Remember Rain Bagian 27

Dengan segala kebingungannya, Bary menepuk jidat. “Konyol!” ia mendengus kesal lalu menarik tubuh Arman ke arahnya. Sontak cengkramanku dan ibu lepas begitu saja. Baru sadar aku kalau kekuatan cowok itu berkali-kali lipat dari cewek.

Kulipat tangan menatap Arman kesal. “Ini nih, Bu! Bary! Orang yang bikin mata aku jadi kayak disentuh lebah!” cibirku sambil mengerucutkan mulut. Entah bagaimana keadaan wajahku sekarang.

Bary dan ibu menatap Arman, mencari sosok kesalahan di sana. Sialnya, Arman justru mengendikan bahu seperti tidak tahu apa pun. Ia lalu menatapku dengan penuh lirih dan sayu. Seakan-akan aku telah dengan kejam menuduhnya yang bukan-bukan.

“APA?!” kubentak ia dekat-dekat. Tanganku berkacak di pinggang menantangnya. Aku tidak habis pikir dengan kingkong satu ini. Dia benar-benar tidak tahu malu. Di sekolah tadi sudah mengataiku dengan murahan, lalu memukul sahabatku Marcel, sekarang dia membuatku terlihat seperti orang jahat. Boleh kucekik ia sampai tewas?

“Kamu kenapa sih, Mel? Udah yuk, kita di dalam aja ngobrolnya. Biarin aja tuh Melisa teriak-teriak di luar, bleeee.” Ibu menjulurkan lidahnya padaku sambil membawa Arman masuk.

“Ibu! Kan aku yang anak ibu! Ibu jahat ah jahaaat! Melisa mau kabur aja! Mau minggat aja bodo!” rengekku sembari menhentak-hentakan kaki.

“Yee kabur ya kabur aja! Kok ngasih tau sih.” Balas ibu dari dalam. Kugertakan gigi, kesal. Bahkan sekarang ibu lebih memilih Arman dari pada anak gadisnya. Oke, baiklah.

Dengan kuat kulangkahkan kaki masuk ke dalam. Terdengar jelas langkah kakiku, apalagi ketika menaiki tangga menuju kamar. Ibu terlihat geleng-geleng sendiri. Aku tidak peduli. Sampai di kamar, kucari tas selempang yang besar. Kumasukkan asal beberapa otong baju, celana, dan semua yang kuperlukan untuk minggat dari rumah. Semua keluargaku telah tercemar oleh virus kingkong. Aku harus cepat pergi dari sini kalau tidak mau ikut terpengaruh. Kusambar ponsel di meja.

“Ya, Mel? Tumben lo nelpon gue. Punya pulsa cieee,” sindir Bela dari seberang sana.
“Terserah deh! Setengah jam lagi gue mendarat di rumah lo. Siap-siap karena gue mau nginep oke? Bye!”
“Ehh tunggu-tunggu” tuut… tutt… tuut… buru-buru kuputuskan telpon. Cepat sampai di sana, maka cepat pula aku terlepas dari kingkong berwajah manipulative.

Kutenteng dengan susah paying tas ini menuruni anak tangga. Sayup kudengar ibu dan Bary terkekeh pelan. Mereka kenapa jahat seperti ini, Tuhan?

“Mau aku bantu, Kak?” Bary buru-buru mendekat ke arahku lalu mengambil alih tas selempang yang super berat. Aku bisa bernafas lega sekarang, karena jujur tanganku seperti patah rasanya. Kami telah sampai di depan rumah. Arman dan ibu setia menatap kepeprgianku dari pintu rumah. Kulambaikan tangan pada tukang ojek yang tak jauh. Eh tunggu dulu. Kenapa Bary jadi membantuku untuk kabur? Plakk kutepuk jidat agar sadar lalu menyambar lagi tas selempangku.
“Nggak butuh!”
“Yeee, bilang nggak butuhnya pas udah di depan!” ledek Arman dengan teganya. Aku mendesis sambil memelototinya tajam.
“Mau kemana, Neng?” Tanya tukang ojek yang sudah sampai sambil menyodorkan sebuah helm bututnya.
“Keujung dunia, Bang! Eneng nggak mau tinggal di sini lagi!” balasku. Kupakai cepat helm itu, lalu dengan susah payah menempatkan tas di atas motor. Meloncat sedikit, aku berhasil duduk dengan tenang.
“Hah?” tukang ojek itu malah melongo di hadapanku. Aku menjitak helmnya saking terkejut.
“Tinggal jalan aja ah ribet amat!” aku mendecak kesal. Sementara suara motor berderu, dari belakang Arman, Ibu, dan Bary tertawa-tawa. Ya, tertawa saja sepuas kalian.
“Neng, kita mau kemana nih?” suara tukang ojek itu terdengar takut-takut. Aku menahan tawa, pasti dia takut mendapat jitakanku lagi. Kukatakan alamat rumah Bela padanya. Rumah kami tidak terlampau jauh. Hanya beda perumahan, dan perumahannya ada di sebelah daerah perumahanku. “oh, kalau itu abang juga tau! Sering nganter ke san amah. Kalau ujung dunia baru denger. Kayaknya itu nama perumahan baru ya, Neng? Seminggu ini abang nggak ngojek karena sakit. Jadinya ketinggalan berita gitu.”

Plakk kutepuk kening kembali. Ini tukang ojek kenapa jadi curhat segala? Astaga.