Remember Rain Bagian 5

Hari ini sebenarnya aku berniat untuk tidak sekolah saja. Bisa dipastikan keadaanku sedang dalam posisi darurat. Arman sudah tahu di mana kelasku. Dan peristiwa pingsan kemarin sepertinya cukup membuat cowok itu hafal dengan wajahku.

Aku menyeret kaki ke kelas sambil was-was. Kadang aku bersembunyi di balik tembok atau pilar sekolah ketika melihat cowok yang rambut atau punggungnya mirip Arman. Beberapa murid menganggapku sinting. Tapi peduli apa lah, aku benar-benar ketakutan sekarang. Baru aku akan sampai ke kelas ketika kulihat Arman bersiri di depan pintu. Dia bersama dua temannya di kanan-kiri. Yang satu sepertinya agak genit melihat dia tebar pesona setiap ada yang lewat di depan kelasku. Sedangkan satunya lagi, cowok dengan kucing putih di pundaknya. Cowok itu… ah, Arya! Kakiku akan terangkat dan berjalan ke Arya ketika aku ingat di sana ada Arman juga. Mampus! Aku kembali sembunyi di balik tembok.

“Woy!” jantungku hampir copot. Aku mendorong Marcel dengan keras karena kesal. Marcel hanya cengengesan di belakangku. “Lo ngapain?”
“Cel, bisa bantuin gue nggak?” pintaku ketika tiba-tiba mendapat ide cemerlang. Aku menatapnya penuh harap hingga mungkin… mataku penuh beningan air mata. Okey, ini lebay!
“A-apa?” tanyanyaa seketika gugup. Aku menahan tawa melihat ekspresi cowok satu ini. Marcel tampak manis kalau saja tidak iseng melulu.
“Tuh!” aku menyembulkan kepala sedikit, melihat Arman masih di depak kelasku. “Tolong usir mereka dong! Pliss demi gue oke?”
Marcel mengangkat alisnya sejenak. “Kak Arman?” aku mengangguk keras. Setelah ber-oke ria, Marcel berjalan sok ditegap-tegapkan ke arah mereka bertiga.

“WOY! NYARI SIAPA LO PADA?” Tanya Marcel keras. Aku melompat-lompat kesenangan. Ternyata Marcel bisa diajak kerja sama. Pasti sekarang Arman dan Cs-nya takut serta kabur mendengar gertakan Marcel barusan.
“Gue nyari temen lo! Si…” Arman menatap Bela yang tiba-tiba keluar kelas. Sepertinya dia kaget dengan suara Marcel.
“Melisa!” sambar Bela sumringah. Lututku melemas sekarang. Tega-teganya sahabatku itu membongkar namaku. Aihhh. Lihat saja nanti! Aku sejenak berpikir kembali. Ini salahku juga yang tidak member tahu Bela soal kejadian beberapa hari yang lalu. Mana Bela tahu? Mati!
“Ohhh, Melisa? Dia ada tuh! Di balik tembok.” Marcel malah kembali cengengesan setelah dengan songongnya memberitahu persembunyianku. Aku menyesal meminta bantuannya sekarang. Marcel bodoh!!! Aku menggaruki tembok dengan geram sambil sesekali meninju-ninjunya. Maaf temvok, tiada objek selain dirimu.
“Mau kabur ke mana lagi sekarang?” entah sejak kapan, tapi tiba-tiba Arman ada di depanku. Aku meringis melihatnya diikuti kedua temannya yang ada di kanan-kiri.
“Hai, Pratiwi!” sapa Arya ramah. Kucingnya malah mengeong keras melihatku.
“Kok Pratiwi, Ya? Dia kan Melisa,” protes teman satunya penuh tanya. Ia lalu menatapku kebingungan. Tapi tatapannya seolah berpikir gadis ini berasal dari planet mana.
“Iya, namanya Melisa Pratiwi. Kita ketemu di belakang sekolah waktu bolos kemarin,” jawab Arya santai. Seolah-olah bolos merupakan kebiasaannya. Apa iya?
“Ohh hai Meti! Gue Rangga!” sapa temannya itu dengan senyum lebar. Ia mengacak-acak rambutku seakan kami teman lama. Oke, siapa lagi itu Meti?! “Meti itu Melisa Pratiwi, aku menggabungkannya keren kaaan?” ucapnya asal.
Arman geleng-geleng kepala lalu menatapku kembali. “Lo ikut gue. Sekarang!” ujarnya penuh penekanan. Wajahnya begitu datar dan terlihat dingin. Ditambah sifatnya yang arogan dan menyebalkan.

Aku bergidik ngeri dan hanya diam di tempat. Marcel dan Bela mulai mendekati kami. Aku segera meloncat ke dekat mereka meminta perlindungan.

“Kenapa lo, Mel?” Tanya Marcel polos. Aku menatapnya geram di balik tubuh Bela. Marcel yang tidak mengerti malah menatap Bela meminta penjelasan. Bela juga geleng kepala, ia menatapku penuh Tanya sekarang. Aku kembali meringis. Jadilah kami tatap-tatapan tanpa kemampuan telepati sama sekali.
“Ck, bodoh!” umpat Arman. Ia menarik paksa tanganku lalu menyeretku sesukanya.
“BELA TOLONG GUE!!!” aku berteriak keras. Bela mengambil ancang-ancangnya, namun seketika ia berhenti. Kulihat Rangga memegang pergelangan tangan Bela pelan lalu menatapnya sambil tersenyum. Bela hanya mematung menatap Rangga. Ia melupakanku bersama kingkong bermuka datar ini. Jahaaat!

Aku menoleh ke arah Arya. Harapanku pupus ketika Arya malah sibuk memperkenalkan kucingnya pada Marcel.

“Ini kucing jenis apa, Kak?” dari jalan yang semakin jauh samar kudengar Marcel bertanya.
“Ini Persian. Cantik ya? Namanya Pratiwi,” aku ingin mencekik kucing itu ketika ia mengeong saat nama Pratiwi disebutkan. Dasar kucing setan!

Sekarang Arman belok ke arah kanan, membuat pandangan ke mereka menghilang. Hanya ada aku dan Arman. Dari tadi berusaha melepas tanganku darinya tapi nihil. Arman terlalu kuat. Sepertinya usaha tadi hanya goyangan kecil baginya.