Remember Rain Bagian 28

“Melisa buruan nih! Lo ngapain di dalam sana? Katanya pipis doing! Gue kebelet juga nih!” teriak Bela dengan gedoran di pintu kamar mandi.
“Bawel lo! Buang air besar sama pipis itu sepaket kali!” balasku asala. Kulanjutkan lagi aktifitas di kamar mandi ini.

Ini hari kedua aku di rumah Bela. Sebenarnya dari kecil keluargaku dan keluarga Bela sudah dekat. Dulu kami tetanggaan, sebelah rumah. Tapi karena masalah keluarga maksudku ayah, yang menyebabkan mau tidak mau kami hengkang dari perumahan yang sama. Perumahan Bela terbilang cukup diatas rata-rata. Itu dia, kami tidak sanggup lagi membayar cicilan dan akhirnya pindah ke yang lebih murah. Tapi jarak bukan berarti alasan untuk aku dan Bela juga ikutan pisah. Kami lahir di rumah sakit yang sama, tangis di detik yang sama, bermain dan menghabiskan waktu bersama-sama. Keluarganya sudah menganggapku anaknya juga. Jadi tidak kaget kalau tiba-tiba aku datang dengan tas besar di rumah mereka. Bunda Monika Wijaya, ibunya Bela, bahkan langsung menyambutku hangat seperti biasa.

“Ada masalah lagi?” begitu ucapnya ketika kami usai berpelukan. Aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ini berlebihan. “Sana gih ke kamar, Bela lagi nganterin ponakannya beli es krim.”

Ah, iya aku lupa kalau Bela pernah bilang om nya datang. Kondisi di sini cukup ramai ditambah aku. Jadi tidak enak sendiri sih. Tapi ya sudahlah, keluarga Wijaya juga sepertinya tidak keberatan mengingat ini sudah terjadi berkali-kali.

“Buruaaaaaaan!!!” teriak Bela menggila. Sepertinya anak itu serius. Buru-buru kuselesaikan ritual di dalam dan langsung membuka pintu. “Anjir lo! Aromanya masih ke rasa begini. Harus berapa kali gue ingetin di siram pake pewangi ruangan juga? Eww”
“Bonus tuh!” ujarku terkekeh, lalu keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar. Sebenarnya juga untuk menghindari omelan Bela.
“Mau kemana, Mel? Sore begini?” sahut Bunda Monik saat aku membuka pintu.
“Cari angin, Bun. Bela ngomel mulu tuh, Melisa jadi pusing sendiri.” Curhatku lalu berjalan ke leuar. Sempat kudengar dari dalam Bunda meneriakan nama Bela dengan nada kesal. Hehehe. Biarlah.

Ponselku kembali bergetar di saku. Aku masih dan setia untuk tidak peduli. Sudah selama ini tidak kugubris pesan dan telpon di sana. Bela bahkan sering menyuruhku untuk membuang ponsel saja karena tidak ada gunanya. Dia benar. Aku sangat jarang menggunakan barang ini. Kalau ingin menghubungiku ya harus bertemu langsung. Aku kurang suka mengetik kata-kata panjang di layar, atau menempelkan ponsel di telinga. Semua orang yang dekat denganku cukup tau itu. Kalau pun masih menghubungiku lewat ponsel, berarti mereka benar-benar sedang tidak bisa bertemu denganku.

Udara di sini cukup dingin. Angin berulang kali meniup beberapa helai rambutku yang lolos dari ikatan. Jalan-jalan seperti ini mengingatkanku pada masa kecil. Anggaplah reunion. Melihat perumahan yang dulu sering kulewati, jug ataman kecil di tengah-tengah perumahan ini. Lalu ada supermarket di dekatnya, surge untuk para pecinta diskon besar. Bahkan ibu masih sering belanja baju dan keperluan di tempat ini. Tiap akhir tahun, diskonnya tidak tanggung-tanggung. Aku jadi bertanya-tanya apakah mereka rugi atau tidak dengan harga semurah itu, tetapi barang tidak jauh beda dari tempat lain.

Kalau saja masalah dengan ayah tidak terjadi, mungkin kami bisa menikmati hidup seperti saat-saat dulu. Mungkin ibu dan Bary tidak perlu bekerja sekeras itu. Aku juga tidak perlu jauh-jauh kalau ingin main dengan Bela di rumahnya.

Aku duduk di lubang dinding perosotan yang cukup tinggi. Lubang itu sengaja dibuat untuk tempat duduk-duduk juga. Langit mendung. Akhir-akhir ini jujan terus mengguyur, meyakinkanku kalau masuk musim penghujan. Dan, aku memang biasa duduk di sini. Aku tahu akan hujan sebenarnya. Kupeluk kedua kaki, lalu menaruh dagu di lutut. Berteduh di bawah lubang. Sesuatu yang paling kurindukan.

“Kita cerai aja, Mas!” kata-kata itu kembali terngiang. Geledek dan hujan besar di luar padahal cukup kuat untuk meredamkannya.

Ibu menangis meraung. Aku tidak pernah melihatnya separah itu. Bary mencengkram lenganku kuat-kuat. Kutatap ia yang sedang menonton kejadian itu juga. Matanya berkilat, membulat sempurna. Dari bibirnya yang gemetaran, aku tahu dia takut. Ah, Bary, kakak juga takut.