Remember Rain Bagian 52

Kuputar pandangan ke atas. “Hmmm waktu itu aku ingat dimarahi ibu karena mengehilangkan gelang. Ah bukan karena itu, karena aku juga sempat menghilang karena pergi untuk beli jajanan di minimarket tadi.” Aku mengangguk-angguk mengingat potongan-potongan kejadian itu.

“Minimarket! Apa yang kamu beli? Apa saja yang terjadi di sana waktu itu?” aku menghela napas panjang mendengarnya. Arman masihh semangat mengorek masa kecilku.
“Arman kenapa jadi kepo gini sih?” kutoel-toel dagunya pelan. Dia benar-benar imut.
“Aku serius, Mel. Coba ingat-ingat dulu!”
Kuputar mata bosan. “Waktu itu ya? Hmmm… aku beli wafer rasa stroberi karena stroberi merupakan favoritku. Lalu beli satu pak yakult. Rencananya untuk ibu dan Bary juga, tapi… egh… kenapa waktu itu tiba-tiba saja yakultku habis ya?” kembali kuperas otak. Aku menggerutu kesal karena tidak bisa mengingat dengan baik.

Arman tersenyum puas. Ia mulai mengelus pelan tanganku dan kadang meremasnya. “Kamu ingat dengan cowok yang punya mata dan rambut coklat?” tanyanya membuatku kembali berfikir. Aku mengangguk pelan.
“Ya, aku ingat dia… ah iya! Waktu itu aku menolong dia dari kakek-kakek penculik anak kecil! Aku berusaha keras menjelaskan itu ke ibu tapi dia tidak percaya.” Ucapku lemas. Aku sedih sekali saat itu. Ibu tidak percaya pada omonganku.
“Lalu?” senyum Arman semakin lebar. Aku jadi tidak mengerti dia kenapa.
“Aku… hmmm… apa ya? Oh iya! Waktu itu dia kuajak kabur ke taman ini. Karena hujan kami berteduh di lubang itu!” kutunjuk tempat kami berteduh tadi. Tempat paling menyenangkan. “Kami menunggu sampai hujan reda. Tapi waktu aku mau pulang cowok itu malah tertidur. Aku bingung. Tiba-tiba ada anak cewek seumuranku saat itu yang menawarkan bantuan. Katanya dia mau menjaga anak berambut coklat sampai ia terbangun. Jadi kutinggalkan dia dengan wafer dan yakulku bersama cewek itu.” Aku bernafas lega karena dengan jelas bisa mengutarakan ingatanku.

Aku merasakan tubuhku direngkuh Arman mendekat. Jantungku kembali bereaksi. Semua begitu cepat walau perlahan. Mata coklat itu membuatku terpaku diam. Kututup mara sesuai insting, hangat, basah, dan lembut. Beberapa detik aku merasakannya. Arman… dia mnciumku. Otakku menjelas, kudesak ia mundur ke belakang.

Mengusaap bibir, kutatap ia tajam. “Kamu udah ngambil first kiss aku!” ucapku terkaget-kaget. Akuu mendadak ketakutan sementara Arman terkekeh.

“Kenapa semua cewek mempermasalahkan first kiss mereka sih?” ucapnya memutar mata. “Lagian kita udaj tunangan, which is mean sebentar lagi menikah. Tinggal tunggu waktu aja untuk-“ kubungkam mulutnya paksa dengan tanganku. Arman pasti akan mengatakan hal yang aneh-aneh.

Kikuk aku menggerakkan badan menghadap ke depan. Hujan mulai menipis. Pipiku memanas.

“Kamu tau siapa cowok itu?” Tanya Arman kembali memecah kesenyian. Aku menggeleng pelan. “Dia orang yang ngambil first kiss kamu.” Ucapannya membuatku berfikir lalu menatapnya. Arman tersenyum ringan dan mulai menghidupkan mesinnya.
“Dia? Kamu?” aku masih tidak percaya. Bagaimana bisa?
“Kamu. Ternyata kamu, Mel.” Arman meledakkan tawanya. Ia terbahak-bahak samil memegangi perut. Aku hanya melongo menatapnya. Arman mengusap air mata yang keluar. “Keren banget nggak sih? Selama ini aku jatuh cinta dua kali dengan orang yang sama! Dia itu kamu. Kamu yang dulu aku kira Maurin. Kamu yang udah nyelamatin aku, yang udah buat aku tenang, yang membuatku mengerti arti sayang. dia itu kamu! Selama ini kamu!” Arman menghempaskan pelukannya padaku. Kepalanya bersender pada tengkuk leher. Kurasakan ia menggeliat dan mengeratkan pelukannya. Hangat. “Aku cinta kamu, dari dulu hingga sekarang, Mel. Sangat!” ucapnya pelan dan dalam.

Dan sekali lagi aku mendengar kata cinta dari Arman si kingkong coklatku ini. Satu kisah lagi yang kudapat. Kenangan lewat hujan.

TAMAT