Remember Rain Bagian 22

“Awww udah dong, Mel. Lo sadis banget sumpah! Ehh!” Pinta Arman sambil menghindari tiap seranganku.
“Biarin! Lo nyebelin dasar kingkong!” hardikku tanpa berhenti.
“Jadi lo apa? Pacarnya kingkong? Huahahaha.”

Deg! Tanganku berhenti di udara. Arman masih tertawa memegangi perutnya. Entah apa yang membuatku berhenti. Pacar. Aku pacar Arman? Mengerjap, kupandangi Arman yang kini mengusap matanya. Mata coklat itu menatapku heran. Aku tidak mampu menoleh. Sampai dia mengibaskan tangannya, menyadarkanku.

“Eh?” kubanting pandang ke bawah, lalu menatapnya lagi. Kali ini senormal mungkin. “Aku serius. Ini udah malam loh. Besok masih sekolah kan? Kalau ketua MPK telat, gimana ngasih contoh baiknya?” ujarku memperingatkan sekali lagi.
Arman tersenyum tipis. Aku tidak tahu maksudnya apa. Ia lalu mengangguk dan mengacak rambutku pelan.

“Panggil ibu sama adik kamu gih, aku mau pamit.” Arman tersenyum lagi lalu bergegas ke depan rumah. Sepertinya ingin memakai sepatu.

Dan, kepergian Arman dari rumahku juga mengosongkan sesuatu. Keadaan kembali normal. Bary kembali ke kamarnya untuk belajar. Ibu juga ke kamarnya, dia bilang mau istirahat. Aku? Aku juga kembali ke kamar. Introspeksi diri atas semua yang terjadi hari ini. Aku merindukan kepala di meja belajar, sambil memelintirkan pena. Tumpukan buku jadi bantal, sudah biasa.

Minggu belakangan ini, perasaanku sering campur aduk. Mungkin hampir setiap hari aku mengalami hal-hal aneh. Tapi tidak yang seperti ini. Sejak kejadian menampaar Arman waktu itu, tiba-tiba saja perasaanku jadi jauh lebih sensitive. Seperti aku yang selalu mengagumi Arya tiap kali bertemu, kecuali kucing setannya itu. Lalu sikap aneh yang terjadi belakangan dengan Marcel. Jadi incaran kakak kelas dua seperti Maurin, walaupun kuakui mereka tidak terlalu jahat, belum. Yang jadi sebabnya Arman. Sekarang aku merasa ada yang lain. Arman, kalau dipikir juga tidak begitu buruk. Dia baik, hanya saja terlalu tidak peduli. Cuek? Entahlah. Jangan lupa di bagian mengesalkan.

Ponselku bergetar. Aku mengangkat kepala, lalu menyambar ponsel di dekat lampu belajar.
Unknow calling…
Keningku kembali mengerut. Arman tidak berhenti-hentinya membuatku berpikir.

“Siapa ini?” tebakku malas.
“Ini siapa?” suara Arman, seperti kata-kataku sebelumnya. Menyebalkan.
“Woy kingkong, lo udah sampe rumah ya? Tidur sana, ganggu orang mulu,” cibirku langsung. Demi apa pun, terlalu malas untuk main tebak-tebakan dengannya.
“Kingkong? Siapa itu?”
“Lo!” kulepas ponsel sejenak, lalu dengan geram kutatap layarnya.
“Lo?” ucapnya seperti beo. Apa harus kuubah title kingkongnya dengan beo?
“Bete gue!” kututup telpon sepihak.

Setelah meletakkan ponsel ke tempat semula, aku kembali menidurkan kepala. Tanpa sadar, senyum sudah terukir di wajahku. Entah apa yang kupikirkan. Harus kuakui kalau kehadiran Arman membuat hidupku sedikit lebih berwarna. Garis bawahi pada kata sedikitnya.

Ponselku kembali bergetar. Kali ini dengan ogah-ogahan kuambil. Satu panggilan lagi.
Unknow calling…
“Apa sih, Arman?” kumonyongkan bibirku ketika menyebut namanya. Andai saja dia bisa lihat.

Tut… tut… tut… aku kembali menggeram ketika ia mematikan telpon begitu saja. Pasti kingkong mau balas dendam. Ponsel masih di tangan ketika satu panggilan kembali masuk.

“LO NGAJAK BERANTEM APA GIMANA ARMAN? GUE LAGI ASAH GOLOK NIH!” teriakku tak tanggung-tanggung. Untung kamarku di atas sendiri, jadi tidak usah khawatir mengenai Bary dan ibu di bawah.
“Arman? Kalian barusan teleponan ya?” jawab suara di seberang sana. Astaga, ini bukan suara Arman. Sepertinya aku kenal suara ini. “Halo? Melisa tukang pipis? Lo masih di sana nggak?”
“BAWEL LO! Iya gue masih di sini. Marcel ya?” kesialanku bertambah mala mini. Sudah ditelpon kingkong, kini yang nelpon ketua kelas songong.
Kudengar ia terkekeh pelan. “Iya, tidur sana! Besok ketemu di kelas, oke?” Marcel menutup telponnya ketika akan kubalas. Aku menjauhkan ponsel dari telinga dan menatapnya. Ini benar Marcel? Sejak kapan?

Ponselku kembali bergetar. Tidak, bukan telpon. Kali ini sebuah pesan singkat.

Sender : Bele’an
Gue tau lo baca ini, Mel! SMS dan telpon gue tadi siang nggak dibales-bales coba. Mungkin lo nggak ada pulsa dan terlalu capek buat cari Arman tadi. Gue cukup ngerti. Tapi jangan harap lo lolos fari gue besok. Cerita tentang Rangga yaaa? G’night!

Aku tersenyum membacanya. Bela, untung anak itu tidak marah. Kuletakkan ponsel di meja kembali. Aku bergegas naik ranjang lalu menutupi badan dengan selimut. Aku senang. Bersyukur punya orang yang perhatian di sekitar kita.