Remember Rain Bagian 38

Kucoba menggerakan badan yang kaku. Pandanganku perlahan jelas. aku masih berada di lubang ini. Ada satu pack wafer stroberi di sampingku. Ini sudah begitu malam, sepi sekali, di luar juga sudah tidak ada hujan. Kualihkan pandangan ke sekitar, mendapati gadis kecil tertidur di sampingku. Wajahnya lucu, putih, dan imut. Aku mau menjadikannya teman, tapi dia tidur. Anehnya, gadis itu sedikit berubah saat pertama kami bertemu. Rambutnya lebih panjang dan tidak dikuncir dua. Tubuhnya lebih kecil dari tadi. Bajunya juga. Entahlah, mungkin karena ingatanku memburuk atau hujan-hujanan tadi membuat semuanya tidak jelas.

Dia menggeliat sejenak untuk kemudian sadar. Senyumnya merekah ketika menatapku.

“Bule ya?” tanyanya lembut.
Kugelengkan kepala. “Bukan bule tapi Arman.” Kudengar gadis itu tertawa lalu mengulurkan tangannya.
“Maurin.”
“Arman,” jawabku sambil menyalaminya.
Dia tertawa lagi. Aku tersenyum, tidak sengaja tanganku menyentuh pack wafer tadi. “Ah, ini dari kamu kan? Makasih ya,” ujarku senang. Juga malu karena semalam belum sempat mengatakan terima kasih.
Matanya sedikit mendelik melihat wafer di tanganku. “Eh? I-itu, ya! Itu dari aku!” dia tertawa lagi walau tidak serenyah tadi.
“Kamu belum pulang juga?” tanyaku sedikit khawatir. Bagaimana kalau orangtuanya mencari? Kalau aku… mungkin tidak masalah.
Dia menggeleng. “Rumah aku deket. Mama pulang jam Sembilan hari ini, karena bosen jadi aku ke sini deh.”

Kukerutkan kening tidak mengerti. Gara-gara itu kepalaku kembali berdenyut. Dia mulai panic dengan menanyakan keadaanku. Aku tahu ini saatnya pulang sebelum pingsan di sini dan membuat banyak orang menjadi khawatir. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diri untuk tidak ingin berpisah dari Maurin. Pandanganku tertuju pada sebuah bentuk stroberinya juga. Kurasa Maurin tidak sadar gelangnya tergeletak begitu saja. Ukurannya yang kecil, tidak mudah membuat orang langsung sadar itu gelang. Buru-buru kuambil gelang itu tanpa Maurin sadari. Suatu saat nanti gelang ini yang akan membuatku bertemu lagi dengannya. Pasti.

Dan dari situ lah aku mengenal Maurin. Pulang dari taman itu, rumah sudah dikunci. Aku sedikit takut. Tiba-tiba Pak Beni, satpam rumah melihatku. Pintu rumah dibuka.

“Arman nggak apa-apa? Ibu sama ayah lagi di kantor polisi, kamu tidur aja ya?” aku hanya mengangguk. Kuikuti arah pegangan Pak Beni ke kamarku. Ia mematikan lampu lalu keluar.

Besoknya aku terbangun, mendapati ibu sudah ada di kamarku. Aku meloncat ke pelukannya saking senangnya.

“Arman nggak mau ke Jerman.” Ujarku pelan ketika ingat kejadian semalam.
“Nggak kok, kamu tetap di sini. Kakek sama nenek udah berangkat ke Jerman tadi pagi.” Ucap ibu. Matanya sedikit berair dan aku tidak ingin ia kembali menangis.
“Ayah juga?” ujarku, membuat ibu mengangguk lalu meneteskan air matanya.
Kuusap pipinya pelan. “Bu, kok Kak Angel nggak ke sini? Kenapa nggak ikut kita di sini?” tanyaku pelan.

Air mata ibu turun juga. Dalam hati kurutuki diri yang lancing bertanya. Ibu menatap ayah sejenak lalu menatap lagi.

“Kakak kamu diambil sama kakek nenek. Maaf ya kalau semalam ibu suruh kamu lari. Harusnya nggak gitu. Ibu Cuma.. Cuma takut nanti kamu nggak balik sama kayak Kak Angel.” Tangis ibu kembali pecah. Ia memelukku erat.

“Egh, Arman?” seseorang dalam dekapanku mulai menggeliat. Kuregangkan pelukan walaupun jujur tak ingin. “Kamu kenapa ya?” mengerjap, ia bertanya dengan senyum paksaan.

Aku baru sadar kalau memluknya begitu saja. Asal tahu saja, seumur hidupku aku hanya memeluk tiga wanita. Ibu, nenek, dan Maurin. Baiklah, sekarang jadi empat.

Kalau menuruti ego, mungkin sekarang aku akan menghempaskannya ke belakang dan menyuruhnya untuk membantuku membuat kue sekarang juga. Tapi aku tahu kalau saat ini hati lebih banyak berperan. Kueratkan pelukan, membuatnya sedikit gelagapan.

“Aku nggak tau, Mel. Kita baru ketemu dengan cara yang aneh. Harusnya aku kesel, marah, terus hukum kamu. Tapi perasaan aku ngalahin semuanya. Lagian aku juga udah janji buat jagain ibu aku, itu berarti aku juga nggak boleh menyakiti wanita, kan?”

Dia masih diam. Aku tersenyum, sepertinya gadisku yang satu ini agak lelet. Tapi aku suka.

“Let me say the simple word. I love you.” Kutarik nafas lagi. Kali inni sama gugupnya saat pertama kuutarakan perasaan dengan Maurin. “Kamu memang bukan ibu aku, bukan Maurin, tapi orang asing yang berhasil bikin aku merasa kayak… aku udah kenal kamu lama dan kangen buat ketemu sama kamu.” Lama-lama aku tidak mengerti apa yang kukatakan. Sering kali apa yang ada di hati tidak bisa kusampaikan dengan baik melalui kata-kata.

Kuregangkan pelukan untuk melihat manic matanya. Dia menatapku heran. Aku hanya terkekeh lalu beranjak ke dapur. Sementara dia malah tetap diam di sofa.

“Sampe kapan mau di situ? Nggak ada niat bantuin nih?” godaku yang sukses membuatnya mendengus.

Dia mendekat, kami mulai sibuk meramu bahan-bahan. Beda dari biasanya, karena kali ini Melisa tampak diam. Untuk pertama kalinya aku rindu kecerewetan gadis ini.