Silent Love Bagian 15

“Putus lagi?” Tanya Dinda yang menebak. Mungkin Dinda menjadi hafal ekspresi Tari setiap kali habis putus dengan cowok. Semenjak putus dari Rio, Tari berusaha keras untuk move on dan mencari pengganti Rio. Tapi nyatanya, Tari hanya bisa bertahan beberapa hari dengan cowok-cowok incarannya lalu putus begitu saja.

Tari mengangguk dan meraih secangkir susu hangat di atas meja. Lalu duduk rebah di samping Dinda.

“Sudah banget ya nyari cowok setia.” Gumam Tari lirih. Ia seolah lelah dengan semua permainan ini. Berkali-kali mendapatkan pengganti Rio, tapi selalu berakhir tragis. Sepertinya, memang ia harus rela dipertemukan dengan banyak cowok-cowok yang salah untuk akhirnya dipertemukan dengan cowok idaman. Criteria yang ditentukan Tari tidak terlalu tinggi untuk cowok-cowok itu, minimal seperti Dito, yang selalu ada untuknya dan memperlakukannya dengan lembut. Ya, meskipun saat itu mereka hanya sebatas sahabat.

“Diapain lagi sama Riki?” Tanya Dinda, memiringkan tubuhnya menghadap ke Tari.
“Seumur-umur aku ngga pernah dikasari sama orang tuaku. Cowok itu malah mau nampar aku.” Jelas Tari dengan wajah murung. Ia benar-benar sedih mengingat kejadian di sebuah pusat perbelanjaan tadi. Seandainya saja tangan Riki tidak bisa terhenti, pasti sudah mendarat di pipi Tari yang mulus dan menyisakan bekas merah yang perih. Menyeramkan.
“Apa? Dia mau nampar kamu? Gila! Cowok itu kasar banget!” omel Dinda serasa tak percaya. “Tetapi bagus deh kalau kamu udah mutusin dia. Biar kapok!” lanjut Dinda menggebu-gebu.
“Kenapa ya, Din, aku susah banget cari cowok yang baik?” gumam Tari lagi. Kali ini ia melipat tangannya di atas bantal yang sedang ia peluk. Matanya menerawang ke awing-awang.
Dinda nyengir lebar sebelum menjawab. “Ada dua pilihan cowok buat kamu, Tar.”
“Siapa?”
“Pilih Dito atau Dito?” sahut Dinda berseloroh. Ia menggulingkan badannya. Kali ini mereka berdua tampak menatap awing-awang yang sama.
“Maksudmu?”
“jangan pura-pura ngga ngerti deh. Kamu tahu kan, Cuma Dito yang bisa memperlakukan kamu dengan baik. Bener kan?”

Tari mendesis. Begitu mudahnya Dinda menebak isi hatinya. Terang saja, selama setahun ini ia merasa kehilangan Dito. Ditto benar-benar menghilang dari kehidupannya dan tak tahu entah di mana. Seringkali Tari berusaha menghubungi hapenya tapi selalu tidak aktif. Sepertinya nomor itu memang sudah dibuang oleh pemiliknya. Berkali-kali pula Tari menarik jejaring social, melihat akun Dito di sana, tidak ada aktivitas yang memberitahukan keberadaan Dito. Tari pernah mengirimkan email dan beberapa pesan di facebook dan twitter Dito, tapi nyatanya, tidak ada satupun yang dibalas. Tari benar-benar sedih.

“Emang benar. Tapi, aku ngga mungkin nyiksa diriku sendiri. Karena kita aja ngga tahu keberadaannya di mana.” Seloroh Tari menutupkan bantalnya di atas wajahnya.

Dinda meraih bantal itu dan menyingkirkan dari wajah Tari. “Tunggulah, Tar. Suatu saat pasti kalian akan bertemu kok.” Sahut Dinda yakin. “Kalau memang berjodog.” Lanjutnya usil.

Tari melengos. Ia bangkit dan meraih kembali susu hangat di atas meja lalu menyesapnya pelan.

“Aku akuin, aku sering kangen sama Dito. Kangen banget.” Katanya lirih.
“Kamu kesepian. Pelampiasannya, kamu mencari cowok-cowok lain sebagai penutup kesepianmu, kan.”
“Iya, aku menjalin hubungan dengan mereka tanpa ketulusan.” Sahut Tari membenarkan.
“Makanya aku ngga kaget kalau kamu ngga pernah nangis tiap diputusin atau mutusin cowok. Emang kamunya pacaran ngga pake hati. Mana bisa patah hati.” Ungkap Dinda terang-terangan.

Tari tersenyum. Lalu dilanjutkan tertawa kecil. Mengingat kekonyolannya selama ini. Entah sampai kapan ia harus tetap seperti ini. Mencintai tanpa hati. Bagaimana mungkin sesuatu itu bisa disebut cinta jika tak melibatkan hati. Berarti itu bukan mencintai, tapi lebih ke mengusir sepi. Hubungan bernama pacaran hanya sebagai formalitas semata, sepertinya. Tapi, akan berapa hati lagi yang akan Tari bohongi dengan cinta palsunya? Sedangkan Tari tak pernah tahu kapan ia mengakhiri semuanya.

“Kadang aku takut, Din. Seandainya aku menunggu Dito kembali seperti ini, apa iya dia tetap membawa hatinya utuh seperti dulu? Bagaimana kalau dia sudah punya belahan hati lain?” pertanyaan Tari membuat Dinda terdiam beberapa saat. Seperti memikirkan sesuatu.

Dinda bangkit dan duduk mendekap lututnya. Berusaha menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya.

“Aku bisa merasakan cinta Dito yang besar untukmu, Tar. Berkali-kali kubilang dulu tapi kamu tak pernah mau mengerti. Kamu terlalu memuja Rio. Sekarang?” Dinda memutar masa lalu dan menyudutkan Tari.
“Sudahlah, Din. Jangan bahas masa lalu lagi. Aku sudah melupakannya. Aku akui aku salah waktu itu.”
“Sekarang tebus kesalahanmu. Kalaupun nantinya dia datang kembali dan tak lagi mencintaimu, itulah kesalahan yang harus kamu tebus. Sakit hati karenanya.” Sahut Dinda datar. “Tapi aku ngga pernah berharap itu terjadi.”
“Kamu semakin menakutiku.” Tukas Tari menyipitkan matanya. “Aku ngga pernah berharap itu terjadi.