Remember Rain Bagian 2

Ini kesempatan lo, Mel!
Aku mengangguk mengiyakan isi hatiku. Kusambar belanjaan Bela dengan kewalahan, lalu berlari kea rah Bela pergi tadi. Dengan jelas kudengar cowok dibelakangku mulai berteriak.

“WOY BALIK LO! LIHAT AJA LO!” umpatnya. Entah apa lagi yang ia katakan, karena kurasa detak jantungku mengalahkan suaranya.

Aku menabrak Bela yang ternyata sudah ada di depan. Bela menahan lenganku agar tidak terjatuh. Kurasa keringat sudah mulai membasahi tubuh.

“Lo kenapa, Mel? Kayak dikejar-kejar gitu,” tanyanya khawatir. Bela mulai membolak-balikkan tubuhku. “Astaga! Gue lupa. Maaf ya, Mel. Kita istirahat dulu deh. Pasti lo capek banget ya nemenin gue seharian?” ucapnya penuh penyesalan. Bela menyeretku ke rumah makan terdekat. Akhirnya sahabatku ini peka juga, Tuhan.

Kami duduk di dekat kipas angin. Lumayan juga. Setelah memesan makanan dan minuman, kulihat cowok tadi berkacak pinggang dari luar melalui jendela. Ia terlihat frustasi karena tidak menemukanku. Perutku serasa berguncang. Jantungku pun mulai tak karuan lagi.

“Beeel, geu ke kamar mandi dulu yaaa,” ucapku sembari ngacir ke belakang. Beginilah susahnya. Setiap panic atau grogi pasti aku buang air kecil. Ya, setidaknya kebiasaanku ini juga cukup menyelamatkan. Siapa sih cowok kurang ajar itu?

“WHAT THE…?!” karena pekikanku seisi kelas menatap dengan pandangan kesal. Sebagian mendekat karena penasaran.
“Apaan, Mel? Masih pagi udah kumat aja lo!” cibir Riri, cewek terpintar di sekolahku. Ah jangan lupa di bagian dia anak kesayangan guru.
“Lupa pipis, ya kaliii!” cetus Marcel asal, ketua kelas yang menyebalkannya tidak tertandingin. Aku menendang tulang keringnya saat ia tertawa di wajahku. “Awww sakit, Mel! Gila lo!”

Kupeletkan lidah padanya agar puas. Cowok itu tahu semua aibku. Entah sejak kapan ia mulai menjadi stalker setia seorang Melisa pratiwi. Ini masih menjadi sebuah misteri!!!

“Woy!” tepukan Bela di pundak membuat lamunanku buyar. “Ngelamun aja lo! Iler ditampungin duu kek,”
Marcel memandangiku jijik sementara aku terkekeh mengelap dagu. Suasana kelas mendadak kembali aman sentosa.
“Eh, Bel. Serius lo cowok yang kemarin lo lihat di depan warung itu ketua MPK kita?” tanyaku memastikan. Jadi, kemarin Bela sempat melihat cowok menyebalkan itu juga saat aku ke kamar kecil. Tapi apa iya cowok yang kami lihat sama? Ah, pasti beda!
“Iya, Mel! Dia pake jaket versity warna biru jeans gitu. Awww ganteng banget deh,” aku mencerna kalimat Bela barusan. Cowok yang kemarin memang memakai jaket yang Bela bilang juga sih. GAWAT ABIS!!! Anak MPK sekolah aku kan terkenal galak dan kejamnya. HUAAA!!!
“Woy, Mel!!! Heloooo?” Bela mengibas-ngibaskan tangannya di wajahku. Saat aku kembali tersadar dan angkat bicara, saat itu juga Bu Rani masuk. Bersamaan pula dengan bel masuk sekolah. Eh buset, dari jaman kapan-kapan Bu Rani terkenal tertibnya. Padahal seharusnya guru punya jarak waktu sekitar lima menit setelah bel baru masuk.

Sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan Bu Rani, aku hanya melamun. Jujur, bahkan suara ibu itu terdengar sayup di telinga. Ini gara-gara tadi malam lelaki sialan itu datang ke rumah.

BRAKKK
“HARI!” Ibu berteriak histeris mengalahkan hujan yang deras. “Mau apa lagi kau datang kemari?!”

Aku tahu ini tidak beres. Buru-buru aku keluar kamar, mendapati ibu dan adikku yang ada dalam pelukkan di sudut ruang tamu. Mereka memandangi lelaki tak diundang itu penuh ketakutan. Pandanganku kini tertuju pada eks ayahku. Matanya merah, baajunya juga basah, ia tak karuan. Tangannya menggenggam minuman yang sepertinya memabukkan.

“Hah? Sini Bary! Ayo ikut Ayah!” ucapnya parau. Eks ayahku menarik tangan Bary hingga adik kelas satu SMP ku itu terpelanting ke depan. Ibu menjerit lagi.
“Hentikan sialan!” aku memutar pandangan mencari sesuatu untuk menghentikan lelaki itu. Ia sudah menyakiti Ibu, kini akan mengambil adikku satu-satunya!

Aku mengambil vas bunga lantas melempar keramik itu padanya. PRANGGG!!! Ayah terjatuh pingsan. Lagi-lagi ibu menjerit. Aku menyeret ayah dengan luka di kepalanya keluar. Hujan yang makin deras kuterobos. Dengan susah payah kuletakkan ayah di tempat biasa penjaga siskamling. Setidaknya dia aman di sini. Ah, apa yang baru saja kupikirkan? Peduli apa? Tanpa sadar mataku memanas. Buliran mulai terjatuh begitu saja. Ada nyeri yang tidak kuketahui asalnya di hati.