Silent Love Bagian 14

Cinta kadang tak mengenal lelah untuk menunggu. Tapi, seringkali waktu terlalu sadis. Memperlambat pertemuan, mempersingkat perpisahan.

“Dito, turun sebentar dong!” teriak paman Dito dari ruang tamu. Ditto yang sedang asyik membolak-balik album foto kenangannya bersama Tari pun segera bangkit dan menemui pamannya.
“Ada apa, Paman?” Tanya Dito masih dengan celana kolor bututnya. Seharian ini ia tidak ada jadwal kemanapun setelah mengurus pesanan catering selesai. Jadi, ia benar-benar tidak mengganti bajunya seharian. Apalagi cuaca hari ini mendung. Membuat orang-orang malas beraktivitas.
“Sini, paman kenalin sama anak kenalan paman.” Kata pamannya seraya menepuk pundak Dito.

Ditto tertegun sejenak. Di depannya ada seorang gadis cantik dengan dress cokelat. Sungguh bertolak belakang dengan penampilannya hari ini.

“Sisil, ini keponakan om. Kenalin!” isyarat paman Dito untuk segera menjabat tangan Sisil kepada Dito.

Ditto menggaruk tengkuknya. Benar-benar kikuk. Ia canggung. Ditto mengulurkan tangannya menjabat tangan Sisil seraya menyebutkan namanya. “Dito.”

Sisil tersenyum. Tampak manis dengan gingsul di gigi atasnya. Menambah cantik penampilannya. Sisil beberapa detik menatap mata Dito. Seperti takjub. Ditto yang ditatap salah tingkah. Ia kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum kaku.

“kalau dilihat kayak gini kan enak. Kalian cocok sekali.” Ucap paman Dito sembari manggut-manggut dan memasukkan kedua tangannya ke kantung celana. Ditto tidak berpikiran macam-macam tentang perkenalan ini. Pamannya hanya memintanya untuk memperkenalkan diri sebagai teman. Sudah, itu saja dugaan Dito.

Semenjak perkenalan itu. Ditto dan Sisil semakin dekat. Sisil selalu meminta Dito menamaninya setiap kali Sisil membutuhkannya. Sisil memperlakukan Dito dengan cara yang istimewa. Begitu berbeda dengan Dito. Ditto tak sanggup menolak permintaan Sisil karena takut mengecewakan pamannya. Meski hanya sebatas teman bagi Dito, setiap orang yang melihat mereka, mengira mereka adalah sepasang kekasih. Seperti hari ini, ketika Sisil meminta Dito untuk mengantarnya reuni bersama teman-teman SMA nya. Ditto sangat kaget melihat Sisil memperkenalkan Dito kepada teman-temannya sebagai tunangannya. Tunangan. Hal yang jauh sekali dari perkiraan Dito. Ditto sempat marah. Tapi ia tak sanggup menunjukkan kemarahannya. Ia hanya bisa tetap berpura-pura tersenyum.

Sesungguhnya mereka sebelumnya tak sedekat ini. Setelah perkenalan itu, Sisil datang pada Dito dengan terisak.

Ditto yang sedang sibuk mengurus pesanan langsung menaruh pekerjaannya.

Sesuatu hal yang membuat Dito iba salah satunya adalah melihat seorang cewek menangis. Ia tak bisa membiarkan seorang cewek menangis. Termasuk Sisil. Malam ini.

Ditto membiarkan Sisil menangis terisak di sampingnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ingin sekali ia menyentuh gadis ini lalu membelai rambutnya seperti yang ia lakukan kepada Tari dulu. Tapi Dito takut salah. Lebih tepatnya, takut kembali teringat Tari. Ditto juga tidak terlalu mengenal Sisil. Pertemuan di antara mereka hanya terjadi dua kali. Awal perkenalan dan ketika menghadiri acara pernikahan salah satu rekan pamannya.
Selebihnya, tidak pernah.
Dan sekarang.
Tiba-tiba Sisil datang kepadanya dengan tumpahan air mata. Ditto khawatir. Tapi tidak sedikit panic. Ia taahu betul bagaimana cara memperlakukan seorang wanita yang sedang menangis karena terluka. Gadis-gadis seperti ini hanya butuh ditemani, didengarkan, dan dihibur secukupnya. Sudah. Itu saja. Hal yang selalu ia lakukan kepada Tari dulu.

Sisil masih terisak di sampingnya. Berlembar-lembar tisu berserakan di seitar mereka. Pantai seminyak hari ini sepi. Lampu-lampu kafe di sepanjang pantai berkeli-kelip. Suara alunan music beraneka aliran terdengar samar. Namun, suara tangis yang Dito dengar, membuat hatinya tidak tenang. Ia memberanikan diri untuk mengelus pundak Sisil. Lalu merebahkannya di bahunya.

Sisil semakin terisak di bahunya. Ditto semakin merapatkan kepala Sisil di bahunya. Barangkali bisa membuatnya lebih tenang. Butuh waktu yang cukup untuk mengembalikan emosi gadis ini agar stabil.

Setelah dua jam mendengar isak tangis Sisil yang mulai mereda, Dito mengelus rambut gadis itu. Suara isak tangis tak lagi terdengar. Tisu-tisu yang tadinya melayang dilemparkan Sisil ke segala arah, kini tak tampak lagi. Angin malam menyapu rambut mereka. Menerbangkan tisu-tisu putih. Sisil tak lagi menangis. Barangkali air matanya telah kering.

“Minumlah!” kata Dito menyodorkan air mineral di dalam botol. Sisil bangkit dari bahu Dito dan meraihnya. Ia meneguknya setengah. “Sekarang ceritalah. Apa yang membuatmu menangis.” Lanjut Dito kembali meraih botol dari Sisil dan memasang penutupnya.

Sisil menarik napas. “Kami sudah dua tahun pacaran. Tiba-tiba dia mutusin aku dan jadian sama sahabatku sendiri.” Kalimat pertama Sisil yang terbata cukup menjelaskan apa yang telah terjadi. Ditto tetap mendengarkan, tidak terburu-buru untuk menyela.

Sisil menggelengkan kepala. Matanya kembali berkaca-kaca. Tapi ia langsung mendongakkan kepalanya ke atas, berharap kaca-kaca di matanya tidak pecah apalagi tumpah. Beberapa menit setelah hening, Sisil melanjutkan bicara. “Aku ngga nyangka sahabatku menikamku dari belakang.”

“Terkadang, seseorang yang paling berbahaya buat kita adalah dia yang berada di dekat kita.” Sahut Dito datar. Berusaha menyelami perasaan Sisil.
“Aku belum siap kehilangan dia. Aku belum siap, Dito.” Isak Sisil kembali pecah. Ia rebah di bahu Dito. Ditto mengulurkan tangannya, mengusap punggung Sisil agar tenang. Beberapa menit menangis di bahunya, Dito bisa merasakan kulit bahunya basah.
“Kadang waktu mnguji kita dengan kesakitan dan hal-hal tak terduga. Agar kita siap jika keadaan menjungkirbalikkan kenyataan dalam sekejap.” Lirih Dito. Berharap Sisil tenang. Tidak lagi menangis seperti ini.
“Mungkin. Tapi waktu terlalu kejam. Dia merampas milik kita begitu saja. Tanpa rencana.” Sela Sisil mengusap air matanya. Ia kini mendongakkan kepalanya. Berusaha tegar. Tidak menitikkan air mata.

Setelah kejadian malam itu, Sisil semakin dekat dengan Dito. Sampai saat ini pun Dito tak pernah tahu, kenapa Sisil memilihnya sebagai tempat penampungan air mata di malam itu. Entahlah.