Remember Rain Bagian 3

“Aku benci orang itu!!!”
PLETAKKK
Penghapus papan tulis mendarat sempurna di wajahku. Kini tanpa berkaca pun aku yakin ada noda hitam besar di pipi.

“HAHAHAHA mampus lo, Mel! Mamam tuh pengha—“

PLETAKKK
Kali ini Bu Rani melempar spidolnya ke Marcel. Aku berusaha menahan tawa melihat ketua kelas kampret itu! Agar BU Rani tidak melempar lagi barang-barang yang ada di mejanya.

“Melisa! Marcel! Berdiri di depan kelas SEKARANG!” teriak Bu Rani di akhir kata. Aku bergidik ngeri kalau ibu satu ini sudah berteriak. Wajar, sudah hampir dua jam ia mengajar dan aku hanya melamun dari tadi. Sekarang aku dan Marcel berdiri di depan kelas, tentu saja berjau-jauhan. Rombongan sirkus Marcel di bangku paling belakang sibuk menggorok leher mereka dengan tangan. Ini tanda kalau kami berdua akan segera mampus. Aihhh!

“Gara-gara loh nih!” umpat Marcel setengah berbisik padaku.
“Ada juga elo kampreeeet!” balasku tak kalah kesal.

Entah berapa lama Bu Rani memulai pidatonya tentang kelakuan kami barusan. Berdiri seperti ini membuat mataku terasa berat. Tubuhku benar-benar lemah sekarang. Kurasa hujan-hujanan semalam membuat suhu tubuhku meningkat. Kupegang kening sebentar. Ck, benar panas. Aku tidak tahan lagi.

“Lo kenapa?” Marcel menggerakan mulutnya tanpa suara. Aku tidak menjawabnya, hanya membuang muka ke luar kelas yang… HUAAA
“LO!!!” lagi-lagi seorang cowok berbicara padaku tanpa suara. Ia melotot padaku dengan menunjuk-nunjukkan tangannya. Ya! Cowok yang kemarin sempat kutampar. Sepertinya masih berbekas, ya Tuhan. Aku meringis ketakutan. Segera kupandang lekat-lekat wajah Bu Rani, menghindari cowok yang menunjukku penuh dendam itu. Aku tahu dari bangkunya pasti Bela heran sekarang, melihat perilakuku yang aneh. Sahabtku itu tidak henti-hentinya melempar remasan kertas kecil padaku. Semoga nggak masuk lubang hidung sih.

Aku tidak tahu ujian apa yang diberikan sekarang. Di kiriku ada cowok yang kata Bela ketua MPK itu. Di kanan, aku berdiri dengan ketua kelas songong Marcel. Di depan, Bu Rani sibuk tausiah. Tiba-tiba duniaku seakan berputar hebat. Kunang-kunang kembali muncul dalam penglihatanku. Perlahan… gelap.

Samar kulihat langit-langit dengan satu lampu menggantung di atas. Perlahan semua terlihat jelas. Aku mengerjap mendapati diri ada di ruang UKS. Dari pintu masuk, Marcel membawa nampan dengan satu gelas teh di sana. Ini… keajaiban!

“Eh, Mel. Lo udah sadar aja…” Marcel masih dengan nada isengnya. Namun, wajahnya menunduk seakan frustasi sekarang. Lalu ia mendongak menatapku lurus-lurus penuh penyesalan. “G-gues ma-mau…”
“MELLL!!!” lagi. Dari arah pintu Bela berlari ke arahku histeris. Lalu dengan menabrak lengan Marcel sebentar ia memelukku erat.
“HOEKS!!!” sialan! Dadaku benar-benar sesak napas sekarang. “Woy gue sekarat woy lepas!!!” balasku tak kalah histeris. Bela terkekeh. Ia duduk di pinggir ranjang sekarang.
“Lo tau nggak! Gara-gara tadi lo pingsan. BU Rani langsung merasa bersalah gitu. Sia nyuruh Marcel sama Kak Arman yang tiba-tiba masuk ke kelas kita buat bawa lo ke sini, Mel.” Jelas Bela berapi-api. “Gue langsung buatin lo the, eh si Kutu Busuk ini main bawa kabur tehnya aja buat lo!” Bela menunjuk Marcel dengan dagunya.
“Yaelah!” kujitak kepala Marcel keras. Ia hanya meringis mengusap kepalanya. “Oh iya, siapa itu Kak Ar… mampus gue!!!” seketika perutku mulai bereaksi. Seperti ada berjuta kupu-kupu terbang di sana. Jantungku juga sepertinya berkoordinasi. Ia terus berdegub kencang. Cowok itu nekat juga masuk ke kelas dan membawaku kemari. Tunggu-tunggu… kalau Marcel yang menggendongku ada di sini… berarti cowok itu juga…
“Remember me?” sapanya sambil bersandar di pintu. Marcel dan Bela menggeser badan mereka untuk memperjelas pandangan Arman ke arahku. Dia menatapku tajam dengan tangan dilipat. Oke. Kali ini aku benar-benar mampus!

Bela dan Marcel menatapku seakan butuh penjelasan. Aku tidak tahan. Sesak buang air kecil di saat panic seperti ini mungkin tidak tepat.

“Eugh, gu-gue… gu-gueee…” aku meremas tangan mencoba menahan. “Huaaa nggak tahan!!! Aku melompat dari ranjang. Berlari melewati mereka bertiga menuju kamar mandi.

Untung kamar mandi jaraknya jauh dari UKS, sehingga kemungkinanku untuk kabur lebih besar. Setelah selesai dengan urusan di dalam, kepalaku menyembul duluan. Mengintai sekitar kalau-kalau ‘kingkong’ berwajah datar itu mengikutiku. Kulihat jam sejenak, masih ada satu jam pelajaran untuk kemudian pulang sekolah. Tanggung banget buat balik ke kelas dan mendengarkan guru pidati di dalam. Jadi kuputuskan untuk bersembunyi di taman belakang sekolah yang sejuk itu.