Remember Rain Bagian 8

“Ck, gue baru dapet ide nih buat hukuman lo!” tiba-tiba Arman sudah ada di depanku. Astaga, selain kasar sepertinya dia mistis.
“A-a-apa?” aku gemetaran. Kuku sudah memutih begini karena kutekankan pada rok yang kuyakini mulai kusut.
“Gue juga bingung sih. Makanya gue ajak lo ke sini buat nyari ide,” ujarnya. Arman duduk di sofa hadapanku. Ia mengusap dagunya dan mulai berpikir. Kalau dilihat-lihat, wajah seriusnya keren juga.
“Kenapa harus ke sini?”
“Karena… karena tempat ini menenangkan, kan?” suara Arman mengeras di akhir. Aku hanya mengangguk asal agar dia berhenti menatapku tajam. “Pokoknya selama sebulan lo harus melakukan apapun yang gua suruh!”
“Hah?!” mulutku sukses menganga. Arman tertawa keras dengan puas. Sial. Selama sebulan? Melakukan apa pun yang dia suruh? Mari berharap dia tidak menyuruhku makan mie campur susu, makan nasi padang campur minyak kayu putih, atau mengelilingi lapangan dengan berjongkok. Astaga! Siapa tahu dia dendam dengan contoh tes-tes aneh MPK itu. Selama sbeulan ini juga aku akan jadi pesuruhnya. Bagaimana kalau ada yang menertawakanku? Bagaimana kalau namaku berubah menjadi sang pembokat MPK?
“Dan itu dimulai sekarang!”
“Hah?!” kukutuk mulutku saat ini juga. Kenapa disaat seperti ini malah hanya mengeluarkan kata ‘hah’?!. Aku perlu lebih. Sebuah pembelaan terhadap hak asasi perempuan! Memperjuangkan apa yang telah Bu kartini berikan. Halah!
“Sekarang tugas pertama lo adalah bantuian gue bikin kue!” Arman menarik lenganku lagi setelah mencetuskan tugas pertamaku. “Kali inni nggak ada hah huh heh hoh!”

Baru saja mau bilang ‘Hah’?! lagi, untung Arman cepat. Eh, apa dia bisa baca pikiran? Aku tidak tahu. Dia menyerahkan celemek biru muda dengan renda di leher dan ujung-ujungnya. Aku hanya menahan tawa memakai celemek dengan desain cute ini.

“Itu punya Maurin!” ujar Arman penuh penekanan. Sepertinya dia tahu aku menahan tawa. Biarlah. Siapa itu Maurin? Mungkin nanti akan mutanyakan pada Bela saja.
“Gue nggak bisa masak, Man.” Ucapku jujur. Arman hanya mengendikkan bahu, tidak peduli. Dia mulai menyiapkan bahan-bahan yang ada di kulkas. Aku menatapnya seksama, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba Arman berhenti, dia mala balas menatapku.
“Kenapa jadi elo yang diam? Ck!” aku terkekeh melihatnya garuk-garuk kepala. Dia lalu melepas celemek putihnya dan mengambil buku catatan kecil di meja terdekat. Aku hanya melipat tangan, sesekali memandangi dapurnya yang luas ini. Semuanya serba luas. “Nih!”

Arman melemparkan buku kecil padaku. Kubaca isinya, kurasa bahan-bahan untuk membuat kue.

“Ini…”
“Ya! Buruan kumpulkan bahannya, kalau udah panggil gue, oke?” potong Arman cepat. Ia tersenyum penuh kemenangan lalu berlalu ke ruang keluarga, tepatnya di hadapanku. Arman mengambil remote dan menonton televise di sofanya, sementara aku berkutik di dapur.
“Oke, pertama ambil telur dulu,” tanpa meletakkan buku kecil itu, kubuka kulkas dan mengambil lima telur. “Lima kuning telur, empat putih telur,” gumamku mengingat.
Arman tampak mencuti pandangan padaku, kalau kulihat dari ujung mata.

“jangan ambil yang di kulkas! Tuh, di samping microwave ada keranjang telur,” protes Arman cepat.
“Kenapa nggak lo aja sih?” umpatku pelan. Sepertinya Arman tidak mendengar, melihat ia tidak merespon.

Dengan kesal, kukembalikan telur-telur ke dalam kulkas lalu mengambil yang di luar. Tak lupa kusiapkan dua mangkuk berukuran kecil. Tiba-tiba tanganku bergetar memegang telur. Aku tahu ini hanya telur ayan biasa. Masalahnya, aku kan tidak pernah memecahkan telur?

Kulirik Arman sejenak, kali ini mata kami beradu. Lalu dengan cepat pula Arman mengalihkan pandangan. Ia berdeham dan memperbaiki posisi duduknya. Tertangkap basah sedang memperhatikanku pasti. Dalam hati aku gelisah. Sepertinya kingkong itu tidak akan sudi membantuku. Sial.

“Ayo, Mel! Coba ingat bagaimana ibu memecahkan telur-telur ini setiap pagi!” gumamku berniat menyemangati diri. Kututup mata sejenak untuk membayangkan sosok ibu sedang memecahkan telur. Tapi… astaga! Mana pernah aku memperhatikan ibu masak? Biasanya juga langsung sarapan dan berangkat.

Menelan ludah, kutatap telur-telur ini dengan pasrah. “Maaf telur, riwayatmu nggak akan baik kali ini,” tangnku bergerak mengambil satu telur. Perlahan nafas kuhembuskan, menutup mata, lalu dengan kekuatan nurani, telur itu kupecahkan dengan pisau di tangan satunya. CEPLEK!!!

Kusipitkan mata untuk melihat hasilnya. Astaga naga dikutuk jomblo! Bagaimana ini? Telurnya memang sukses pecah, tapi…