Silent love bagian 19

Beberapa hari setelahnya, Sisil datang kembali. Ia meminta Dito untuk menemaninya ke acara pesta pertunangan salah seorang temannya.

Sisil tampak cantik dengan dress hitam yang dikenakannya. Kulitnya yang putih kontras dengan dress yang dikenakan. Menambah bersinar kulitnya. Ditto memang mengagumi kecantikan Sisil. Tapi bukan itu sesungguhnya yang Dito cari.

Sesampainya di lokasi pertunangan, Sisil mengenalkan Dito kepada teman-temannya. Lagi-lagi Sisil menyebut Dito sebagai calon tunangannya. Sebelumnya Dito memang tidak terlalu peduli, tapi lama-kelamaan ketika dibiarkan, Sisil semakin sering menyebutnya tunangan. Bahkan, perlakuan Sisil pada Dito bukan lagi seperti seorang teman melainkan seperti seorang kekasih. Sisil mungkin nyaman. Tapi Dito, ia benar-benar risih dengan semua ini.

Sepulang dari pesta, Dito sengaja menghentikan mobilnya di sebuah resto kecil di daerah Renon. Di sebuah meja berwarna merah, dengan lampu temaram di sekitar, mereka duduk berhadapan.

“Kamu mengajakku dinner, Sayang?” Tanya Sisil takjub. Bahkan, Sisil sudah memanggilnya denga sebutan ‘sayang’. “kejutanmu membuatku terharu.”

Ditto menatap mata Sisil tajam. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Sikap Sisil yang membuatnya risih harus dihentikan. Setelah makanan pesanan mereka datang, Dito mempersilakan Sisil makan.

“Sering-sering aja dong ngasih kejutan kayak gini, aku pasti bahagia banget, sayang.” celoteh Sisil dari tadi tak henti-henti.
“Sisil.”
“Iya?”
Ditto menghentikan makannya dan meletakkan sendok garpunya di atas piring kosong.
“Apa maksudmu menyebutku sebagai tunanganmu kepada seluruh teman-temanmu?” tembak Dito tak sadar. Sisil yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, menghentikan suapannya, dan meletakkan lagi sendok yang berisi makanan itu ke atas piring.
“Kamu keberatan?” Tanya Sisil menyelidik. “Belum pernah ada cowok yang menolakku menjadi kekasihnya, Dit, Setiap kali aku menginginkan cowok itu menjadi kekasihku.”
“Dengan cara seperti ini? Ngga berlaku buatku, Sil.” Tukas Dito cepat. Ia membuang pandangannya ke luar.
“Aku nyaman berada di dekatmu, Dit.” Lirih Sisil pelan. Ia menyingkirkan piring makanannya. Sudah tidak bernafsu untuk mengisi perutnya.
Ditto menggelengkan kepala. “Kamu nyaman dengan semua ini. Tapi aku?” kata Dito pelan. Hamper terdengar seperti bisikan. “Aku ngga pernah nyaman dengan semua ini, Sil.”
“Tapi.”
“Stop, Sil. Kalau kamu ingin aku tetap menjadi teman baikku, bersikaplah sewajarnya.” Potong Dito cepat. Ia kembali meraih garpu dan sendok yang tergeletak di atas piring dan kembali melahap makanannya dengan tenang. Seperti tak pernah terjadi sesuatu. Sampai mereka beranjak pulang, di antara Dito dan Sisil hanya ada hening.

Dalam hati Dito berharap, semoga Sisil tidak bermain-main lagi. Ditto benar-benar tidak nyaman dengan semua perlakuan Sisil terhadapnya. Mulai menggandeng tangan, mencium pipi, bahkan memperkenalkan Dito kepada teman-temannya sebagai tunanga, calon kekasih, atau apalah.

“Aku lihat kalian semakin dekat.” Ujar Dinda membuka pembicaraan ketika menuju ke kantin. Tari yang berada di sampingnya, melangkah pelan seraya mengetik pesan di hapenya.
“Hem… menurutmu seperti itu?” Tari balik bertanya. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang Dinda bicarakan. Pikirannya focus di hapenya, mengetik balasan BBM dari Billy. Hingga sampai di kantin pun, Tari masih focus dengan hapenya. Dinda dibuat kesal oleh tingkah Tari yang cuek padanya.

“Tari!” tegur Dinda keras. Tari gelagapan dan menaruh hapenya. Ia tahu pasti sebentar lagi Dinda akan menyemprotnya jika ia tidak meletakkan hapenya. “Kamu ini. Kebiasaan deh!”

Tari nyengir. “Aku traktir makan deh. Jangan marah ya!” rayu Tari. Ini satu-satunya cara agar Dinda tidak marah padanya.

“Aku nanya, kamu sama Billy sekarang deket banget. Ada niatan buat jadiin dia pacar?” pertanyaan Dinda membuat Tari menhentikan cengirannya. Ia kemudian menunduk. Dadanya berdetak tak karuan.
“Entahlah, Din. Aku bingung dengan perasaanku sendiri.” Sahut Tari akhirnya.
“Bingung gimana?”
“Kamu pasti tahu lah. Di satu sisi, aku kangen Dito. Aku menginginkan Dito. Tapi sekarang, setelah bertemu Billy, aku merasa semua yang ada pada Dito, ada padanya.” Jelas Tari panjang lebar. Ia menyeruput jus jeruk yang sudah dihidangkan oleh penjaga kantin di atas mejanya.
“Ikuti kata hatimu. Biarkan ia bicara dan menentukan pilihannya.” Saran Dinda bijak.
“Aku sudah mencoba, Din. Setelah aku merenung bermalam-malam, seolah-olah hatiku nyuruh buat tetap nungguin Dito.” Kata Tari seraya merebahkan badannya di punggung kursi.
“Nah itu!” celetuk Dinda.
“Tapi, aku pesimis, Din.” Lirih Tari, kali ini ia meletakkan kepalanya di atas meja. Lalu bangkit kembali dan menyipitkan matanya. “Aku ngga yakin Dito juga menungguku di sana. Aku butuh seseorang yang selalu berada di sampingku. Bukan orang yang hidup hanya dalam ilusiku.”
“Kamu belum mencoba, Tar.”
“Selama ini apa aku belum mencoba. Aku sudah menunggunya. Tapi nyatanya, bahkan kita aja ngga tahu di mana keberadaannya sekarang.” Potong Tari cepat.
“Sejujurnya aku punya perasaan ngga bagus tentang kedekatanmu dengan Billy.” Ucapa Dinda pelan seraya mencomot sebuah gorengan yang tersaji. “Tapi aku ngga berharap hal buruk terjadi. Kamu yang bisa nentuin pilihan. Aku harap, apapun yang kamu pilih nanti, nggak akan salah.”

Tari sedikit tenang mendengar penuturan Dinda. Dalam hati Tari kini tumbuh sebuah rasa pengharapan. Ia semakin berharap kepada Billy. Ia berharap tidak hanya sekadar teman. Behkan lebih. Hanya saja, yang Tari khawatirkan sekarang, bahkan Billy tidak pernah menyatakan suka kepadanya. Meski hanya sebatas isyarat. Tapi Tari tidak putus asa. Ia yakin, suatu saat nanti, waktu akan menunjukkan semuanya. Sudah saatnya Tari melupakan Dito walau sulit, untuk membuka hati dan menerima kehadiran pria lain, yang bisa mengisi kekosongan di hati Tari. Meski bukan Dito.