Silent Love Bagian 22

Beberapa menit lagi matahari akan muncul. Sinar merahnya sudah tampak di antara awan-awan. Sungguh memukau. Ini pengalaman pertama Tari bisa menemukan matahari terbit di atas permukaan air laut.

Matahari yang baru muncul di pantai sanur tampak indah. Udara yang dingin perlahan menjadi hangat. Cahaya matahari memantul di atas permukaan air laut. Laksana berlian yang memantulkan sinarnya.

Tari tersenyum tipis. Syal yang ia kenakan tertepa angin laut mengibas rambutnya. Ia melangkahkan kaki dan melepas sandalnya, membiarkannya tergeletak di atas pasir. Kakinya yang telanjang kembali mencicipi dinginnya air laut yang bening. Menyegarkan.

Pandangan Tari menyisir seluruh sudut pantai sanur. Menikmati keindahan alam yang memesona ini. Di atas sebuah dermaga buatan, ia menangkap sosok baying yang sangat familiar. Tari seperti mengenalnya. Sangat mengenalnya. Ia merasa bahwa ayangan itu adalah baying yang berada di sampingnya ketika berada di dermaga tadi.

Ketika hendak Tari sebut namanya, pria itu menoleh terlebih dahulu ke arahnya. Ia tersenyum. Mereka sama-sama tersenyum. Tari menemukannya di sini. Ada sesuatu yang hilang sejak dia pergi.

Kali ini. Detik ini.
Dua muda itu berhadapan. Desah napas di antara mereka saling berbicara. Namun, mulut mereka terdiam.

“Apa kabar?” tanyanya mengawali pertemuan.
“Kamu ngga pernah bilang kalau melarikan diri ke sini.” Kata Tari sembari meninju dadanya seperti dulu.

Ditto merentangkan kedua tangannya. Tari menyambut hangat dengan sebuah pelukan. Betapa ia sangat merindukan pria ini. Pria yang pernah menuai perihnya sakit hati akibat ulahnya sendiri.

“Aku merindukanmu.” Bisik Dito lebut di telinga Tari.
Tari merasa, kehangatan matahari tidak lebih hangat dari pelukannya.
“Aku juga merindukanmu, bodoh.” Bisik Tari di dalam pelukan Dito. Matanya basah. Ia tak sanggup lagi menahan tangis. Pertemuannya dengan Dito pagi ini menjadi mimpinya yang terindah. Benar-benar indah.
“Lakukan apapun yang kamu mau terhadapku. Bunuhlah aku kalau perlu.” Ucap Dito yang kini meletakkan dagunya di atas kepala Tari. Ditto bahagia bisa memluk gadis ini lagi.
“Aku ingin menendangmu karena telah pergi begitu saja!” umpat Tari seraya meninju dada Dito.
“Lakukan apapun, sepuasmu!” suruh Dito lagi.
Setelah berpelukan rapat, Dito teringat sesuatu. “Kudengar, kamu sudah menikah kan?”
“Siapa bilang?” Tanya Tari kaget dan melepas pelukannya.
“Aku hanya sekedar bertanya. Banyak kabar simpang siur datang padaku.”
“Kabar fiktif!” sahut Tari dan kembali memeluk Dito. Rasa rindunya belum cukup diobati hanya dengan pelukan yan sekejap.
“Kudengar, kau juga akan bertunangan, bukan?” Tanya Tari asal. Ia bertanya dengan dusta. Berharap jawaban Dito kali ini bisas menjawab keresahannya pula.
“Tentu, kamu harus datang.” Ucap Dito mantap. Seketika Tari tidak kuasa tidak memasang wajah cemberutnya. Keresahannya memang terjawab. Tapi ia bertambah resah. Apa boleh buat, ia harus menerima. Bukankah, bertemu dengan Dito sudah cukup membuatnya bahagia. Lagi-lagi Tari harus patah hati. Hatinya dipatahkan oleh sahabatnya sendiri.
“Akan kupikirkan datang atau tidak.” Sahut Tari asal.
“Tidak… tidak… kau harus datang. Dandan yang cantik ya.” Ucap Dito seraya mencubit pipi Tari.
“Kamu memaksa lagi.”

Ditto tertawa sesaat, lalu meraih tubuh Tari dan menariknya ke dalam pelukannya. “Kamu harus datang, bukan sebagai undangan. Tapi sebagai calon tunangan.” Bisik Dito lembut di telinga Tari. Tari yang mendengar itu seketika wajahnya bersemu merah. Ia semakin erat memeluk tubuh Dito.

“Benarkah?” Tanya Tari, seraya tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“kamu tahu, cinta selalu rela untuk menunggu.” Bisik Dito lagi.
Tari melepas pelukannya. Ditto merapikan poni Tari yang berantakan tertempa angin.
“Dan kamu, sudah melakukan itu.” Sahut Tari malu-malu. Pagi ini Tari merasa seperti mimpi. Begitu indah.

Tari kembali memluk tubuh Dito rapat. Matahari terus meninggi di belakang mereka.

Tari tidak ingin kehilangan pria ini lagi.

“Aku pikir, aku tidak akan bisa mengulangi semua kisah tentang persahabatan kita.” Kata Tari seraya memainkan kancing baju Dito.
Ditto hanya tersenyum.
“Persahabatan kita akan tetap abadi. Bukan dalam ikatan pertemanan, melainkan ikatan pernikahan.”

Waktu boleh menyiksa mereka dengan berbagai cobaan yang tak terduga. Tapi waktu tak pernah ingkar janji. Ia selalu menghadirkan kebahagiaan, setelah masa-masa sulit terlewati.

TAMAT