Remember Rain Bagian 17

Napasku tak beraturan ketika sampai di depan kelas. Kulirik sebentar anak-anak yang sibuk membentuk kelompok. Aku berjalan mendekati Bu Rani dan menyaliminya.

“Sini, Mel!” Bela melambaikan tangannya padaku. Ia ada di ujung kiri belakang kelas. Duduk berhadapan bersama Marcel, Viona, dan Kevin. Buru-buru kudekati mereka dan mengambil posisi bangku kosong, di sebelah Bela.
“Apaan, Bel? Kok ngelompok gini sih? Kan kita mau ulangan nih?” kuuber Bela dengan pertanyaan. Ia memutar bola matanya, lalu menatapku datar.
“Kalau nggak gitu mana mau lo cepat-cepat? Gue takut lo bolos lagi, Mel. Kurang baik apa coba sahabat lo ini?” aku mengendus kesasl. Apa yang Bela lakukan mungkin benar. Perhatiannya juga tidak salah. Tapi waktunya yang salah! Kenapa pas aku lag isms-an sama Arman coba?

Bu Ran menjelaskan apa yang ada di papan tulis sebentar lalu menyuruh kami mencatatnya. Ini tugas kelompok memerankan drama. Aku menatap Bela tajam, lalu menatap mereka yang ada di sekitarku.

“Eh? Itu Bel, kelompoknya diacak dengan nomor absen gitu deh,” ujar Bela takut.
Viona mengangguk setuju. Kevin sedari tadi sudah mengingatkan kami kalau Bu Rani melihatnya, maka tolong bangunkan dia. Dan ya, Kevin telah dengan menjijikannya tidur di atas meja. Marcel? Dia mengangguk-anggukan kepalanya sambil serius menatap Bu Rani. Tadinya aku kagum dengan perubahan Marcel yang mendadak ini. Tapi, setelah sadar ada earphone yang nyangkur di telinganya, buru-buru dia kujewer. Biar tau rasa!

“Apaan sih lo, Mel!” protesnya sebal. Ia mengacak-acak rambutku, kadang menjambaknya. Aku segera membalas dengan menarik rambutnya juga. Jadilah kami saling tarik menarik tanpa ada satu pun yang sudi berhenti.

Jedug! Kepalaku dan kepala Marcel beradu. Aku masih sibuk meringis memegangi kening ketika Bu Rani kembali menjedutkan lagi kepala kami hingga tiga kali. Kuulangi, hingga tiga kali!!!

Aku dan Marcel terduduk lagi sambil mengelus kepala. Kelas menjadi rebut karena menertawai kami. Aku dan Marcel saling tatap penuh dendam lagi.

“Awas aja lo!” ancam Marcel padaku
“Awas kemana? Kiri apa kanan?” jawabku asal. Kalau ini semacam komik, mungkin sudah terlihat ada aliran listrik di mata kami. Marcel mengerucutkan bibirnya lalu membuang muka. Bela kembali memutar bola matanya.
“Jadi kita kerja kelompok di rumah siapa nih? Semua tampak berpikir ketika Viona bertanya. Di rumahku tidak mungkin. Selain tempatnya kecil. Kasihan ibu dan Bary yang capek setelah mereka bekerja. Sebenarnya aku juga ingin bekerja, tapi ibu dan Bary melarangku keras. Aku jadi merasa bersalah dan terharu pada mereka.
“Di rumah gu-“
“Gimana ya? Rumah gue bisa sih, tapi bakalan ramai banget. Om gue rencananya mau nginep selama seminggu. Belum lagi ada anak kembarnya yang masih kecil. Suka rewel gitu. Maaf ini mah,” potong Bela saat Viona akan berbicara.
“Oh ya? Kalau gitu di rumah gu-“
“Rumah gue sih oke-oke saja. Masalahnya cukup jauh nih,” sambar Marcel cepat.
“Iya malas banget gue ke rumah lo yang jauh itu, Cel!” timpal Bela. Mereka saling tatap lalu mulai toyor-toyoran.
“Hehe, gue sebenarnya bi-“
“Heh kalian kok pada rebut sih? Gue kan mau tidur. Berisik ah!” Kevin bergumam tak jelas lalu mengubah posisi kepalanya. Ia kembali mendengkur. Viona menggigiti ujung kukunya dengan geram. Kasihan dia.
“Lo gimana, Mel? Di rumah lo bisa nggak?” Tanya Bela tiba-tiba. Marcel ikut menatapku sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya ia tampak senang kalau kerja kelompok ini diadakan di rumahku.
“Eh, itu…” kugaruk kepala yang tak gatal. Tak sengaja kulirik Viona yang tampak tak bersemangat atau kecewa. Aku langsung tersenyum. “Viona? Rumah lo bisa nggak?” ujarku malah mengajukan pertanyaan pada Viona.

Bela dan Marcel ikut menatap Viona. Viona balas tersenyum dan mengangguk penuh semangat. Dalam hati aku bersyukur mereka tidak kerja kelompok di rumahku. Kami sepakat kerja di rumah Viona dan itu pulang sekolah.