Remember Rain Bagian 41

Pandanganku terpusat pada semburat cahaya yang terpancar pada layar proyektor. Aku bahkan tidak menyadari ada benda itu sebelumnya. Ada sekitar dua atau tiga yang digabung menjadi satu, melekat pada dinding café. Ada seseorang yang berdiri di tengah. Wanita paruh baya itu… pasti ibunya Arman! Dia terpana menatap apa yang ada di depannya sejenak. Lalu dari layar itu terputar semacam video dengan lagu. Aku bergerak pelan untuk melihat dengan jelas video di sana. Itu foto-foto mulai dari pernikahan, lalu wanita dengan seorang bayi, lalu anak kecil yang manis. Kalau diperhatikan anak itu mirip dengan Arman. Aku seperti pernah melihatnya saja. Cowok kecil yang imut dengan mata dan rambut coklat. Lalu ada Arman yang kutafsir masih sekitar SMP sedang memeluk ibunya. Mereka tampak begitu bahagia. Seterusnya hanya mereka berdua. Tidak lagi menampilkan foto ayahnya yang hanya ada dua atau tiga tadi. Mungkin Arman sengaja membuat video itu focus kepada ibunya, karena beliau yang ulang tahun.

Wanita itu menangis sambil menutup mulutnya. Aku bisa lihat bulir air matanya jatuh di tiap jari tangannya. Aku jadi ingat ibu. Aku juga begitu menyayanginya. Sangat. Kuperhatikan lagi video itu ketika ada Arman di sana. Dia menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan gitarnya. Dari belakang kamera ada suara tepuk tangan dan tertawa-tawa. Aku hafal suara itu, pasti ada Arya dan Rangga juga di sana. Hal itu cukup membuat ibunya Arman tertawa sambil menangis terharu. Lampu hidup kembali. Semua ternyata sedari tadi berdiri di sekeliling, mereka mulai mendekat ke ibunya Arman dan bernyanyi mengikuti nyanyian di video.

“Ayo kita ke sana, Mel!” ajak Tante Desi lalu bergabung dengan yang lainnya. Aku tersenyum saat Arman datang, membuat keramaian itu membelah seakan member jalan untuknya. Ia membungkukkan badannya, melipat satu kaki untuk berdiri. Di tangan Arman ada kue yang kami buat tadi, ia mendongak menatap ibunya penuh cinta.

“… Selamat ulang tahun, Bu.” Itu kata terakhir yang sayup kudengar. Aku telah lebih dulu ngacir ke kamar mandi yang terlihat di belakang café ini. Kebiasaanku ini begitu merepotkan di situasi begini.

Terdengar sorakan dan hiruk pikuk setelah keheningan tadi. Aku membenarkan rok, lalu mulai berkaca.

“Hai, Tante, aku pacar barunya Arman. Melisa hehe,” kutatap wajahku du depan cermin. Aku menggeleng keras, rasanya terlalu sombong dan sk akrab. “Selamat ualgn tahun, Tante. Senang rasanya bertemu dengan anda. Anda terlihat cantik hari ini. Cuaca di luar tampak bagus ya?” aku menepuk jidat. Formal bukan gayaku, ini akan menjadi sulit. “Selamat ulang tahun…”

Tiba-tiba saja pintu dibuka. Ada yang masuk juga ternyata. Seorang wanita dengan lipstick tebal, sedang memperhatikanku keheranan. Buru-buru kubenarkan poni lalu melenggang seperti tidak pernah terjadi apa pun. Astaga, mengganggu konsentrasi saja. Kuhembuskan nafas untuk menemui Arman dan ibunya di depan.

“Ah iya, Tante. Amam baik-baik aja kok,” mataku membelalak ketika melihat ada Maurin! Dia sedang berbincang dengan ibunya Arman dan Arman juga ada di sana. Bodohnya aku hanya bisa berdiri mematung beberapa meter dari mereka. “Kak Arman jahat nih nggak bilang acaranya di sini, jadinya aku terlambat. Maaf ya, Tante.” Dengan genit dan suara di-sexykan, Maurin mengamit lengan Arman. Dan herannya Arman diam saja, ia malah sibuk mengalihkan pandangan seperti mencari sesuatu.

Pantaskah aku sakit hati saat ini? Kuangkat wajah, menghindari air mata yang jatuh. Akut idak tahu harus apa, yang jelas keluar dari sini secepatnya jadi pilihan. Aku menyalip pada banyaknya orang di sini. Sebenarnya ingin mengobrol dengan Bary saja agar tidak terlalu ‘sendiri’ di sini, tapi dia sibuk berbicara pada seorang gadis, mungkin gebetannya. Juga ada Arya dan Rangga sama sibuknya.

“Melisa!” itu suara Arman. Aku tidak lagi menoleh ke belakang. Dengan sedikit gesit kutabraki orang-orang yang menghalang. Satu tujuanku yang pasti. Pulang.

Tangaku tiba-tiba tercekat sesuatu saat keluar dari café. Tangan Arman. Buru-buru kulepas paksa tangannya yang kuat. Dari pintu dan dinding café yang setengahnya kaca, para tamu mulai mendekat dan memperhatikan kami berdua. Mukaku berubah merah, kutatap Arman meminta solusi. Dia sama paniknya. Akhirnya Arman menarik tanganku lari menjauh dari café. Untuk sementara katanya. Kamu berhenti untuk mengatur nafas sebentar.

“Ck, apaan sih main kabur-kabur segala?!” ujar Arman kesal.
“Aku Cuma nggak mau ngerusak momen special kalian! Udah balik sana!” kudorong punggung Arman untuk menjauh.
“Hah? Justru kalau kamu nggak ada momennya bakal rusak. Nggak usah aneh-aneh deh! Tadi aku cariin buat kenalan sama ibu, kamu malah ketahuan mau kabur.”
“Lah, terus kenapa kamu tarik aku ke sini? Kita sama-sama kabur, kan?” ujarku semakin bingung. Arman mengerutkan keningnya menatapku. Kami terdiam sejenak lalu tertawa bersama. “Stres!” kutepuk keningnya dengan setengah berjinjit.
“Ada juga kamu!” ia balas memiting kepalaku. Kami kembali tertawa. “Balik yuk!” aku hanya mengangguk saat Arman kembali menarik tanganku.

Seisi café hanya memandang kami heran sejenak lalu kembali ke aktifitas mereka sendiri. Setidaknya tidak begitu memalukan. Arman menggenggam tanganku mendekati ibunya yang tengah bersama boneka porselen. Kali ini aku tidak akan kabur.