Remember Rain Bagian 37

Kulihat sekeliling, mereka semua tidak ada yang berani menolongku. Mungkin mereka pikir aku anak nakal yang berkeliaran malam-malam sehingga kakek marah. Aku tidka punya pilihan lain. Kugigit keras tangan kakek hingga ia menjerit kesal. Aku lari menuju minimarket yang dekat dengan kami dan berniat masuk. Tapi dari belakang kakek lagi-lagi mencengkram tanganku.

“Dasar orang jahat!” tiba-tiba saja ada gadis seumuran denganku yang bdari belakang menendang kaki kakek dengan kuat. Sementara kakek mengaduh dan loncat-loncat kesakitan, gadis itu menarikku untuk berdiri di belakangnya. “Rasain!”

Antara tidak tega dan ingin berterima kasih. Aku bingung. Kakek mulai pulih, ia mendekat dan mendelik geram ke gadis di depanku ini. Adis berkuncit dua tadi mulai mengocok dua botol yakult di genggamannya. Lalu setelah ia lubangi dengan jari, kakek disiramnya dengan minuman itu.

“Awwww!” aku meringis melihat mata kakek yang kena. Perih, lengket, bau, dan entah apa lagi yang mungkin kakek rasakan sekarang. “Dasar gadis tengik!”
“Tolooooong! Dia oran jahat! Kakek-kakek penculik anak kecil!” anak itu kini berteriak sambil menangis. Aku tidak mengerti kenapa ia melakukan ini. Tapi tiba-tiba saja aku ikut menangis. Aku bingung harus bagaimana. Badanku gemetaran karena takut dan dingin. Hujan semakin deras membasahi kami di depan minimarket ini. Berbondong-bondong orang yang tadinya tidak peduli kini mengerumuni. Kakek tampak ketakutan. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan pada kakek.
“Ayo kita kabur!” denan satu tarikan, gadis itu membawaku berlari. Dia membawaku ke sebuah taman. Awalnya kukira dia ingin mengajakku bermain sebagai imbalan telah menyelamatkanku, tapi salah besar. “Kita sembunyi di sini ya?” aku hanya mengangguk ketika kami masuk ke sebuah lubang dinding perosotan.

Pilihan yang tepat, setidaknya selain bersembunyi, kami juga terlindung dari hujan deras yang mengguyur. Kepalaku mulai berdenyut.

“Kamu sendirian? Kan udah malem,” gadis itu mulai mendekat. “Kata ibu aku, kakek penculik anak itu sering dateng malem-malem. Kayak tadi itu tuh.” Ujarnya memelankan suara.
“Itu bukan kakek penculik anak kok. Dia kakek aku!” aku sedikit cemberut, walau bagaimana pun kakek tetaplah kakekku. Orang tua dari ayah. Dan ibu pernah bilang kalau aku harus sopan dengan orangtua.

Sekaran gadis itu memandangku bingung. Aku bisa mengerti. “Kamu sendiri kenapa malem-malem keluar?” tiba-tiba ia menepuk jidatnya. Seakan pertanyaanku merupakan peringatan baginya. Dan sepertinya benar.

“Ah iya! Tadi itu aku ke market bentar beli ini,” ia menunjukkan wafer stroberi dan yakult yang tersisa. “Ibu sama adikku lagi di mall beli baju diskon.”
Aku mengangguk. Dia terlihat begitu panic sekarang. Hujan deras tidak mereda sama sekali.
“Kamu nggak punya kakek atau nenek?”
Menggeleng, cewek ini membuat rambut kuncirannya ikut bergoyang. “Nggak tau, ibu nggak pernah cerita tentang kakek atau nenek, aku juga nggak pernah ketemu. Kalau pun ada, aku nggak mau punya kakek jahat kayak punyamu!” dia mulai meleletkan lidahnya. Membuatku kesal sendiri. Peningku menjadi.

“Aku kesel sama ayah, sama kakek-nenek ayah. Mereka jahat sama ibu!” curhatku tanpa sadar. Padahal jujur aku tidak mudah berbicara pada orang asing.
“Ayah juga jahat sama ibu. Dia bikin ibu nangis mulu.” Ucapnya membuatku kaget.
“Beneran? Ibu aku juga sering nangis karena mereka.” Jawabku penuh semangat. Rasanya ada teman untuk berpijak di kasus yang sama.
“Iya, makanya mulai sekarang aku nggak akan bikin ibu susah lagi. Janji bakal terus melindungi dia dan adikku juga.” Kali ini senyumnya kembali muncul.

Aku mengangguk, dalam hati mengucap janji yang sama pula walau dengan senyum yang getir. …. Melindungi dia dan adikku. Ah, andai aku juga bisa melindungi Kak Angel.

“Muka kamu pucat! Makan atau minum nih.” Disodorkan makanannya untukku.
Stroberi, buah kesukaan ibu. “Kamu suka stroberi juga?” dia hanya mengangguk.
“Aku suka semua yang berhubungan dengan stroberi.”
Pandanganku menggelap seiring gadis kecil itu menggoyangkan badanku.