Remember Rain Bagian 23

Angin terbaik di sekolah terdapat di belakangnya. Tepatnya di kolam ikan tempat kesukaanku. Sekrang setidaknya aku berdua, tidak sendiri. Siapa lagi kalau bukan Arya? Sementara dia di atas pohon bersama kucingnya, kau duduk di pinggir kolam yang hampir menyentuh sepatuku.

“Lo sejak kapan suka nongkrong di situ, Ya?” tanyaku membuka obrolan. Karena jujur, kalau kita terus diam-diaman seperti ini, kemungkinan aku akan tertidur karena angin begitu besar.
“Sejak awal aku kabur dari MOS sekola ini sih,” jawabnya jujur. Setelah kupikir, berarti sudah tiga tahun dia menghuni tempat ini. “Dulu pohonnya nggak segede ini, masih pendeklah.” Lanjutnya lagi, kali ini diikuti raungan manja kucingnya.

Ah iya, kucingnya. Bagaimana bisa sekolah tidak melarangnya membawa hewan peliharaan? Setahuku hanya Arya yang berkeliaran dengan kucing di pundaknya. Dan, tidak ada yang heran kecuali aku. Kalau pun ada, mereka pasti tidak berani bertanya atau semacamnya.

“Kucing lo itu, boleh dibawa ke sekolah ya?” tanyaku tak yakin. Semoga tidak menyinggung perasaannya.

Arya bergumam setuju. Cowok satu ini kalau dibandingkan Rangga dan Arman memang berbeda. Jadi ingat tadi istirahat saat mereka berkumpul di kantin. Saat Arman dan Rangga toyor-toyoran karena masalah kemarin, Arya duduk manis di tempatnya mengelus kucing. Ia hanya tersenyum sambil sesekali memperingatkan kedua temannya. Tapi siapa sangka cowok anteng begini suka bolos dan semaunya?

“Maksud gue, nggak kena marah gitu?”

Terdengar suara gemuruh. Arya sudah loncat dari pohon rupanya. Suara langkah kakinya mendekatiku dan duduk di samping. Arya memeluk kucing putihnya lembut. Ia menggeleng tanpa menatapku.

“Kok bisa?” kali ini aku sidah benar-benar kepo.

Arya mengelus kucingnya yang menggeram, ingin mencakarku. “Udah minta izin kok. Lagian Pratiwi nggak nakal atau ganggu selama ini. Kalau di kelas, dia paling duduk di bawah meja, di kakiku.” Jelas Arya lagi.

Aku berdecak. Entah kenapa masih belum terima kucing setannya diberi nama Pratiwi.

“Ini kucing dari mama,” ujarnya seakan tahu isi pikiranku. “Pratiwi itu gabungan dari Pratama dan Wibawa. Mama sendiri yang memberinya nama di hari terakhirnya.”

Deg! Raut wajahku menegang sesaat mendengar penjelasan yang satu ini. Kutatap wajah Arya yang sekarang menunduk. Menatap nanar kucing putih di pangkuannya. Wibawa? Maksudnya Arya Wibawa?

“Mama suka kucing. Aku dan saudara kembarku juga. Kalau saja mereka berdua masih hidup. Oh, iya nama saudara kembarku Angga Pratama.” Arya kembali menatapku. Kali ini dengan tersenyum, walaupun matanya menyiratkan kesedihan.

Aku segera menunduk. Menahan malu dan kenal pada diriku sendiri. Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu. Apalagi mengingat aku sering memanggil kucingnya kucing setan. Mana aku tahu itu dari almarhumah ibunya Arya, juga milik almarhum saudara kembarnya?

“Ya, gue minta maaf. Jujur gue sama sekali nggak-“
“Iya, nggak apa-apa kok.” Potong Arya lagi. Mungkin dia sudah terbiasa. “Oh iya, soal kenapa aku bisa bawa kucing ini ke sekolah karena… ini sekolah keluargaku, Mel,” Arya terkekeh pelan.
“Sekolah… keluarga lo? Astaga, harusnya gue bisa nebak ya,” aku ikut menertawakan diri sendiri.

Kami menghabiskan jam-jam terakhir pelajaran di sini dengan mengobrol. Arya cukup terbuka denganku. Aku juga cukup sabar berasa di sampingnya, maksudku berada di dekat kucingnya. Entah berapa kali kucing itu lepas dari pelukan Arya dan mencakarku. Sebenarnya ini bukan yang pertama, kucing-kucing selalu benci padaku. Padahal aku hanya ingin mengelus dan memanjakan mereka. Tidak adil ya?

“Jadi kenapa kamu bisa kenal Arman? Hampir enam tahun aku bersama Arman, dia susah bergaul dengan cewek.” Arya menatapku lalu menaikkan sebelah alisnya. “Kamu cukup tahu sifat dia gimana, kan?” lanjutnya lagi, dan kami tertawa.
“Justru itu. Kalau tahu sifat di gitu, kenapa lo sama Rangga bisa dekat dengannya?” kubalas pertanyaan Arya dengan pertanyaan pula. Aku hanya mengalihkan pembicaraan. Pasti Arya kaget kalau pertemuan kami dimulai dari tamparan.
“Itu…” Arya melepas pandangan ke langit. Kuikuti pandangannya. Langit tampak mendung. Awan kelabu bergerombol mendekat. “Dia sering menolongku waktu SMP, sifatnya juga mirip dengan Angga.”

Ah, aku mengerti. Arya terkenal garang dan jago berkelahi walau jarang. Badannya juga seperti kingkong. Selain itu, Arya menemukan sosok saudara kembarnya di Arman. Masa pertemanan mereka yang begitu lama pasti membuat satu sama lain saling mengerti.