Remember Rain Bagian 48

“Heeh kamu ngapain di situ anak manis?” waktu itu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, seorang pegawai berseragam memergokiku saat menguntil permen gula-gula di toples.

Aku bebrgetar sambil menggenggam permenku, menatap lelaki tinggi itu ketakutan. Mataku memanas saat itu, ingin teriak memanggil ibu yang jauh di toko baju.

“Mau permennya ya?” dia celingak-celinguk sebentar lalu menatapku lagi. “Ini namanya mencuri. Kamu mau jadi pencuri?” aku segera menggeleng saat ia tersenyum manis. “Ya udah, kali ini boleh diambil deh permennya. Jangan lagi lain kali ya?”

Saat itu aku berjanji tidak lagi menguntil. Aku jadi ingat kalau selepas diberi nasehat oleh abang-abang penjaga itu aku langsung berlari mencari ibu. Meminta uang untuk pergi ke minimarket saja yang dekat dan tidak terlalu ramai.

Kudekati anak kembar itu untuk melakukan hal yang sama saat aku kecil. Mereka masih tidak mengacuhkan kehadiranku di dekat mereka. Aku sedikit berjongkok agar kami sejajar.

“Hayooo ketahuan maling kelengkeng ya?” ledekku berusaha bercanda. Senyumku seketika luntur saat keduanya malah memelototiku sambil menjulurkan lidah mereka.
“Ayo Nis kita lari! Nanti dia bisa nyulik kita kayak kata Mama!” seru yang cowok sambil menarik-narik tangan yang cewek. Aku kelabakan segera menutup mulut mereka. Suara anak kecil itu sempat membuat satu dua pengunjung menatapku curiga.
“Pssst diam kenapa sih?” usahaku untuk membuat mereka diam sia-sia. Sang cewek mulai agresif dengan menggigit tanganku yang sedang membekap si cowok. “SAKIIIT LEPASSS LO ZOMBIE!!!” jeritku kalap.

Derap langkah petugas keamanan mulai mendekati kami. Anak kembar itu berlari kencang sambil meneriakiku tukang culik anak. Aku mencak-mencak hendak mengejar dan member mereka pelajaran ketika salah satu petugas satpam mengunci tanganku.

“Loh loh, Pak ini saya mau dibawa ke mana?” tanyaku heran sambil meronta untuk dilepaskan. Sepanjang jalan semua orang menatap kami.
“Udah diam aja!” petugas di sebelah kiriku mulai protes dan mengeratkan genggamannya. Wajah mereka ditutupi penutup persis maling, hanya bagian mata dan hidung yang berlubang. Aku jadi curiga mereka bukan satpam di sini.
“Sayanya mau dibawa kemana?” tanyaku tak sabar. Mereka terus membawaku mengelilingi mall ini padahal harusnya kami bisa sampai cepat di kantor.

Aku mulai gerah jadi tontonan gratis para pecinta diskon di sini. Kedua satpam itu akhirnya membawaku ke tengah-tengah mall. Kakiku gemetar ketika menginjak stage yang biasa disewakan untuk acara music atau kontes. Orang-orang di escalator kanan dan kiri, di lantai dua hingga empat, sampai yang berada di sekitarku mulai bisik-bisik dan berkumpul melihat. Ingin kututup muka karena malu bukan main, tapi sialnya dua satpam ini menggenggam tanganku kuat. Jantungku berdebar keras. Kurasakan kaki dan tangan mulai bergetar hebat. Dan tentu saja bagian bawahku berontak… kau tahu saat panic bagaimana. Pikiranku saat ini hanya bagaimana caranya hilang dari pusat perhatian dan mencari kamar mandi secepatnya.

“Show time!” bisik satpam satu ke satpam lainnya. Aku mengerutkan kening menatap mereka dari ujung mata. Ada yang tidak beres. Ini keterlaluan! Harusnya aku tidak sok memperingati duo kurcil yang amit-amit tadi.

Dasar bocah-bocah bandel! Bocah sialan! Coba saja ia bertemu Pratiwi si kucing setan biar dicakar-cakar mereka berdua!

Aku masih sibuk menggerutu. Lampu sorot yang banyak tiba-tiba berputar terorganisir. Mataku terkadang silai terkena lampu-lampu yang berputar dan menyinari dari kanan ke kiri serta sebaliknya. Suara music yang entah dari mana mulai berdenting. Suara piano yang lembut dan indah. Kucari-cari asal pemain piano itu ketika petugas-petugas tanpa penutup wajah berpakaian warna hitam dan berkacamata mulai membentuk barisan. Karpet merah terbentang dari pintu masuk hingga panggung dimana aku berdiri sekarang. Sama seperti para pengunjung mall ini, aku keheranan dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Kini pusat perhatian tertuju pada mobil hitam mahal yang terparkir di pintu masuk. Seseorang berjas hitam, dasi merah marun, dan memakain kacamat hitam pula turun dengan gentle. Aku terkesima melihatnya. Mobil di belakangnya pergi ketika cowok itu masih berdiri tegak bersama… kingkong?!