingnya sibuk menepuk-nepuk pundak Maurin, member dukungan. Sementara Kalina… aku terkikik geli melihat ia malah sibuk meniup-niup Maurin. Pasti Maurin dongkol sekali sekarang.

“Kenapa? Kakak nggak bisa kasih penjelasan, kan?” ucap Maurin penuh getaran. Air mata yang ia tahan tumpah juga. “Clear! Kita putus!” sambungnya lagi dengan penekanan. Ia lalu menabrak orang-orang untuk jalan keluar kerumunan. Diikuti Laura dan Kalina di belakangnya.

Aku, Bela, dan Marcel menatap punggung mereka bertiga yang semakin menjauh. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kasihan juga Maurin. Pasti hatinya hancur sekarang. Kalau aku yang ada di posisinya.

“Lo ngapain di sini?” astaga! Suaranya kingkong! Menelan ludah, aku berbalik perlahan lalu menatapnya.
“Hai!” sapaku kemudian. Dalam hati langsung kukutuk kordinasi antara pikiran dan mulutku yang payah.
Arman menaikkan alisnya, lalu ia menatap Marcel dan Bela bergantian. “Siapa mereka?”
“Hai, Kak! Lo nggak inget? Gue Bela yang waktu itu lho!” ujar Bela malah mengedip-ngedip genit. Aku menyenggol lengannya. “Apaan sih, Mel!”
Kening Arman tampak berkerut, sepertinya ia memang tidak ingat. Lalu ia menatap Marcel. “Gua Marcel, lo juga lupa?”
“Nggak penting juga buat ingat, kan?” balas Arman tanpa perasaan. Bisa kulihat Arman mendesis kesal.

Aku menggenggam lengan Marcel dan Bela lalu mengajak mereka kembali. Marcel yang kesal ditambah Bela yang kecewa tampaknya memperburuk keaadaan. Beruntungnya aku, mereka berdua tidak menuntut soal dare tadi.

“Lo berani mengabaikan pertanyaan gue?” ucap Arman lantang. Kembali kami bertiga menjadi tontonan menarik bagi kakak kelas di sini. Aku berhenti. Kakiku gemetaran sekali.
“Ng-nggak ada kok. Gue Cuma kesasar bareng mereka,” dustaku.

Tanpa menoleh, kucoba melangkah kembali. Tapi rasanya ada sesuatu yang mendekat. Satu tangan hinggap pada kerah baju bagian belakang. Aku tersentak kaget ketika sadar itu tangan Arman. Dengan satu tarikan, aku berhasil dibuatnya mundur sementara Marcel dan Bela masih di tempatnya. Jantungku terpompa ketika tubuhku bersender pada dada Arman. Dia benar-benar mengunciku agar tak bisa lepas rupanya.

“Kalian boleh pergi, dia tetap di sini.” Ucap Arman. Aku bisa merasakan aura dingin dan kelam di sekitarnya. Siapa pun, tolong aku!
“Balikin dia! Balikin Melisa baru kita mau cabut dari sini!” gertak Marcel geram. Ia menatap Arman sengit. Mereka tatap-tatapan seolah ingin bertengkar. Menyadari posisiku saat ini, sepertinya mereka akan memperebutkanku. Oh God, senangnya.

Sementara Bela membuka mata dan mulut lebar menatap mereka, dari belakang dua orang datang. Mereka Rangga dan Arya. Senang sekali mereka datang di saat tepat begini. Aku akan lari kepelukan Arya kalau Arman tidak langsung mengeratkan cekalannya. Sekarang dia malah memelukku dari belakang dengan erat. Sehingga mau tidak mau nafasku tertahan karena dua hal. Ddeg-deggan dan terlalu erat. Sesuatu mulai terjadi. Aku benci ini tapi… astaga panggilan alam darurat!