Silent love bagian 20

“Maaf aku telah membohongimu, Dit.” Ujar Rio pelan. Suaranya parau. Terkalahkan oleh deru angin di tebing pantai pandawa. “Aku tidak pernah berencana untuk bertunangan dengan Tari. Dia sudah lama meninggalkanku.”

Ditto menggumam kecil. Dadanya merasa longgar. Ia sedikit girang. Paling tidak, masih ada kesempatan baginya untuk bisa meraih Tari kembali. Hanya saja, tak pantas rasanya jika Dito harus berteriak bahagia di saat seperti ini. Saat Rio yang berada di sampingnya terluka.

“Seminggu yang lalu, aku melihatnya bersama kekasihnya.” Kata Rio masih dengan nada yang tenang. Ditto yang mendengar merasakan bahwa bumi mengguncangkan tubuhnya. “Mereka tampak sangat mesra. Aku mengenal lelakinya dengan nama Billy.”

Selama ini Rio masih sangat berharap bisa mendapatkan Tari kembali. Setiap kali ia mengajak Tari berbicara, Tari selalu menolaknya. Seperti merasa terganggu dengan kehadiran Rio. Rio pedih menemukan kenyataan itu. Tapi pedih itu sebenarnya bisa disembuhkan dengan kehadiran Tari. Hanya saja, Tari tidak pernah menerima kedatangannya. Maka, ia harus rela terluka. Entah sampai kapan.

“Jadi, kau terbang dari Surabaya kemari hanya untuk menyampaikan kabar itu?” Tanya Dito, menoleh ke arah Rio sekilas, lalu membuang lagi pandangannya ke atas permukaan laut. Angin berhembus kencang. Menerbangkan rumput-rumput kering yang sudah terlepas dari akarnya.

“Itu salah satunya, selain juga untuk memanjakan diriku sendiri.” Ucap Rio seraya tertawa kecil. “Aku juga butuh hiburan.”

Ditto yang tadinya merasa menang, kini harus memanen luka kembali. Tari telah bersama yang lain. Dalam hati ia menggumam. Barangkali inilah waktunya untuk melupakan Tari. Mungkin hatinya sudah terlalu lelah untuk menunggu.

“Benar kamu. Kadangkala kita melupakan diri kita yang butuh kebahagiaan. Tidak hanya membahagiakan orang lain.” Sahut Dito. Matanya menerawang jauh. Kata-kata Dito yang terakhir seperti sebuah curahan hatinya sendiri. Lupa dengan hatinya yang terlalu lelah dipaksa menunggu. Ya, mungkin inilah saatnya. Saat yang tepat untuk melupakan Tari. Meski hatinya sangat tak rela.

Tari berkali-kali menghadapkan dirinya ke cermin. Berkali-kali pula ia mengganti bajunya dengan baju-baju yang ia simpan di dalam lemari. Malam ini adalah malam yang special baginya. Sebab, beberapa saat lalu Billy menelponnya dan akan menjemputnya satu jam lagi.

Billy memang seperti itu. Seringkali membuat jadwal mendadak. Tari harus buru-buru dandan karena sebentar lagi Billy akan sampai di rumah.

Seusai dandan, lima belas menit kemudian, benar saja, Billy sudah berada di ruang tamunya, menunggunya keluar dan segera mengajaknya pergi. Setelah pamit kepada mama Tari, mereka berdua itu pun pergi menuju ke sebuah tempat.

“Kamu harus membantuku, Tar.” Kata Billy bersemangat.
Tari mengerutkan keningnya. Jelas saja ia akan membantu apapun yang Billy inginkan. “Bantu apa?” Tanya Tari penasaran.
“Banyakk hal yang harus kamu kerjakan nanti.” Jawab Billy, masih menggantungkan penasaran di kepala Tari.

Sesampainya di sebuah toko perhiasan, Billy menghentikan mobilnya. Tari sedikit tersipu ketika tahu Billy mengajaknya ke sini. Sesaat Tari memang tidak mengerti mengapa Billy menghentikan mobilnya di sini. Tapi, Tari menurut saja ketika Billy menyuruhnya keluar dari mobilnya. Mungkin Billy akan ngasih kejutan. Batin Tari menerka.

Sebuah cincin emas dengan berlian kecil tengahnya, terpasang manis di jemari Tari. Mata Tari berbinar melihatnya. Ia tak menyangka kejutan Billy bisa membuatnya tersipu.

“Cantik.” Ujar Billy membuat wajah Tari bersemu merah.
“Ini pasti cocok untuknya.” Lanjut Billy seraya meraih jemari Tari dan melepas cincin itu dari sana.
“Untuknya?” pertanyaan itu tak sengaja meluncur dari bibir Tari.
“Iya, untuknya. Shelomita. Aku akan melamarnya minggu depan.” Ujar Billy masih memandangi cincin pilihannya untuk shelomita. Seketika jantung Tari seperti pecah. Ada semacam cairan pahit yang merasuk ke dalam tubuhnya dan membuat perutnya tidak enak. Dadanya sesak mendengar penuturan Billy.

Jadi selama ini?

Tari bahkan tidak sanggup mendengar jawaban dari pertanyaan itu. Ia tak menyangka ternyata Billy sama sekali tidak menaruh hati padanya. Bahkan ia sudah memiliki wanita pujaan yang lain. Menyedihkan.

“Makanya kamu harus banyak bantu aku mempersiapkan semuanya.” Kata Billy menepuk bahu Tari dan mengajak wanita itu bangkit untuk segera pergi dari tempat itu. Saat itu juga Tari ingin berlari menjauh dari tempat ini. Tapi tetap tidak bisa. Keadaan harus memaksanya tetap tersenyum. Tepatnya berpura-pura tersenyum di hadapan Billy. Ia tak ingin Billy mengetahui perasaannya. Ia tak ingin mengacaukan kebahagiaan Billy.

“Tentu, aku pasti membantumu.” Jawab Tari berpura-pura tersenyum. Ia tersenyum sedih.
“Kamu memang teman yang baik.”
Hati Tari ngilu.
Ia pilu.
Air matanya hamper saja terjatuh jika ia tak bisa menahannya. Billy bilang, setelah membeli cincin, mereka akan melanjutkan untuk mendatangi salah satu usaha catering. Kenyataan menyakitkan ini bahkan tak pernah terbayang di kepala Tari sama sekali. Hatinya retak-retak. Tak tahu lagi dengan cara apa Tari bisa mengembalikannya seperti semula.