Silent Love Bagian 1

“Aku yakin. Rio serius menjalani hubungan denganku.” Tegas Tari kepada Dinda, sahabatnya yang selalu mengomentari setiap cowok yang mendekati Tari.

“Tapi aku tahu siapa Rio, Tar. Aku takut kamu dipermainkan olehnya.” Bantah Dinda tak mau kalah. Ia benar-benar tahu betul siapa Rio. Cowol Playboy yang suka mempermainkan cewek. Bagaimana mungkin Dinda tidak mengenal Rio. Bahkan mereka satu jurusan di kampusnya. Setiap hari ketemu di kampus dan mendapati Rio menggoda cewek-cewek lain. Betapa tidak terkejut Dinda, ketika tahu Rio mendekati Tari bahkan sudah jadian dengan Tari. Bagi Dinda, keputusan Tari untuk menerima Rio terlalu cepat. Terlalu tergesa-gesa.

“Din, tolong Din, jangan menilai Rio seperti itu. Aku bahkan bisa merasakan ketulusannya, Din.” Ucap Tari pelan. Ia menepuk bahu Dinda, mengisyaratkan bahwa semua yang Dinda tahu itu salah. “Percayalah. Aku baik-baik saja.” Lanjut Tari tersenyum simpul.

Dua hari yang lalu.
Rio tiba-tiba menarik tangan Tari ketika Tari baru saja keluar kelas mata kuliah Jurnalistik lanjutan. Tari yang tiba-tiba tangannya ditarik langsung kaget.

“Ah, ada apa Rio?” Tanya Tari panic.
“Ikutlah denganku sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu.” Kata Rio masih tak melepas tangan tari di genggamannya.

Di sudut kampus, Rio menyudutkan Tari di dinding. Rio tersenyum lembut dan tarikan kasarnya kini berubah menjadi sentuhan lembut. Mendadak tari merasa seuruh tubuhnya bergetar. Nafasnya sedikit tersengal. Dengan sedikit terpaksa ia membalas senyum Rio.

“Tari, boleh aku meminta sesuatu?” Tanya Rio halus. Matanya tidak lepas dari pandangan Tari.
“maksudmu?” Tanya Tari, masih belum bisa mencerna maksud pertanyaan Rio. “Aku ngga ngerti, deh.” Lanjutnya.
“Aku ingin memintamu, tar.” Bisik Rio, ia membelai wajah Tari dan mempermainkan poni Tari yang berjatuhan di wajah.
“Entah kenapa, aku merasa, setiap kali bersamamu aku menjadi berbeda.” Lanjut Rio, kali ini memegang kedua tangan Tari. Ibu jarinya terasa hangat ketika bermain di atas permukaan kulit tangan Tari.
“Kamu…”
“Aku ingin kamu menjadi kekasihku, tar.” Potong Rio cepat. “Aku mencintaimu. Aku nyaman setiap kali bersamamu, Tar.” Lanjut Rio dengan wajah yang serius. Bola matanya tampak bening sekali. Tari bahkan tak sanggup mengedipkan matanya ketika melihat Rio seperti ini.

Tari menelan ludahnya. Jujur di dalam hatinya ada banyak bunga bermekaran. Ia senang bukan main ketika Rio mengungkapkan itu. Bukankah, sejak awal Tari sudah mencintai Rio.

Tari tersenyum simpu. “Asal kau tahu, Rio. Dari awal perkenalan kita, aku merasa sudah terhipnotis olehmu.” Kata Tari terus terang. “Aku juga mencintaimu, Rio.” Lanjutnya.

Saat itu juga, sudut kampus seolah senyap. Rio memeluk Tari erat. Tari balas memeluk. Daun-daun pohon Sono berterbangan dihempas angin. Cuaca yang mendung menambah keromantisan tersendiri.

Sejak itu, Tari percaya bahwa Rio orang yang tepat untuk menemaninya. Sudah berbulan-bulan mereka dekat. Sangat dekat. Teleponan setiap malam. Jalan bareng, bahkan mengerjakan tugas bareng meskipun mereka tidak sejurusan di bangku kuliah. Yang Tari tahu, semenjak ia mengenal Rio, ia merasa dunianya semkain berwarna. Jadi, bukan kesalahan seandainya Tari menerima Rio menjadi kekasihnya. Tari percaya betul Rio tidak akan mengecewakannya.

“Kalau itu memang pilihanmu, aku nggak bisa lagi bilang apa-apa, Tar.” Perkataan Dinda seperti nada orang yang berputus asa.
“tenanglah, Din. Aku pasti baik-baik saja. Rio aman ditanganku.” Balas Tari meyakinkan sahabatnya.
“Aku percaya, Tar kamu bisa buat Rio yang liar menjadi baik. Tapi aku masih nggak yakin, ia benar-benar baik apa Cuma sekedar pura-pura.”
“Rio sudah meminta maaf dan mengakui kalau ia bakalan tobat kok, Din.”
“Aku harap memang tobat beneran ya, Tar. Bukan di mulutnya aja.” Sahut Dinda seolah masih kurang puas.
“Dindaaa!” Tari mendesah. Ia sebetulnya sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan sahabatnya ini agar percaya dengan Rio. Tapi, tetap saja gagal.
“Seandainya cewek lain yang dipermainkan Rio. Mungkin aku nggak terlalu peduli, Tar.” Ungkap Dinda menatap tari serius. “tapi kalau kamu sampai yang dipermainkan. Sungguh aku nggak bakalan rela, Tar. Sampai kapanpun aku nggak akan maafin dia.”
“Aku ngga pernah berharap itu terjadi, Din.” Ucap Tari menghampiri Dinda, duduk di depan Dinda tepat. “Aku hanya butuh doamu agar hubungan kami baik-baik saja.” Bisik tari sembari memeluk tubuh sahabatnya ini. Mereka berdua berpelukan di tengah gerimis malam yang semakin berisik.