Remember Rain Bagian 31

“Gue memang suka sama lo, nggak tau sih persisnya kapan. Rasanya aneh aja gitu, kalau ada cowok lain, orang lain, yang lebih dekat dengan lo dari pad ague,” Marcel berdeham sebentar. “Maksud gue Armand an Arya. Gue nggak rela aja. Kan gue yang kenal lo duluan, gue yang lebih tau tentang lo, tapi kenapa mereka yang lebih deket coba? Gue…”
“Cemburu?” potongku menebak.

Marcel menelan ludahnya lalu mengangguk. Aku kembali terkekeh. Berada di dekat Marcel, tidak pernah membuatku serius. Maksudku, dia selalu bisa membuatku nyaman dan santai berada di dekatnya. Mungkin karena sudah biasa, dan dia temanku sejak kelas satu SMP. Kita cukup dekat. Tidak ada salah selama masa persahabatan kami. Selama ini juga, teman dekatku yan hanya Marcel dan Bela. Aku jarang bergaul selain bersama mereka. Sepertinya aku tahu letak permasalahannya.

Tersenyum, kutepuk pundak Marcel pelan. Dia menatapku. “Marcel, kayaknya lo salah mengartikan rasa ‘itu’ ke gue deh. Coba lo Tanya ke diri lo sendiri, ke hati lo. Ini nggak serumit itu,” kugantungkan kalimat ini sejenak, menunggu responnya.

Marcel menggeleng. “Gue masih nggak ngerti.”
“Lo sayang sama gue, kan? Tanyaku, dia hanya mengangguk. “Gue juga, Bela juga. Dan gue yakin lo juga sayang sama Bela. Perasaan yang kita punya ini bukan sayang yang harus memiliki dengan ikatan seperti pacaran. Kita lebih dari itu, Cel.” Aku sedikit bergetar mengatakannya. Entah kenapa aku merasa lebih bijak sekarang.

Bagusnya dia mengerti. Sepertinya Marcel memang salah mengartikan. “Mungkin, tapi gue seneng lo jadi kayak tukang ceramah, Mel. Bijak banget dah!” lalu ia tertawa. Kami tertawa.

Sepertinya Marcel memang cemburu pada Arya dan Arman, mengingat aku tidak pernah dekat dengan cowok lain selain dia. Aku juga pernah seperti itu. Ketika Bela lebih memilih curhat dengan orang lain, lebih memilih pergi belanja dengan orang lain, atau dekat dengan yang lain, hatiku seakan sesak. Rasanya sakit ketika tahu itu. Seperti tidak berguna dan yah… tidak dianggap. Aku pernah menangis seharian karena itu, bahkan tidak ingin bertemu siapa pun. Katakana aku berlebihan, tapi itu kenyataan. Aku cemburu. Dan Marcel, kurasa dia mengalami hal yang sama.

Tiba-tiba Marcel menarikku mendekat padanya. Dia memelukku erat. Kepalanya diletakan di lekukan leherku, hingga mau tidak mau aku harus menahan geli.

“Hey, jangan pilih kasih ya.” Bisik Marcel lembut. Aku hampir tidak mendengarnya. Mengangguk, kueratkan pelukan kami. Seharusnya aku tidak boleh banyak mengeluh mengingat banyak orang yang selalu membuatku bahagia selama ini.

Belum beberapa menit, tiba-tiba pintu dibuka. Buru-buru aku melepaskan pelukan Marcel. Di sana di pintu, Arman berdiri menatap kami. Aku tidak mengerti raut wajahnya sekarang. Seolah-olah kaget, tidak percaya, atau entah apa lagi kata-katanya.

Marcel mencoba membuka mulutnya berkali-kali. “K-kalian? Eh, maaf g-gue ga-ganggu ya?” ujarnya terbata-bata. Untung aku masih bisa mengerti.

Belum lagi aku dan Marcel sempat menjawab, terdengar gemuruh dari bawah ke atas. Itu suara langkah kaki Rangga dan Arya. Bedanya rangga berlari ke atas sini. Ya ampun. Mereka menyerobot Arman yang ada di pintu lalu masuk. Rangga langsung memleukku dan mengacak rambutku.

“Hoy! Gimana keadaan lo?” ujarnya sambil mengerling beberapa kali. Aku terkekeh melihatnya, lebih tepatnya geli.
“Baik kok!” jawabku sekenanya. Arman masih bergeming di tempatnya. Padahal jujur aku ingin dia juga mendekat lalu memlukku. Ah, setidaknya tanyakan apa aku baik-baik saja. Tapi siapa aku?

Televise sedari tadi dihidupkan, tapi aku abaikan sibuk dengan ponsel. Jujur begitu membosankan berada di rumah sendiri tanpa siapa pun. Ini karena lukaku belum benar-benar sembuh, ibu pergi kerja di sebuah perusahaan majalah sebagai editor, sedangkan Bary sekolah dan akan pulang sore untuk bekerja di café Arman.

Jadilah aku memainkan ponsel yang tidak ada pesan atau telpon masuk dari pagi. Yang kulakukan hanya membaca ulang pesan-pesan di sana. Setidaknya cukup untuk menghibur.

Sender : Unknow
Lo di mana? Angkat telpon gue woy! –Arman-

Aku tersenyum. Itu pesan yang kingkong kirim saat kemarin sore. Ya, akibat aku jalan-jalan sore, keluarga Wijaya khawatir. Soalnya hujan kemarin begitu deras dan aku belum juga kembali. Bela menelpon ibuku kalau-kalau aku ada di sana, tetapi tidak juga ada. Ponselnya tidak bisa dihubungi karena aku memang mendiamkannya. Kemarin saat di kamarku Bela bercerita semuanya. Dia bilang Arman yang mencariku keluar dan membawaku ke rumah dengan keadaan parah. Itu berarti dia yang telah menyelamatkanku kemarin. Aku jadi penasaran, kira-kira Arman tahu tidak ya mereka dans fanatiknya Maurin?

Drrrtt… drrrrtt… ponselku bergetar. Ini pertama kali untuk hari ini.

Sender : Unknow
Pulang sekolah ke taman kemarin yok. Gue yakin lo udah bisa jalan, dan gue jamin nggak ada lagi yang bakal nyakitin lo kayak kemaren. –Arman-

Aku lagi-lagi tersenyum. Arman selalu memakai private number sehingga aku tidak bisa menyimpan nomornya. Pulang sekolah ya? Aku mengangguk sendiri. Mungkin ini waktunya untuk bicara lagi dengan kingkong itu. Sudah waktunya untuk berbaikan dan memulai seperti biasa. Aku rindu padanya.