Silent Love Bagian 16

Cuaca kota Surabaya hari ini panas menyengat. Asap-asap kendaraan umum mengepul. Belum lagi suara klakson yang berbunyi di sana sini. Di terminal Purabaya, Tari tampak mencari bus ekonomi menuju ke jembatan merah plaza. Ia ingin berbelanja sesuatu di sana. Sengaja ia ingin naik bus kota. Mobil ia parker di rumah Dinda. Tiba-tiba saja ia ingin merasakan suasana baru dengan naik angkutan umum.

Bus reot berwarna putih dengan cat banyak terkelupas di sana-sini menjadi pilihannya. Ia segera menaiki bus itu. Suasana yang ia temui sungguh asing baginya. Suasana riuh dan padat di dalam bus kota reot yang biasanya ia temui di film-film televise, kini ia temui langsung. Berjejal-jejal penumpang dengan aneka barang bawaan menambah padat. Belum lagi pengamen yang hilir mudik seraya menyanyikan lagu. Lagu yang dinyanyikan pengamen pun tampak samar. Kalah oleh deru kendaraan dan cengkrama para penumpang. Tawa keluh menyatu. Suara kernet bus yang berteriak mencari penumpang sesekali terdengar.

Hamper saja Tari menyerah dan ingin turun kembali, tapi batal karena di sampingnya yang tadinya kosong, kini sudah terisi.

“Permisi, boleh duduk di sini?” Tanya pria itu sopan. Tari melongokkan kepalanya dan mengamati sekilas garis wajah pria itu. Lesung di pipi pria itu tampak nyata ketika menyuguhkan senyum.

Tari tersenyum. “Silahkan.” Katanya ramah.

Pria itu sepertinya masih seumuran Tari. Tari menebak di dalam hati. Wajahnya yang kuning dan berlesung pipi membuat Tari tidak kuasa untuk tidak melirikkan matanya ke pria itu. Seperti ada sebuah magnet yang membuat Tari ingin mengulangi pandangannya. Menatap terus menerus pria yang duduk di sampingnya. Tari juga memiliki lesung pipi. Mereka berdua yang duduk berdampingan sangat serasi.

Seperti seorang penjual asongan yang berdesakan di samping pria itu tampak mengulurkan jempolnya. Member isyarat bahwa mereka berdua cocok. Padahal, saling mengenal pun belum. Tari melempar senyum ke arah pedagang asongan itu. Lesung pipinya mekar. Pria di sampingnya pun turut tersenyum.

“Terima kasih Pak, pujiannya.” Sahut pria itu percaya diri. Tari langsung saja mengerutkan keningnya. Heran dengan pria di sebelahnya.
Pria itu menoleh menatap mata Tari. “Bapak tadi memuji kita, kan.” Kata pria pria itu seolah bisa menebak jalan pikiran tari.
“Tapi kita bukan siapa-siapa.” Sahut Tari ketus.
“Memang.” Jawab pria itu santai. Lalu menatap lurus ke depan. Tidak peduli dengan ekspresi Tari yang mulai sebal padanya.

Perjalanan dengan bus kota dari terminal Purabaya ke JMP hanya memakan waktu tiga puluh menit. Macet biasanya menghambat perjalanan.

Baru beberapa menit bus berjalan, Tari merasa tidak kuat lagi menahan kantuknya. Berkali-kali ia menguap. Tapi ia berusaha menahannya lagi. Ia teringat kata Dinda tadi ketika mengantarnya kemari. “Hati-hati, di bus kota rawan copet dan gendam. Kalau ngantuk, ketiduran, bisa-bisa barang kamu hilang semua nanti!” suara Dinda menggema di telinga Tari.

Ia berusaha sebisa mungkin menahan kantuknya. Tapi tetap saja matanya terpejam. Dan kepalanya rebah ke samping kiri, tertahan oleh bau pria yang berada di sampingnya. Pria itu tersenyum melihat gadis di sebelahnya yang tertidur pulas. Ia tidak tega membangunkannya. Hingga sampai di JMP, barulah pria itu membangunkan Tari yang tertidur.

Tari yang bangun langsung kelabakan dan memeriksa semua barang-barangnya dengan reflex. “Kamu tidak mencuri barang-barangku, kan?” selidik Tari menyipitkan matanya penuh curiga.

“Periksa dulu barang-barangmu sebelum aku beranjak pergi. Kamu pikir aku maling.” Kata pria itu tenang.

Tari mengawasi pria di sampingnya penuh curiga. Ia buru-buru memeriksa barang-barangnya sebelum turun dari bus kota. Aman. Tidak ada barang berharga yang ia simpan di tasnya hilang.

“Ada yang hilang?” Tanya pria itu, memasang senyumnya. Merasa tenang.

Tari benar-benar malu sudah menuduhnya yang tidak-tidak. “Maaf ya.” Ucap Tari salah tingkah.

“Lain kali berhati-hatilah naik bus kota. Orang jahat di mana-mana.” Kata pria itu mengingatkan seraya berlalu meninggalkan Tari.

“Oh, iya. Satu lagi!” kata pria itu menghentikan langkahnya dan menuju Tari kembali. “Jangan pernah tidur di angkutan umum kayak tadi. Bahaya untuk keselamatan barang-barangmu.” Lanjutnya mengangkat bibirnya sebelah.

Tari benar-benar malu.

Ia baru menyadari bahwa ia tertidur selama perjalanan menuju kemari. “Oh, Tuhan. Terima kasih telah menyelamatkanku!” ucap Tari menengadahkan tangannya sebentar. Pria itu sudah tak tampak lagi di depan Tari. Padahal Tari ingin berucap terima kasih. Dengan perasaan yang masih diliputi was-was, Tari akhirnya melangkahkan kaki memasuki JMP. Pikirannya masih gelisah karena ia harus tetap pulang dengan bus kota nanti. Ia tak punya cukup nyali lagi untuk naik angkutan umum.

Puas berbelanja, Tari menelpon Dinda. “Jemput aku di JMP ya, Din. Aku takut nih kalau pulang naik bus lagi.” Katanya singkat lalu mematikan hapenya. Ia tahu Dinda pasti mengomel ketika ia meminta jemput. Tapi Tari tidak peduli. Nyalinya benar-benar terkuras habis.