Remember Rain Bagian 34

“Aseeek! Peje-nya mana? Gue tunggu dan harus secepatnya deh!” todongku cepat, membuat Bela tiba-tiba melongo menatapku.
“Peje apaan?”
“Pajak jadian! HAHAHAHA!” aku buru-buru mengelak saat Bela akan memukulku lagi. Kali ini ia sudah merentangkan tangannya ke depan, sepertinya ingin mengeluarkan jurus menjambak.
“Kaboooooor!” buru-buru aku loncat dari ranjangnya lalu lari tetapi masih menatap Bela di belakang. Aku tertawa-tawa. Terus berlari hingga ada sesuatu yang kutabrak. Ah, tepatnya seseorang.
“Kok lo nggak ke taman sih?” protes suara berat itu.

Dengan gemetar kutolehkan pandangan ke arahnya. Kepalaku sedikit mendongak untuk bisa menatap sepasang mata hazel di hadapanku. Dia… Arman. Deg! Buru-buru kutarik kaki, berlari ke kamar Bela lagi lalu langsung mengunci pintunya.

“Melisa! Lo apaan sih? Keluar nggak?!” Arman berusaha keras menekan gagang pintu. Ia menggedor-gedor dengan keras pula. Aku mendesis sebal. Tidak tahukak dia ini rumah orang?

Setelah lelah bertahan menempel di pintu, dengan langkah gontai aku merebahkan diri di kasur. Kudengar suara Bela yang berusaha menghentikan Arman. Aku tidak peduli. Kututup mata dan kedua telinga dengan kedua tangan.

“Mel, nggak usah kayak anak kecil deh sembunyi di kamar orang gini. Buka, gue mau bicara!” lagi-lagi Arman mendesak. Disaat seharusnya ia merasa bersalah atau malu atas perbuatannya tadi, ia malah menyuruhku keluar paksa.
“Arman, udah deh tenang dulu!” Bela sepertinya berhasil menarik dan mencegah Arman berbuat onar di rumahnya lagi. Karena, kali ini tidak ada gedoran keras di pintu. “Lo apain dia tadi? Kenapa Melisa bisa nangis berat setelah pulang dari taman? Lo udah bikin sahabat gue sakit hati tau nggak!” sosor Bela dengan suara kerasnya.

Di satu sisi aku memuji habis-habisan akan pertanyaan jeniusnya. Tapi di sisi lain, aku ingin menghilang saja. Bela bahkan tidak tahu kalau aku dan Arman belum bertemu walau pun aku sudah ke taman. Dan, walaupun benar alasan aku menangis itu karena Arman, tetap saja kingkong tidak salah. Dia kan tidak tahu apa-apa? Astaga. Bagaimana ini? Jujur aku malu.

“Nangis? Gue nggak lihat Melisa tadi. Asal lo tau, gue nunggu sahabat lo sampe kering di sana!” protes Arman seperti dugaanku.
“Sampe kering? Maksud lo kebalikannya? Bukannya bibir lo juga basah karena…” ah tidak lagi. Air mataku kembali turun ketika bayangan mengerikan di taman itu kembali. Aku menggigit bibir, menolak untuk mencibir lagi walaupun pelan.
“Hah? Ta-tapi dia udah ke sana kok!” jawab Bela tidak menyerah. Setelah itu hening sejenak. Aku bisa menebak Arman mengerutkan keningnya untuk mencerna kebenaran dari Bela.
“Ck!” kudengar Arman mulai berdecak. Ini artinya dia marah atau kesal. Kembali kudengar gedran kasar dank eras di pintu. “Melisa keluar tolong! Apa yang lo liat tadi nggak kayak yang lo pikirin kok! Makanya keluar dulu kita bicara baik-baik oke?” ujarnya. Arman memang pintar. Kini ia tahu alasan aku meringkuk di selimut bau khas Bela ini.

Aku masih diam. Aku tidak mau kalah atau menjatuhkan harga diri, kalau dia sampai taahu suaraku serak dan parau. Bela tidak lagi mengeluarkan suara. Dia pasti bingung sekarang.

“Mel, please. Keluar ya? Jujur gue benci ngomong sama pintu kayak gini,” pinta Arman, kali ini walau pun keras, intonasinya agak lembut. Benar-benar seperti sedang membujuk.

Aku kembali menangis. Rasanya serba salah. Kenapa juga aku harus bertingkah kekanak-kanakan seperti ini. Buat apa sekarang aku mengurung diri di sini. Dan tidak seharusnya Arman sampai memohon-mohon agar aku keluar. Kuusap air mata dengan kasar agai airnya cepat hilang. Kusingkirkan selimut, lalu berjalan ke arah pintu. Melisa bukan aku kalau cengeng dan tidak kuat seperti ini.

Suara anak kunci yang kuputar terdengar. Kubuka pintu perlahan dan mendapati kingkong berdiri di sana.

“Man…” belum sempat menyelesaikan kalimat, Arman memelukku. Nafasku buntu, buru-buru kupalingkan wajah ke samping. Kepalaku hanya sebatas dadanya, membuatku bisa mati kehabisan nafas jika tidak memiringkan wajah.
“Maaf ya, gue bisa jelasin kok.” Ujarnya lembut. Baru kali ini Arman mengeluarkan suara seperti itu. Tubuhku semakin tertarik ke dalam. Kurasakan ia mulai mengecup puncak kepalaku. Lalu kembali ia elus rambutku, dengan satu tangannya memeluk erat.

Hatiku kembali terenyuh. Rasa sakitnya memberontak lagi. Kurasakan mata mulai memanas dan berair. Aku tidak boeh terlalu jauh dari ini, kalau tidak ingin merasakan yang lebih sakit.