Remember Rain Bagian 21

“Lo tau rumah gue darimana?” tanyaku langsung ketika kami bertatapan. Sedetik kemudian aku hanya menatap makanan tanpa berniat menyentuhnya.
“Dari Bary,” jawab Arman sepertinya cuek. Ia sibuk mengaduk-aduk kupat tahunya lalu menyendokkan ke mulut.
Aku menatap Bary minta penjelasan, “Bary?”
Mengangguk, Bary menelan makanannya sejenak. “Iya, Kak. Kenalin, Kak Arman ini yang punya café tempat aku keja, Kak. Aku nggak tau kalau dia ternyata pacar Kakak,” sementara aku terbatuk-batuk, Bary menatapku heran.
Arman tertawa lewat hidung, “Makannya pelan-pelan, sayang.” ia dengan santainya menepuk-nepuk punggungku.
“Tuh lihat, Ry. Mereka serasi ya?” sindir ibuku sambil mencolek lengan Bary. Kupelototi Arman sambil berdecak. Arman membalasku dengan juluran lidahnya. Sialan.
“Terus, lo tau nomor gue juga dari Bary?” selidikku lagi. Kali ini tanpa menatap siapa pu. Hanya focus pada makanan.
“Loh loh, kok nggak minta sama Melisa langsung, Man?” dalam hati aku memuji pertanyaan ibuku.
Arman tampak terkejut sebentar. Ia akan membuka mulutnya ketika Bary menyambar.
“Iya. Kak Arman pasti mau cari dengan usaha sendiri, kan? Tanpa harus kepo dengan pacarnya,” tebak Bary sok tahu. Untuk kali ini adikku benar-benar menyebalkan. Ibu hanya mengangguk-angguk sambil memuji bahwa Arman itu ‘romantis’.

Selanjutnya menjadi detik-detik di neraka bagiku. Mobil Arman mendadak mogok di tengah jalan tadi siang. Ia lalu bertemu Bary, dan Arman yang tahu BAry itu adikku langsung memanfaatkannya. Bary main setuju saja saat Arman mau main ke rumah. Jadi itu alasannya. Bary tenang-tenang saja menjelaskan perihal kedatangan Arman kemari, ia tidak tahu kejadian dibalik itu semua.

Arman terlampau iseng, ia sering mendadak dekat denganku. Akibatnya kamar mandi menjadi tempat tiap menit kudatangi. Sifatnya di sini dengan di luar sangat berbeda. Ia tampak begitu mudah bergaul, tertawa, bahkan tidak segan berbagi cerita-cerita lucunya. Sepertinya hanya aku yang diam di sini.

“Jadi gitu, Tante hehehe,” Arman kembali terkekeh di akhir cerita konyolnya. Tiba-tiba ia memandangku. Membuat yang bertopang dagu mendadak duduk tegak. “Kayaknya Melisa capek banget ya?” ia mengalihkan pandangan pada ibuku. Pasti mencari perhatian lagi.

Bary dan ibu jadi memperhatikanku. Mereka tidak menjawab, bahkan saling tatap sambil tersenyum. Sementara aku curiga, mereka lalu berdiri.

“Kalian ngobrol berdua dulu deh. Ibu sama Bary ke dapur dulu ya?” ibu lalu menggandeng Bary untuk ke belakang, dapur. Meninggalkan aku bersama kingkong super menyebalkan ini di ruang tamu.

Aku dan Arman sama-sama tidak menoleh. Kami tatap-tatapan lewat ujung mata dengan sinis. Arman berdeham. Kubalas ia dengan batuk-batuk. Kali ini Arman yang batuk, aku membalasnya dengan berdeham. Astaga, ini kapan selesainya?

“Kamu lupa kita punya janji?” Arman membuka suara. Aku menoleh untuk melihatnya. Ia tampak menunduk.
“Janji apa? Kamu nggak bilang kok kalau mau ketemu pulang sekolah. Lagian tadi itu ada tugas kelompok di rumahnya Viona. Harusnya bilang dong! Tadi aku, Rangga, sama Arya nyariin kamu sampe sore tau!” jelasku panjang lebar untuk pertanyaannya.
“Oh ya? Kamu kelihatan banget khawatirnya. Jadi maksud kamu, aku harus kasih kabar tentang apa yang aku lakukan sama dimana aku sekarang gitu? Oke.”
“Ehhh nggak gitu juga!” sambarku langsung. Ini kenapa jadi kayak pacaran ya? Sekarang dengan polosnya aku membalasnya dengan aku kamu.
“Sebenarnya bukan itu yang aku maksud. Kita memang nggak janji buat ketemuan kok. Harusnya tanpa kasih kabar juga kamu tau posisi dong,” ucapnya menajam. Aku emnatapnya heran. Arman menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Apa aku melewatkan sesuatu?” ujarku sok formal. Tapi rasanya benar-benar aneh. Aku tidak ingat apa pun.
“Ini malah belum sebulan dan kamu udah lupa ya? Astaga,” Arman menepuk keningnya pelan sambil geleng kepala. “Selain urakan, kamu pikun juga?”

Aku menutup paksa mata dan berdecak keras. Ah iya, pembokatnya si MPK kingkong ini. Aku meremas tangan geram. Harusnya bagian mencari dia sampe sesore tadi tidak usah disebut. Pasti kepala kingkong itu membesar.

“I-iini udah malam. Pulang sana!” ucapku gugup. Kugigit bibir bawah, lalu menatap ke arah lain.
“Nggak kangen? Kan tadi udah nyariin sampe sore?” ledeknya. Aku benar-benar meledak karena malu.

Aku melompat ke arahnya dan mulai menyerang. Pukulanku jatuh pada tubuhnya. Ini yang biasa kulakukan pada Marcel. Lalu kujambak juga rambut coklatnya. Hal yang Bela sering dapatkan. Semua kulakukan pada Arman! Supaya dia tahu karena kelakuannya aku jadi meninggalkan tugas. Meninggalkan Bela dan Marcel tadi siang, juga Kevin dan Viona.