Silent Love Bagian 13

Ditto melangkahkan kaki menuju ke kamarnya di lantai dua. Ia membuka jendela lebar-lebar dan menghirup udara malam yang basah beraroma gerimis. Sesekali ia memutar-mutar hapenya. Lalu ia menekan nomor-nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Namun, sesaat kemudian ia hapus lagi nomor itu, dan kembali memutar hapenya.

Sudah setahun lebih ia tidak melihat wajah Tari. Bahkan tidak mendengar suara tawa Tari yang selalu ceria. Ingin sekali Dito menelpon gadis itu dan mengjaknya berbincang seperti dulu. Tapi katakutannya menyergapnya lebih dulu. Dalam hati ia bertanya, “Apa Tari mau mengangkat teleponku?” gumam Dito pelan. Bukankah Tari yang memintanya tidak mengganggu hubungannya dengan Rio. Ketka ia berada di dekat Tari, maka hubungan Tari dan Rio akan terancam. Begitu kata Tari. Karena Rio selaluu marah setiap kali ia mendekati Tari.

“Mungkin mereka masih mesra.” Gumam Dito dalam hati. “Beruntung banget Rio bisa dapetin Tari. Semoga dia ngga akan ngecewain Tari.” Lanjutnya dengan senyum masam. Mengingat semua itu membuat kepala Dito menjadi penat dan berat. Hatinya seakan tersayat perih. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan tidak berpihak kepadanya dan memaksanya untuk merelakan.

Waktu memang sudah tahu Dito memendam cinta yang dalam untuk Tari diantara persahabatan mereka. Dan lebih kejamnya, waktu tidak pernah mengijinkan Dito masuk ke dalam hati Tari. Itu benar-benar tak adil buat Dito.

Hape yang ia genggam kembali ia putar-putar. Nomor-nomor Tari yang ia hafal di luar kepala kembali ia pencet. Ternyata, Dito tak punya cukup nyali untuk menghubungi pujaan hatinya. Ia kembali menatap layar hapenya beku. Lalu memasukannya ke dalam kantong celana. Lalu Dito beranjak, menutup jendela kamarnya dan rebah di atas tempat tidur. Ia ingin pula merebahkan hatinya yang teramat lelah menunggu.

Selesai mengurusi semua keperluan dan tugas di pekerjaan, Dito memutuskan untuk menyegarkan otaknya sejenak. Sebuah toko buku yang berada di jalan raya Sudirman Denpasar menjadi pilihannya. Toko buku hari ini agak sepi. Hanya ada segelintir pembeli yang berada di lantai dua. Ditto memilih untuk mencari buku tentang motivasi. Perjalanan hidup selama setahun ini membuatnya sedikit penat. Masalah hati menyita sebagian waktunya.

Ia memilih salah satu buku Gede Prama. Ia membaca buku itu di dekat rak. Tiba-tiba saja buku itu terjatuh dari genggamannya ketika ada seseorang tak sengaja menabraknya.

“Dito.” Sapa orang itu.
Ditto yang berjongkok memungut bukunya mendongakkan kepala. Ia tertegun sejenak ketika tahu siapa yang menyapanya.
“Rio.” Gumam Dito lalu bangkit.
“Hei, apa kabar?” Tanya Rio seraya meninju pelan bahu Dito.
Ditto tersenyum. Tidak menyangka akan bertemu Rio di sini. “Baik. Gimana, lancar?”
“Ngga nyangka ketemu kamu di sini. Aku ngga pernah melihatmu di kampus.” Kata Rio mengingat-ingat.

Ditto memperlihatkan deretan giginya, lalu mengajak Rio ke suatu tempat. Sepertinya mengobrol berdua dengan temannya ini akan menyenangkan. Entah kenapa, bertemu dengan Rio yang ia benci dulu, hari ini terasa menyenangkan. Di antara mereka tidak ada canggung, padahal dulu mereka seringkali terlibat permusuhan dan hamper berantem. Mungkin karena Rio adalah bagian dari Tari, menurut Dito. Sehingga bertemu Rio sudah merupakan sebuah jawaban kecil atas rindu yang selama ini Dito pendam.

Di pantai sanur, dermaga buatan yang menjorok ke tengah laut, dua pemuda itu duduk bersisian di atas bebatuan.

“Jadi selama ini kamu keluar dari kampus dan pindah ke Bali?” Tanya Rio memastikan.
Ditto mengangguk pelan. Matanya menatap ombak lautan.
“Apa kabarmu dengan Tari?” Tanya Dito, tak kuasa menahan penasaran akan kabar Tari selama ini. “hubungan kalian lancar, kan?”
“Tentu. Kabar kami baik, malah kami merencanakan untuk bertunangan awal tahun depan.” Jawab Rio dusta. Bagi Rio, jawaban itulah yang paling tepat. Messkipun Dito tak memberitahunya alasannya pindah kemari, Rio bisa menerka, pasti semua itu berhubungan dengan Tari. Melihat ekspresi Dito yang kosong, Rio tahu betul pasti Dito masih mengharapkan Tari. Sekarang Rio sudah kehilangan Tari. Rio tidak ingin Dito menjadi pesaingnya untuk mendapatkan Tari. Jawaban seperti tadi adalah salah satu cara Rio agar Dito tak lagi berharap. Dengan mengaku akan menggelar pertunangan, pastinya Dito akan sadar diri dan segera mundur dari pertempuran hati yang rumit ini.
“Selamat, ya.” Ucap Dito dengan senyum yang dibuat-buat. Hatinya menjerit keras mendengar penuturan Rio barusan. Ia menyesal sudah menanyakan kabar mereka. Karena itu sudah melukai hati Dito. Luka di hatinya yang belum sembuh benar, semakin menganga lebar.
“Kamu harus datang di acara kami nanti!” kata Rio menimpali. Meninju lagi lengan Dito pelan.
“Akan kuusahakan. Tentunya.”

Angin laut berhembus kencang. Debur ombak yang menggema seperti suara dentuman jantung Dito. Menggelegar. Menakutkan. Hinnga senja merayap. Pantai sanur menggelap. Ditto tak kuasa untuk bangkit. Kakinya seperti lumpuh. Setelah mendengar kabar pertunangan Tari dengan Rio, Dito seperti merasa tak berguna. Tak berarti apa-apa. Dalam hati ia bertanya, “Apa benar Tari melupakan semua tentangku, melupakanku?” pertanyaan itu selalu mengiang di telinga Dito. Dan tak akan pernah menemukan jawabannya. Ditto pulang dengan langkah gontai. Senyumnya masai.